Friday, October 17, 2008

Pentingnya Dokter Gigi Identifikasi Korban Bencana Massal

Kamis, 16 Oktober 2008 | 17:16 WIB
SURABAYA, KAMIS - Dokter gigi berperan penting dalam mengidentifikasi korban bencana (disaster victim identification atau DVI), termasuk tokoh utama terorisme di Indonesia, DR Azahari.

Hal itu dikemukakan drg Wieke Lutviandari DFM (Divisi Odontologi Forensik Instalasi Kedokteran Forensik/Medikiolegal RSUD dr Soetomo Surabaya) dalam sebuah seminar di Surabaya.

Pembicara lain adalah Kompol drg Waloejo Noegroho SpPros (Biddokkes Polda Jatim/RS Bhayangkara), dan DR drg Agung Sosiawan M.Kes (Humas Genetic Department, Institute of Tropical Disease Unair).

Dalam seminar bertajuk "Continuing Professional Development (CPD)" di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu, drg Wieke Lutviandari menyatakan ilmu kedokteran gigi mulai berperan membantu proses identifikasi korban bencana massal sejak 1981.

"Itu terjadi saat tenggelamnya kapal penumpang Tampomas II di perairan Masalembo, Sulsel pada 1981, kemudian berlanjut pada bencana terorisme," katanya.

Bencana terorisme dimaksud antara lain Bom Bali I (2002), peledakan Hotel JW Marriott (2003), bom di depan Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), identifikasi tokoh teroris Dr Azahari (2005), dan kasus lainnya.

"Peran penting itu semakin menonjol karena Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana, terutama bencana letusan gunung berapi, tsunami, gempa, dan bencana alam lainnya," katanya.

Umumnya, korban membutuhkan keahlian dokter gigi forensik, karena korban hangus terbakar dan mengalami pembusukan tingkat lanjut yang sulit untuk dikenali serta tidak dapat dilakukan identifikasi melalui
pemeriksaan konvensional.

"Berdasarkan pengalaman di lapangan, identifikasi korban meninggal massal melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas seseorang," katanya.

Dalam kesempatan itu, drg Wieke menunjuk contoh pada kasus Bom Bali I yang mampu mengidentifikasi korban berdasarkan gigi-geligi hingga 56 persen.

"Untuk korban kecelakaan lalu lintas di Situbondo hingga 60 persen, sedang korban jatuhnya Pesawat Garuda di Yogyakarta mencapai 66,7 persen," katanya.

Menurut dia, identifikasi itu penting untuk perwujudan HAM, menentukan seseorang secara hukum, dan juga berkaitan dengan bidang santunan, warisan, asuransi, pensiun, maupun untuk menikah kembali bagi pasangan yang ditinggalkan.

"Identifikasi tersebut dapat dilakukan melalui visual, gigi-geligi, pemeriksaan medis, antropomeri, sidik jari, dan DNA," katanya.

Mengapa gigi? "Gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisi bahan organik dan airnya sedikit sekali, dan sebagian besar terdiri dari bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak," katanya.

Kemungkinan dua adalah orang identik data gigi dan mulutnya adalah satu berbanding dua miliar penduduk dengan asumsi jumlah penduduk tiga miliar.

"Bahkan, dari gigi geligi, kita dapat memperoleh informasi tentang umur, ras, jenis kelamin, golongan darah, ciri-ciri khas, dan bentuk wajah atau raut muka korban," katanya.

Pembicara lain, Kompol drg Waloejo Noegroho SpPros merinci identifikasi terhadap gigi geligi korban massal secara teknis, sedangkan DR drg Agung Sosiawan M.Kes merinci aplikasi forensik molekuler pada bencana massal.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/16/17160050/pentingnya.dokter.gigi.identifikasi.korban.bencana.massal