Tuesday, October 28, 2008

Bisnis yang Menyelamatkan Lingkungan

Bisnis yang Menyelamatkan Lingkungan
Jalal, Lingkar Studi CSR (Corporate Social Responsibility)

Majalah Time lagi-lagi berhasil menimbulkan harapan besar di seluruh dunia. Dalam edisi minggu pertama Oktober yang baru saja terbit, kembali mereka menampilkan para pahlawan lingkungan (Heroes of the Environment). Seperti biasanya, ada banyak kabar tentang inovasi bisnis yang sangat bermanfaat untuk kelestarian lingkungan di antara kabar menggembirakan lainnya. Cerita-cerita di situ menegaskan bahwa keberlanjutan dan keuntungan bisa bergandeng tangan. Dan sebenarnya memang harus begitu.

Cerita pertama berkisah tentang Jean Francois dan Jean-Charles Decaux, kakak-beradik yang membuat Paris berubah wajah. Mereka mengubah wajah Paris--dan akan segera disusul di banyak kota lain di Eropa--menjadi lebih ramah lingkungan. Caranya? Mereka mendirikan Velib, sebuah perusahaan dengan salah satu unit bisnis rental sepeda, yang memungkinkan orang berkendaraan dengan sepeda ke mana pun mereka pergi di dalam kota dengan biaya hanya US$ 40 per tahun. Tentu saja ini harga yang sangat murah untuk ukuran kantong orang Eropa, sehingga dalam setahun sudah tercatat ada 200 ribu pendaftar. Jadi, dari Paris saja sudah dipastikan ada pemasukan US$ 8 juta dalam setahun. Kalau di akhir 2008 ini mereka benar-benar berhasil membuat rental sepeda Velib beroperasi di 49 kota, tempat penyewaan sepeda jelaslah merupakan bisnis yang sangat besar. Jelas ratusan juta dolar ukurannya. Jelas pula tonase karbon yang bisa dihilangkan dari atmosfer setiap tahun lantaran penggunaan kendaraan bermotor bisa dihemat.

Usahawan Belgia, Mick Bremans, dan perusahaannya, Ecover, menjadi cerita kedua. Sabun dan detergen yang wangi sudah lama menjadi bisnis yang kotor. Di dalamnya banyak terkandung unsur-unsur kimiawi yang tak ramah lingkungan, diproduksi dengan mesin-mesin yang lapar energi, dan biasanya dibungkus dengan plastik yang akan terus-menerus berada di Bumi hingga ribuan tahun setelah dibuang. Bremans bermaksud menyelesaikan semua masalah itu. Ia membuat sabun dan detergen yang sepenuhnya berasal dari bahan-bahan alami yang tidak berbahaya untuk lingkungan. Produknya jelas tak mengandung fosfat dan klorin. Selain itu, ia menggunakan mesin-mesin yang efisiensi energinya tertinggi di antara yang ada sekarang. Pembungkusnya bisa didaur ulang, juga bisa diisi ulang. Salah satu pelanggannya telah menggunakan pembungkus yang sama lebih dari sepuluh tahun! Dari upaya hijaunya itu, ia menangguk pendapatan US$ 93 juta pada 2007, dan untung US$ 15 juta. Benar-benar bisnis yang harum.

John Doerr dan visi bisnisnya jadi cerita ketiga. Ia menjadi sangat makmur karena ketika Amazon.com dan Google baru saja lahir, ia sudah berada di sisi mereka. Memberikan "susu" kepada dua bayi teknologi informasi yang segera menjadi raksasa tentu saja merupakan keputusan bisnis yang bijak. Kedua bayi membalas budi baiknya, dan segera pula ia menjadi kaya luar biasa. Apa yang kemudian ia lakukan dengan kekayaannya merupakan cerita yang lebih dahsyat lagi. Ia tahu persis bahwa tantangan bisnis dalam menyelamatkan lingkungan jauh lebih berat ketimbang bisnis teknologi informasi. Real world selalu lebih kompleks dibanding virtual world, menurut dia. Ia kemudian "bertaruh" di teknologi-teknologi yang diperlukan untuk menyelamatkan atmosfer: pembangkit listrik tenaga matahari, sel surya yang murah meriah, mobil hibrida berkinerja tinggi, etanol yang diambil dari berbagai jenis tumbuhan yang tak bisa dimakan (agar tak bentrok dengan keperluan pangan manusia), serta fermentasi yang menghasilkan bahan bakar sebaik BBM. Al Gore, sang panglima dalam perang menghadapi pemanasan global, ia jadikan partner dalam perusahaannya, dan dia masuk ke perusahaan Al Gore Generation Investment Management yang juga mengelola investasi hijau. Alasannya sungguh mulia dan sederhana. Ia punya seorang anak perempuan, dan ia tak rela anaknya itu berada dalam dunia yang panas dan penuh bencana. Dan, sambil menyelamatkan anak perempuannya, ia kembali mendapat untung jutaan dolar.

Cerita keempat datang dari Peter Head dan biro konsultan rekayasanya, Arup. Tumbuhnya kota-kota adalah keniscayaan. Tampaknya manusia memang memiliki kecenderungan untuk lebih menyukai kehidupan kota yang serba mudah. Berbagai fasilitas yang disediakan kota demi kemudahan hidup tidaklah menimbulkan masalah, selama fasilitas itu tidak membebani lingkungan lebih dari daya dukungnya. Tapi, menurut Head, masalahnya persis ada di situ. Alat transportasi yang disediakan kota-kota menggunakan energi yang luar biasa besar, dan juga menimbulkan polusi yang parah. Perkantoran maupun perumahan juga menggunakan energi yang tidak efisien, dan menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Karena itu, hanya apabila pertumbuhan kota dikawal oleh berbagai teknologi ramah lingkungan sajalah dunia ini punya masa depan. Head sedang menciptakan sebuah kota ramah lingkungan, Dongtan, Cina. Seluruh gedung dan transportasi akan dipasok dengan energi dari sumber-sumber terbarukan, seluruh sampah akan didaur ulang, dan tanah-tanah pertaniannya akan menghasilkan produk organik. Di situ, pejalan kaki dan pengendara sepeda akan mendapat prioritas tertinggi, sehingga berbagai tujuan utama seperti sekolah dan rumah sakit akan ditempatkan supaya bisa dijangkau dengan cepat. Karena terpukau oleh rancangan Dongtan, kini London dan Azerbaijan meminta Head dan timnya membuatkan master plan untuk mereka. Pundi-pundi Head pun bertambah besar, sementara kota-kota bisa lebih layak huni.

Peggy Liu, satu-satunya perempuan dalam daftar tahun ini, mengisi ruang cerita kelima. Lulusan MIT ini begitu terpukau mendengar Susan Hockfield, yang baru diangkat menjadi rektor institut teknologi paling terkenal sejagat itu, menyatakan bahwa upaya mengatasi pemanasan global tidak akan menunjukkan hasil yang memadai jika Cina tidak ikut serta dan negara-negara maju tidak membantu Cina. Ia bergegas pulang dan membangun Joint US-China Cooperation on Clean Energy (JUCCCE). Pertumbuhan ekonomi Cina yang sangat pesat diperkirakan akan menyebabkan berdirinya 50 ribu gedung pencakar langit baru hingga tahun 2030. Bayangkan kalau sejumlah gedung itu dibuat dengan teknologi ramah lingkungan, berapa banyak konsumsi energi dan emisi yang bisa dikurangi. Tentu saja, menjadi konsultan bagi pengembang gedung-gedung yang berkomitmen menghemat energi adalah bisnis yang sangat menguntungkan.

Cerita terakhir datang dari Israel. Shai Agassi adalah bocah ajaib di dunia perangkat lunak teknologi informasi. SAP, salah satu raksasa perangkat lunak, telah menawarkan posisi yang sangat menggiurkan buat kebanyakan orang. Namun, ia menolak tawaran itu dan memilih membangun Project Better Place. Proyek tersebut di permukaan tampak dimaksudkan untuk menghasilkan 5.000 mobil listrik pada 2011. Sebetulnya, jauh di atas itu, tujuannya adalah memutus ketergantungan pada minyak sekaligus membuat moda transportasi yang tidak menghasilkan emisi karbon sama sekali. Hebatnya lagi, biaya transportasi ramah lingkungan itu ia buat lebih 20 persen dibanding transportasi tradisional dengan bahan bakar fosil. Renault dan Morgan Stanley kini mendukungnya, dan tak diragukan lagi Agassi akan menjadi orang yang sangat kaya karena proyek itu.

Jelas sekali bahwa upaya-upaya serius mengatasi pemanasan global telah menjadi bisnis yang besar. Keenam pahlawan lingkungan itu telah berhasil mewujudkan "Green to Gold"--meminjam istilah pakar manajemen lingkungan Daniel Esty dan Andrew Winston (2006), yakni menjadikan perhatian kepada lingkungan sebagai bisnis yang menguntungkan. Kita membutuhkan cerita-cerita sukses seperti di atas. Nasib dunia sangat bergantung pada apakah kita memutuskan untuk bekerja keras bersama para pahlawan itu, mengubah bisnis menjadi mitra bagi lingkungan, atau tetap membiarkan bisnis merusaknya seakan-akan tidak ada krisis lingkungan yang sangat parah di hadapan kita. *

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/10/23/Opini/krn.20081023.145692.id.html