Monday, October 20, 2008

Kumpulan Artikel Tentang ASI

ASI EKSKLUSIF, BIKIN ANAK CERDAS DAN MANDIRI

Ternyata, memberi ASI bukan sekadar membuat kenyang bayi. Nutrien khususnya membantu otak berkembang optimal. Sementara suasana yang diciptakan akan membentuk anak jadi pribadi yang tangguh.
Anak sehat, cerdas, dan berkepribadian baik memang dambaan setiap orang tua. Salah satu langkah awal penting untuk mewujudkannya adalah pemberian makanan pertama dengan kualitas dan kuantitas optimal. Soalnya gangguan gizi pada masa bayi dapat menghambat pertumbuhan otak, yang tentu berpengaruh pada perkembangan kecerdasan bayi. Fakta-fakta ilmiah membuktikan, bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas bila diberi air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada 4 - 6 bulan pertama kehidupannya.
"ASI eksklusif, lebih tepat disebut pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya ASI yang diberikan pada bayi," tutur dr. Utami Roesli SpA.MBA. Bayi tak mendapat tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, juga tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, tim.

Siasati faktor lingkungan
Ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan. Yang pertama adalah faktor genetik atau bawaan dari orang tua. Faktor lain adalah lingkungan. Faktor ini akan menunjang apakah faktor genetik bisa berkembang optimal. Berbeda dengan faktor genetik yang tidak dapat direkayasa, faktor lingkungan punya banyak sisi yang dapat dimanipulasi.
Secara garis besar ada tiga jenis faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan. Di antaranya pertumbuhan fisik biomedis otak. Untuk ini, nutrisi berperan sangat penting. Makanan dengan kualitas kadar gizi dan kuantitas yang optimal akan mendukung pertumbuhan otak yang optimal pula.
Selanjutnya, pertumbuhan emosi dan sosial yang mengutamakan pemberian kasih sayang pada anak. Anak yang merasa disayangi akan mudah menyayangi lingkungan. Ia pun mudah bersosialisasi serta menjalin hubungan yang memuaskan.
Kebutuhan lain adalah stimulasi atau rangsangan sejak dini, bahkan sejak janin dalam kandungan. Para ahli membuktikan, dengan pemberian stimulasi terus-menerus sampai dua tahun, IQ anak pada usia 4 - 5 tahun dapat ditingkatkan 15 - 30 poin.

Lompatan Pertumbuhan Otak
Kata cerdas selalu segera diasosiasikan dengan otak. Otak, salah satu organ paling penting dalam tubuh manusia, tumbuh sangat cepat selama kehamilan. Otak bayi terbentuk segera setelah pembuahan. Otak bayi lahir telah mencapai pertumbuhan 25% dari otak dewasa, dan mengandung 100 miliar sel otak (neuron), kira-kira sebanyak bintang di Bima Sakti.
Di usia setahun, pertumbuhannya mencapai 70% dari otak dewasa, selain itu 70 - 85% neuron yang ada sudah terbentuk secara lengkap. Di usia tiga tahun, otak anak telah sebesar 90% otak dewasa.
Pada periode sejak terjadi konsepsi sampai bayi berusia setahun terjadi pertumbuhan otak yang cepat yang dinamai Periode Lompatan Pertumbuhan Otak atau Periode Pertumbuhan Otak Cepat (Brain Growth Spurt). Pada periode ini neuron sangat peka dan sangat dipengaruhi oleh situasi lingkungan. Maka periode ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kecerdasan anak.
Pertumbuhan otak terbagi atas dua stadium. Stadium pertama adalah stadium pembentukan neuron, sedangkan stadium kedua adalah stadium pembesaran dan pematangan neuron.
Para pakar membuktikan, segera setelah terjadi pembuahan, mekanisme pembentukan neuron bekerja sangat cepat untuk menghasilkan neuron berjumlah ratusan miliar. Pembentukan ini hanya berlangsung sampai usia kehamilan 5 bulan, setelah itu neuron tak terbentuk lagi. Bila gizi ibu hamil baik, di akhir stadium pertama akan terbentuk neuron muda yang sangat banyak.
Setelah itu, pertumbuhan otak hanya mencakup pembesaran neuron yang sudah terbentuk agar lebih lengkap dan kompleks. Cabang-cabang neuron, dendrit dan axon, akan bertambah jumlah dan panjangnya. Selain itu, terjadi penambahan hubungan antarsel. Di fase ini dengan sangat cepat pula terjadi proses myelinisasi, atau proses pembalutan neuron oleh myelin agar tidak terjadi arus pendek.
Gizi bayi yang baik dapat mempercepat pembentukan myelinisasi, apalagi bila disertai rangsangan. Makin banyak rangsangan yang didapat, akan makin banyak pula cabang neuron yang terbentuk. Maka, komunikasi antar sel-sel otak juga akan baik. Rangsangan pada panca indra janin sangat baik untuk menjaga agar otak tetap dapat tumbuh.

Nutrien khusus hanya dalam ASI
Mengingat perkembangan kecerdasan anak berkaitan erat dengan pertumbuhan otak, maka faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan otak bayi adalah nutrisi atau gizi yang diberikan. Terlebih pemberian nutrisi pada Periode Lompatan Pertumbuhan Otak. Periode ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena kesempatan macam ini tak akan terulang lagi selama masa tumbuh kembang anak.
Usahakan bayi dapat menerima nutrisi dengan kualitas dan kuantitas optimal untuk pertumbuhan otaknya. Kekurangan gizi pada Periode Lompatan Pertumbuhan Otak akan menghambat atau mengganggu pertumbuhan otak, yang berakibat akan kurang optimalnya perkembangan kecerdasan anak. Bayi yang menderita kurang gizi berat di masa pertumbuhan otak ini akan mengalami berkurangnya jumlah sel otak sebanyak 15 - 20%.
Namun syukurlah, alam telah membekali manusia dengan "obat" pencegah gangguan gizi pada periode ini, yaitu ASI. Pemberian ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 4 - 6 bulan akan menjamin tercapainya pertumbuhan otak secara optimal. Alhasil, pengembangan potensi kecerdasan anak jadi optimal pula.
Selain nutrien ideal dengan komposisi yang tepat dan sesuai kebutuhan bayi, ASI juga mengandung nutrien-nutrien yang perlu untuk otak bayi agar tumbuh optimal.
Beberapa nutrien untuk pertumbuhan otak bayi di antaranya taurin, yaitu suatu bentuk zat putih telur khusus, laktosa atau hidrat arang utama dari ASI, dan asam lemak ikatan panjang - antara lain DHA dan AA yang merupakan asam lemak utama dari ASI. Pada susu sapi nutrien-nutrien khusus itu tidak ditemukan - misalnya taurin -, kalaupun ada hanya sedikit sekali, seperti laktosa dan asam lemak ikatan panjang.
ASI pun bermanfaat meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Sebenarnya bayi sudah dibekali immunoglobulin (zat kekebalan tubuh) yang didapat dari ibunya melalui plasenta. Tapi, segera setelah bayi lahir kadar zat ini akan turun cepat sekali. Tubuh bayi baru memproduksi immunoglobulin dalam jumlah yang cukup pada usia 3 - 4 bulan. Saat kadar immunoglubolin bawaan menurun, sementara produksi sendiri belum mencukupi, bisa muncul kesenjangan immunoglobulin pada bayi.
Di sinilah ASI berperan. Ia bisa menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesenjangan yang mungkin timbul. ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang mampu melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, dan jamur. Bahkan Colostrum (cairan pertama yang mendahului ASI) mengandung zat immunoglobulin 10 - 17 kali lebih banyak dari ASI!
Fakta membuktikan, angka kematian dan angka terkena penyakit bayi penerima ASI-eksklusif jauh lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI-eksklusif.
Wajar bila anak yang sehat akan lebih berkembang kepandaiannya daripada anak yang sering sakit, apalagi bila sakitnya berat.

Memberikan rasa aman
Proses pemberian ASI eksklusif ternyata juga memenuhi kebutuhan awal kasih sayang dan emosi pada bayi.
Bayangkanlah bila Anda seorang janin dalam rahim. Anda merasa aman, terlindungi, dan hangat, dalam ruang gerak terbatas didekap oleh dinding rahim (skin to skin contact), serta dibelai oleh hangatnya cairan ketuban. Belum lagi terdengar dendang bunyi detak jantung serta gerakan pernapasan ibu yang ritmis menenangkan.
Tiba-tiba Anda "terlempar" ke ruangan tanpa batas gerak, dingin, tanpa belaian dan dekapan ibu. Di dunia yang dingin ini, seketika lenyap pula bunyi detak jantung serta gerakan pernapasan ibu, digantikan oleh suara dan bunyi hiruk pikuk.
Perubahan suasana yang tak menyenangkan itu tidak akan berlarut-larut menghantui bayi, bila ia mendapat ASI secara eksklusif. Ia akan sering dalam dekapan ibu saat menyusu, mendengar detak jantung ibu, dan gerakan pernapasan ibu yang telah dikenalnya. Ia juga akan sering merasakan situasi seperti saat dalam kandungan: terlindung, aman dan tenteram.
"Untuk mencapai kondisi itu kini di Barat mulai dilakukan metode menempatkan ibu seranjang dengan bayinya, seperti cara 'kelonan' masyarakat kita,"
Jalinan kasih sayang yang baik adalah landasan terciptanya keadaan yang disebut secure attachment. Anak yang tumbuh dalam suasana aman akan menjadi anak yang berkepribadian tangguh, percaya diri, mandiri, peduli lingkungan dan pandai menempatkan diri.
Pemberian ASI secara eksklusif juga memenuhi kebutuhan awal stimulasi. Saat menyusui umumnya ibu-ibu akan membelai, bicara, bernyanyi pada si bayi. Lirik lagu akan merangsang otak bagian kiri sedangkan melodinya akan merangsang otak sebelah kanan. Belum lagi sentuhan dan usapan tangan ibu. Inilah stimulasi awal bagi anak. Para ahli membuktikan, bayi yang mendapat ASI eksklusif mempunyai perbendaharaan kata-kata yang secara bermakna lebih banyak.
Hasil penelitian terhadap 1.000 bayi prematur membuktikan, bayi-bayi prematur yang mendapat ASI eksklusif mempunyai IQ lebih tinggi secara bermakna yaitu 8,3 poin lebih tinggi.
Sementara penelitian Dr. Riva dkk. menunjukkan anak-anak usia 9,5 tahun yang ketika bayi mendapat ASI eksklusif, ditemukan memiliki IQ mencapai 12,9 poin lebih tinggi.

Ayah pun mengganti popok
Namun memberikan ASI ekslusif memang memerlukan tekad kuat seorang ibu. Muasalnya, kemampuan ibu untuk menyusui sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi. Keadaan tegang dan depresif akan berakibat turunnya refleks penyaluran susu, yaitu refleks yang bertugas mengalirkan ASI dari pabrik susu (mammary alveolus) ke gudang susu (sinus lactiferous). Maka, bayi bisa kelaparan kekurangan ASI.
Sebaliknya kondisi tenang akan berpengaruh positif bagi produksi ASI. "Di sinilah pentingnya dukungan suami, terutama dalam menghadapi pihak-pihak yang dapat melemahkan semangat ibu dalam upaya pemberian ASI eksklusif," tutur Dr.Utami yang aktif mengkampanyekan pemberian ASI ekslusif.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang ayah. Di antaranya menunjukkan pada si ibu persetujuan dan kegembiraannya akan pilihan untuk memberikan ASI eksklusif, atau menunjukkan pada semua orang ia sangat mendukung upaya pemberian ASI. Dukungan praktis lainnya seperti membantu ibu merawat bayi, apakah mengganti popok, mensendawakan bayi setelah selesai menyusu, menggendong, memandikan, memijat bayi secara teratur, atau memberi ASI perah pada si bayi bila ibu bekerja.
Ibu bekerja pun tidak perlu berhenti memberi ASI secara eksklusif selama sedikitnya 4 bulan, kalau bisa 5 bulan, meski cuti hamil cuma 3 bulan. Selama ibu tidak di rumah, bayi mendapat ASI perah yang telah diperah sehari sebelumnya. ASI perah tahan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau lemari es. Dengan penanganan yang benar tak ada beda antara kualitas maupun kuantitas ASI dari ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja.
"Tapi, ia harus tahu cara yang benar dalam mengosongkan payudara. Bagi yang kesulitan memproduksi ASI, harus dicari pokok penyebabnya, karena masalah-masalah itu selalu bisa dicari jalan keluarnya," tutur dokter sambil menunjukkan foto pasiennya yang meski berbadan mungil namun sangat berlimpah produksi ASI-nya. Ia menambahkan, di antara sejumlah wanita yang mengaku tak bisa memproduksi ASI sebenarnya hanya sebagian kecil yang benar-benar mengalami masalah serius. Sementara pada sebagian besar lainnya masalah itu teratasi dengan informasi tentang teknik menyusui yang benar dan faktor-faktor penyebab terhambatnya produksi ASI.
Maka tempat ibu bekerja mutlak memberikan kemudahan, misalnya dengan memberikan sarana ruangan untuk memerah ASI, dan izin waktu untuk dapat memerah ASI. Tempat kerja yang memberi kemungkinan bagi karyawatinya untuk dapat berhasil menyusui secara eksklusif disebut Tempat Kerja Sayang Ibu.
Pemberian ASI, terutama eksklusif, tidak hanya bermanfaat bagi bayi, tapi juga ibu, ayah, perusahaan tempat ibu bekerja dan bagi bangsa. (*/Sht)

-------------------------------------------------------------------------------------------------
(Artikelnya dari Kompas)

DORONG ASI EKSKLUSIF
Jakarta, Kompas - Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif di negara berkembang perlu didorong terus, karena ada kecenderungan memberi susu formula. Padahal, di negara maju justru para ibu kembali ke pemberian ASI eksklusif.
Demikian Menteri Kesehatan Achmad Sujudi pada seminar terkait Pekan ASI sedunia di Jakarta, Kamis (19/8).
Hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002 menunjukkan, bayi Indonesia rata-rata hanya mendapat ASI eksklusif sampai usia 1,6 bulan saja. Bayi yang mendapat ASI eksklusif sampai umur 4-5 bulan hanya 14 persen.
Peringatan Pekan ASI juga diisi pemberian penghargaan bagi peserta lomba bayi ASI eksklusif dan pemenang lomba pembuatan logo ASI eksklusif. Perempuan yang memberi ASI eksklusif juga menceritakan pengalamannya. Hadir Menteri Pemberdayaan Perempuan Sri Redjeki Sumaryoto dan Kepala Perwakilan Unicef di Indonesia, Steven Allen.
Menurut Steven Allen, ASI bukanlah sekadar makanan tetapi penyelamat kehidupan. “Setiap tahun lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan lebih dari 1,3 juta bayi di seluruh dunia dapat diselamatkan dengan pemberian ASI eksklusif,” katanya dalam siaran pers Unicef.
Kajian WHO atas lebih dari 3.000 penelitian menunjukkan, pemberian ASI selama enam bulan adalah jangka waktu paling optimal untuk pemberian ASI eksklusif. ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi untuk bertahan hidup pada enam bulan pertama, mulai dari hormon, antibodi, faktor kekebalan, sampai antioksidan.
Unicef menambahkan, bila dalam dua bulan pertama kehidupannya bayi tidak mendapat ASI eksklusif, maka 25 mereka berisiko meninggal 25 kali lebih besar akibat diare dan berisiko meninggal karena pneumonia empat kali lebih besar dibanding bayi dengan ASI eksklusif. Saat menjadi dewasa, bayi tanpa ASI eksklusif juga berisiko kegemukan, gangguan jantung maupun pencernaan.
Semula Pemerintah Indonesia menganjurkan para ibu menyusui bayinya hingga usia empat bulan. Namun, sejalan dengan hasil kajian WHO di atas, Menkes lewat Kepmen No 450/2004 menganjurkan perpanjangan pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan. (TRI)
Source: kompas.co.id
-----------------------------------------------------------------------------------

PEMBERIAN ASI SECARA DINI DAN EKSKLUSIF


Segera memberikan ASI secara dini dan eksklusif (yaitu memberikan hanya kolostrum dan ASI) mempunyai efek terhadap keberhasilan kelangsungan pemberian ASI dalam jangka panjang. Memberikan ASI segera setelah persalinan juga menunjukkan perlindungan pada bayi baru lahir terhadap infeksi dan pengaturan suhu tubuh (van den Bosch dan Bullough, 1990).
Suatu studi mutakhir juga menyarankan pemberian ASI secara dini dan eksklusif yang akan memberikan proteksi dan menurunkan risiko terhadap terjadinya diabetes mellitus pada masa kanak-kanak (Karjalainen, Martin dkk., 1992). Peneliti studi ini mengatakan bahwa pemaparan terhadap salah satu zat tertentu dalam susu sapi mungkin bertindak sebagai pencetus yang mempengaruhi produksi insulin.
Pemberian ASI secara dini dan eksklusif sekurang-kurangnya 4-6 bulan akan membantu mencegah berbagai penyakit anak, termasuk gangguan lambung dan saluran nafas, terutama asma pada anak-anak (Machtinger and Moss, 1986). Hal ini disebabkan adanya antibodi penting yang ada dalam kolostrum dan ASI (dalam jumlah yang lebih sedikit), akan melindungi bayi baru lahir dan mencegah timbulnya alergi. Untuk alasan tersebut, semua bayi baru lahir harus mendapatkan kolostrum.
Di beberapa negara Asia Tenggara, ada praktek-praktek tradisional yang tidak mendukung pemberian kolostrum. Juga terjadi beberapa praktek tradisional yang membubuhkan kepala susu dan bahan manis pada mulut bayi baru lahir pada saat/segera setelah dilahirkan atau pada masa neonatal terbukti merugikan kesehatan bayi baru lahir. Praktek-praktek tersebut akan mengurangi/menghilangkan keuntungan pemberian ASI eksklusif. Untuk mengurangi praktek-praktek yang berbahaya ini bidan harus membina hubungan baik dengan ibu dan anggota masyarakat lainnya. Yang paling penting adalah memastikan bahwa para tokoh masyarakat memahami keuntungan pemberian ASI secara dini dan eksklusif, terutama manfaat dari pemberian kolostrum. Dengan cara ini tokoh masyarakat diharapkan dapat merubah praktek-praktek yang dapat menghambat pemberian kolostrum bagi bayi baru lahir dan pemberian ASI eksklusif.
Saat ini banyak penelitian yang menunjukkan keuntungan pemberian ASI secara dini dan eksklusif sekurang-kurangnya untuk 4-6 bulan pertama. Bidan seharusnya mengetahui tentang Rumah Sakit Sayang Bayi yang diprakarsai oleh WHO-UNICEF dengan sepuluh langkah menuju keberhasilan pemberian ASI. Semua bidan hendaknya memiliki bahan tersebut yang telah tersedia di setiap negara anggota ASEAN. Buku Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding: The Special Role of Maternity Services dari WHO - UNICEF (1989) sangat berguna untuk menunjang keberhasilan pemberian ASI secara dini dan ekslusif.
Bidan perlu diingatkan bahwa pemberian ASI eksklusif berarti tidak memberikan apapun melalui mulut bayi baru lahir selain kolostrum dan ASI sampai bayi siap untuk disapih.
Secara ringkas penelitian menunjukkan :
Pemberian ASI dini dan eksklusif memiliki banyak keuntungan, penting untuk memberikan kolostrum.
Pemberian ASI dini dan eksklusif mendukung keberhasilan dalam memulai pemberian ASI.
Pemberian ASI dini dan eksklusif untuk 4-6 bulan akan melindungi bayi baru lahir dari berbagai penyakit anak, terutama alergi dan gangguan pencernaaan.
Pemberian ASI dini dan eksklusif dapat mencegah hipotermi pada bayi baru lahir.
Pemberian ASI dini dan eksklusif berarti mempertahankan pemberian ASI saja sekurang-kurangnya selama 4-6 bulan.
Pemberian ASI dini dan eksklusif akan membantu mencegah infeksi.

Daftar Rujukan Pustaka:
Karjalainen J, Martin J, Knip M dkk. (1992) A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin dependent diabetes mellitus. N Engl J Med 1992; 327(5): 302-307
Machtinger S, Moss R (1986) Cow’s milk allergy in breast-fed infants: The role of allergen and maternal secretory IgA antibody. J Allergy Clin Immunol 1986; 77: 341 - 347.
van den Bosh CA, Bullough CH (11990) Effects of early sucking on term neonates core body temperature. Ann Trop Paediatr 1990; 10(4): 347 - 353.
World Health Organisation / UNICEF (1989) Protecting, promoting and supports breast - feeding: the special role of maternity services. Geneva: World Health Organization.


DEPKES : JUMLAH BALITA KURANG GIZI TERUS MENINGKAT

JAKARTA--MIOL : Departemen Kesehatan (Depkes) mencatat jumlah balita (anak usia di bawah lima tahun) yang memiliki gizi kurang meningkat dari 17,1 persen pada 2000 menjadi 19,3 persen pada 2002.
"Balita yang memiliki gizi buruk meningkat dari 7,5 persen pada 2000 menjadi 8,0 persen pada 2002," kata Direktur Gizi Masyarakat Depkes Dr Rachmi Untoro, di Jakarta, Minggu.
Dengan demikian, jumlah balita kurang gizi (gizi kurang ditambah gizi buruk) meningkat dari 24,6 persen pada 2000 menjadi 27,3 persen dari lebih kurang 20 juta anak balita pada 2002.
Menurut Rachmi Untoro, peningkatan balita kurang gizi karena perilaku gizi masyarakat seperti tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi usia 0-6 bulan, tidak memberikan makanan dengan gizi yang seimbang.
"Memberikan air susu ibu (ASI) dilanjutkan setelah usia bayi enam bulan ke atas ditambah makanan pendamping (MP-ASI) sampai berumur dua tahun merupakan perilaku gizi yang terbaik pada awal kehidupan anak," katanya.
Bayi yang yang kurang gizi atau tidak mendapatkan ASI secara ekskluif pada usia 0-6 bulan akan terganggu perkembangan mental, tidak memiliki daya tahan tubuh yang prima serta berisiko terkena penyakit kronis saat dewasa.
Menkes melalui Kepmenkes No.450/Menkes/SK/IV/2004 menetapkan bahwa pemberian ASI secara eksklusif di Indonesia dari bayi lahir sampai berumur enam bulan untuk meningkatan status guzi bayi.
Selain itu, Kepmenkes No.237/Menkes/SK/V/1997 diperkuat PP.No.69/1999 tentang label dan iklan pangan bahwa pangan bagi bayi 0-12 bulan dilarang diiklankan di media massa, termasuk susu formula pengganti ASI. (Ant/O-1)
-----------------------------------------------------------------------------------
6. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1090832596,81155, (ini bukti bahwa program asi eksklusif 6 bulan ternyata udah dimulai sejak tahun lalu kan)


KEPMENKES NO 450/2004 HARUS DIUBAH JADI PP

Selasa, 27 Juli, 2004 oleh: Siswono
Kepmenkes No 450/2004 Harus Diubah Jadi PP

Gizi.net - Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No 450 tahun 2004 mengenai pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pada bayi di Indonesia dinilai tidak efektif mendorong kampanye penggunaan ASI. Karena itu, Kepmenkes tersebut diharapkan dapat ditingkatkan menjadi peraturan pemerintah (PP).
Demikian salah satu kesimpulan acara Executive Forum Media Indonesia yang bertajuk Pelaksanaan Hukum ASI Eksklusif di kantor Media, kemarin.
Forum yang diisi dialog interaktif itu dipandu Pemimpin Redaksi Media Indonesia Andi Noya dan Agus Pambagio dari Visi Anak Bangsa. Hadir dalam diskusi interaktif itu organisasi perempuan yang peduli akan pemberian ASI eksklusif, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Asosiasi Perusahaan Makanan Bayi (APMB), IBI (Ikatan Bidan Indonesia), IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan instansi terkait seperti
Departemen Kesehatan (Depkes).
Dalam sambutannya yang dibacakan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Depkes Azrul Azwar, Menteri Kesehatan Achmad Sujudi mengatakan, pemenuhan hak bayi untuk mendapat ASI sebagai satu-satunya makanan terbaik pada enam bulan pertama kehidupan. Karena itu, harus didukung kewajiban ibu untuk menyusui dengan kasih sayang.
Menkes mengatakan untuk mendukung program ASI tersebut, Indonesia telah mengeluarkan sejumlah peraturan. Mulai dari Permenkes No 240 tahun 1985 tentang pendamping ASI, Kepmenkes No 237 tahun 1997 tentang pemasaran pendamping ASI dan Kepmenkes No 450 tahun 2004 tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam bulan.
Namun di lapangan, kata Azrul, Kepmenkes itu dalam implementasinya masih kurang efektif untuk mengatasi pelanggaran terhadap program kampanye ASI yang dilakukan produsen susu formula, dokter anak, bidan, perawat, dan rumah sakit. Pelanggarnya hanya dikenai sanksi administratif. ''Saya sepakat kalau Permenkes itu ditingkatkan menjadi PP atau undang-undang,'' jelasnya.
Soal waktu Permenkes menjadi PP, menurut Azrul, belum dapat memastikan. Sekarang perubahan itu masih dalam proses. Diakuinya, persoalan yang dihadapi sebenarnya bukan pada pangkal aturan semata. ''Ada problem di penegakan hukum dalam aturan yang sudah ada,'' terangnya.
Suara lantang disampaikan Ketua YLKI Indah Suksmaningsih. Dia mengatakan letak masalah yang signifikan berada di tangan pemerintah guna membenahi infrastruktur kesehatan terkait, juga efektivitas pelaksanaan hukum. ''Ini tidak semata soal aturan, tetapi soal etika'' katanya.
Sementara itu, mantan Ketua YLKI Tini Hadad sering menyaksikan terjadi pelanggaran yang dilakukan badan usaha terutama Kempenkes no 237 tahun 1997 tentang pemasaran pengganti ASI. Pelanggaran berupa pemberian susu gratis di pusat pelayanan dan penggunaan gambar bayi pada iklan susunya.
Tini menilai kampanye ASI memang telah berjalan, tetapi gaungnya kalah dibandingkan susu formula. Dia mengharap tenaga kesehatan tidak hanya memberi informasi tentang manfaat ASI eksklusif. Tetapi, tenaga kesehatan juga meyakinkan dan mendorong ibu-ibu untuk memberi ASI bagi bayinya.
Tini juga mengharap peraturan mengenai ASI tidak hanya memberi sanksi administratif, tetapi juga hukum. Sementara Indah mengkritik sejumlah donasi yang diberikan perusahaan susu kepada dokter anak yang menyelenggarakan seminar. Dia merasa yakin donasi itu akan memengaruhi dokter dalam mengampanyekan ASI.

Banyak yang tidak tahu

Sementara itu, dr Utami Rusli SpA yang dikenal gencar mengampanyekan ASI menilai bukan hanya ibu-ibu, dokter anak dan bidan pun banyak yang belum terlibat breast feeding campaign. ''Masih ada dokter dan tenaga kesehatan yang tidak tahu breast feeding science,'' katanya.
Sebagai Wakil dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Utami mengatakan pihaknya mendukung 100% penggunaan ASI eksklusif enam bulan pertama. Namun, dia mengatakan, Indonesia sebenarnya bisa mencontoh apa yang telah dilakukan Malaysia yang membentuk semacam dewan dari pemerintah yang bertugas mengawasi pelaksanaan pemberian ASI. Jika terjadi pelanggaran, dewan itu akan memberi peringatan dan sanksi.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat itu juga disebutkan bahwa pelanggaran juga melibatkan bidan-bidan. Bahkan, di sejumlah klinik bersalin, bidan yang mampu memenuhi target dari perusahaan susu akan mendapat bonus atau hadiah.
Wakil dari Ikatan Bidan Indonesia, Nuraini Majid mengatakan telah memiliki 80.000 anggota yang tersebar di 30 provinsi. Memang, katanya, bidan merupakan sosok yang sangat dekat dengan ibu melahirkan. Sehingga harapan tinggi program pemberian ASI eksklusif enam bulan berada di tangan para bidan.
Bidan-bidan memang mengetahui soal pemberian ASI. Namun, kata Nuraini, kadang bidan terutama di desa-desa, mereka sering menangani persalinan seorang diri. Biasanya bidan yang dipikirkan pertama bagaimana ibu bisa selamat saat bersalin.
Menurut Nuraini, bidan-bidan itu umumnya mencoba menasihati ibu yang bersalin untuk memberi ASI kepada bayinya dan mengerti manfaat kolostrum. Tetapi, persoalan tidak semudah itu. Sering kali seorang bidan di desa harus menghadapi masalah kultur dan sosial yang dipegang masyarakat setempat.
''Misalnya, bidan tidak bisa berbuat apa ketika bayi yang dilahirkan langsung diberi madu sama neneknya. Untuk itu bidan perlu mendapat bantuan, karena bidan tidak bisa bicara sendiri. Sampai bibirnya tipis pun belum tentu pendapatnya mengenai ASI diterima,'' katanya.
Sementara itu, APMB banyak mendapat hujan kritikan. Menanggapi suara miring, Ketua APMB Victor Ringoringo menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung pemberian ASI eksklusif enam bulan. Tetapi, dia meminta kesediaan pemerintah untuk dapat menyeluruh melihat persoalan termasuk dari segi bisnis. (Drd/YD/V-1)
Sumber: http://www.mediaindo.co.id/




KOLIN SEBAGAI ZAT GIZI PENTING UNTUK FUNGSI OTAK
http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=177 (ini bukti pentingnya kasih asi yang cukup, sayang kalo cuman 4 bulan)

MEMILIKI fungsi otak yang optimal, terutama dalam hal mengingat (memori), merupakan dambaan bagi setiap orang, baik muda maupun tua.
Lebih dari 40 tahun yang lalu, para peneliti telah menemukan adanya hubungan antara fungsi otak dan berbagai zat gizi dalam makanan. Hubungan ini telah terjadi sejak janin berada dalam kandungan ibu. Salah satu di antara zat gizi penting tersebut adalah kolin.
Dalam tubuh, kolin penting sebagai komposisi utama membran sel normal serta menjaga keutuhan membran sel dalam proses-proses biologi, seperti aliran/rangsangan informasi, komunikasi intrasel, dan bioenergi. Selain itu, kolin juga dapat membantu fungsi normal otak melalui pembentukan neurotransmiter asetilkolin, yaitu bentuk senyawa kolin yang sangat berperan pada fungsi otak.
Asetilkolin juga merupakan senyawa kimia yang berperan pada proses penyimpanan dan pemanggilan kembali memori, perhatian (atensi), maupun konsentrasi seseorang. Makin banyak asetilkolin yang disintesis, makin banyak pula yang dilepaskan ke dalam saraf sehingga makin baik pula proses memori dan atensi.
Penelitian terhadap kolin pada perkembangan otak banyak dilakukan pada hewan percobaan. Dari penelitian yang dilakukan Albright dan kawan-kawan pada tahun 1999, diketahui ada dua masa penting pada perkembangan otak, yaitu masa embrionik (pada hewan terjadi pada hari ke 12-17) dan masa sesudah lahir (pada hewan hari ke 16-30). Jika pada masa kritis ini diberi tambahan kolin, akan membantu meningkatkan pembentukan neuron-neuron kolin.
Pada manusia masa perkembangan otak juga sudah dimulai sejak janin berada dalam kandungan. Oleh karena itu, asupan kolin yang cukup sudah harus diperhatikan pada ibu hamil maupun ibu menyusui. Hal ini disebabkan pada saat tersebut merupakan masa kritis untuk mendapatkan hasil perkembangan memori otak bayi yang terbaik.
Untuk menjamin ketersediaan kolin yang cukup pada bayi baru lahir, alam telah mengatur dengan beberapa cara antara lain melalui plasenta dan air susu ibu (ASI). Pada masa kehamilan, jumlah cadangan kolin dalam tubuh ibu mengalami penurunan karena disalurkan ke janin melalui plasenta.
Jumlah kolin dalam plasenta mencapai 14 kali lebih tinggi daripada jumlah kolin dalam darah. Adapun tujuan penimbunan kolin dalam plasenta adalah untuk menjamin ketersediaan kolin bagi janin.
Pada masa menyusui, kolin dari ibu juga akan dikeluarkan ke dalam ASI. Jumlah kolin dalam ASI dapat mencapai 100 kali jumlah kolin dalam darah ibu. Oleh karena itu, bayi yang diberi ASI akan mendapatkan jumlah kolin yang mencukupi untuk perkembangan fungsi sel otak sebagai pusat memori. Hal ini sejalan dengan tujuan program pemberian ASI eksklusif yang dicanangkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa sehingga lebih menggugah ibu untuk mau menyusui bayinya.
Asupan kolin yang memadai pada setiap orang berbeda menurut usia. Rata-rata pada lelaki dewasa sebanyak 550 miligram/hari, wanita 425 miligram/hari, sedangkan pada bayi dan anak-anak jumlahnya lebih sedikit lagi. Jika asupan kolin sangat berlebihan (> 3,5 gram/hari) akan timbul gejala tekanan darah rendah, mual, dan diare. Sebaliknya, pada keadaan kekurangan kolin, akan timbul gangguan pada fungsi hati.
Walaupun kolin dapat disintesis oleh tubuh sendiri, pada keadaan tertentu tubuh dapat juga mengalami kekurangan kolin. Untuk mencegah terjadinya kekurangan kolin pada ibu hamil, ibu menyusui, maupun orang dewasa sehat, perlu diberikan tambahan makanan maupun suplemen yang mengandung tinggi kolin.(dr Ida Gunawan MS)

PEMBERIAN SUSU FORMULA BERISIKO TINGGI BAGI KESEHATAN BAYI

JAKARTA--MIOL : Pemberian susu formula pada bayi yang baru lahir beresiko tinggi bagi kesehatannya, begitu pula pencampuran dengan tingkat pengenceran yang salah dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah terserang penyakit.
"Di Afrika, 30 persen bayi meninggal sebelum umur satu tahun karena pemberian susu dengan air tidak bersih dan pengenceran yang salah," kata Konsultan Neonatology RSCM Prof Rulina Suradi,SpA (K) IBCLC, di Jakarta, Senin.
Menurut dia, pemberian susu dengan cara tersebut menyebabkan kuman masuk dan tumbuh dalam susu yang dikonsumsi oleh bayi yang kondisi tubuhnya masih sangat rentan, sehingga sangat mudah terserang penyakit.
"Mengapa harus menyalahi kodrat, susah-susah bangun malam dan membuat susu dengan resiko tinggi kalau bisa memberikan air susu ibu (ASI) yang jauh lebih steril dan menyehatkan," katanya.
Dia mengatakan bahwa kelenjar susu ibu adalah "pabrik susu" paling efisien di dunia.
"Kelenjar susu ibu bisa mengolah dan mengubah apa saja yang dimakan oleh ibu menjadi air susu yang berkualitas bagus, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kualitas air susu ibu yang hanya mengonsumsi tempe dan sayur dengan ibu yang mengonsumsi keju dan makanan mewah lainnya," katanya.
Tetapi tentu saja kecukupan gizi ibu tetap tidak bisa diabaikan, ibu tetap harus untuk mengonsumsi makanan yang bergizi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan kebutuhan anaknya.
Bayi berumur nol sampai enam bulan mutlak memerlukan ASI karena ASI memenuhi 100 persen kebutuhan bayi akan zat gizi. Setelah berumur enam bulan bayi memerlukan lebih banyak zat gizi, dan ASI hanya bisa menopang 60-70 persen kebutuhan gizi pada bayi sehingga bayi memerlukan makanan pendamping lain.
Pemberian ASI menurut Rulina lebih aman bila dihentikan saat anak berumur dua tahun.

Pekan ASI Sedunia :
Menyambut Pekan ASI sedunia atau World Breast-Feeding Week (1-7 Agustus) beberapa organisasi yang peduli tentang penggunaan ASI eksklusif pada bayi, salah satunya Perkumpulan Perinatologis Indonesia (Perinasia) melakukan kegiatan untuk memasyarakatkan pemberian ASI eksklusif pada bayi.
Kegiatan itu, menurut Rulina, di antaranya berupa lomba pemberian ASI eksklusif dan lomba pembuatan poster untuk mengampanyekan pemberian ASI eksklusif pada bayi.
Hal itu dilakukan karena menurut dia ASI sangat penting dan perannya tidak bisa digantikan oleh jenis susu lain. Menurut dia, ASI mengandung lebih dari 1000 jenis nutrien sehingga tidak ada satu pun jenis susu lain yang bisa menyamainya, selain itu tidak semua zat gizi yang terdapat dalam susu yang lain bisa diserap oleh bayi seperti ASI.
"ASI didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi seperti susu sapi didesain khusus untuk anak sapi, masing-masing mempunyai komposisi yang berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan," kata Rulina. (Ant/O-1)


RESIKO PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI TERLALU DINI

Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) di usia kurang dari enam bulan. Bahkan banyak dari kita tidak pernah tahu mengapa WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) & IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengeluarkan pernyataan bahwa ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan air putih sekalipun) diberikan pada enam bulan pertama kehidupan seorang anak. Kemudian setelah umur enam bulan anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur susu, nasi tim, buah, dsb.

Alasan menunda pemberian MPASI
Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak sampai ia berumur enam bulan?! Kalo jaman dulu (baca: sebelum diberlakukan ASI eksklusif enam bulan) umur empat bulan sudah dikasih makan bahkan ada yg umur satu bulan. Dan banyak yang berpendapat nggak ada masalah apa-apa tuh dengan anaknya.
Satu hal yang perlu diketahui bersama, bahwa jaman terus berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan penelitian yang terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari lima tahun yg lalu, MPASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia berusia empat bulan. Tetapi kemudian beberapa penelitian tahun-tahun terakhir menghasilkan banyak hal sehingga MPASI sebaiknya diberikan setelah lebih dari enam bulan.

Mengapa umur enam bulan adalah saat terbaik anak mulai diberikan MPASI ?!
Pemberian makan setelah bayi berumur enam bulan memberikan perlindungan ekstra & besar dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun (kekebalan) bayi kurang dari enam bulan belum sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan secara higinis. Hasil penelitian terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan MPASI sebelum ia berumur enam bulan lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya.
Saat bayi berumur enam bulan keatas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima MPASI. Beberapa enzim pemecah protein seperti asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur enam bulan.
Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan. Saat bayi berumur kurang dari enam bulan, sel-sel di sekitar usus belum siap untuk menerima kandungan makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.
Menunda pemberian MPASI hingga enam bulan melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan sari-sari makanan yang belum sempurna. Pada beberapa kasus yang ekstrem ada juga yang perlu tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur enam bulan.

Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah memberikan MPASI ke anaknya sebelum berumur enam bulan? Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MPASI kurang dari enam bulan. Umumnya banyak ibu yg beranggapan kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meski gak ada relevansinya banyak yang beranggapan ini benar. Kenapa? Karena belum sempurna, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk mengolah & memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus dianggap sebagai anak tidak kenyang. Padahal menangis bukan semata-mata tanda ia lapar.
Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita seperti orangtua terdahulu bahwa anak saya gak apa-apa tuh dikasih makan pisang pas umur dua bulan. Malah sekarang jadi orang. Alasan lainnya juga bisa jadi karena tekanan dari lingkungan dan tidak ada dukungan seperti alasan di atas. Ditambah lagi gencarnya promosi produsen makanan bayi yg belum mengindahkan ASI eksklusif enam bulan.
Mengapa aturan MPASI setelah 6 bulan? Karena kurang dari enam bulan mengandung resiko. Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap anak berbeda. Bisa jadi gak jadi masalah untuk kita tapi belum tentu untuk yang lain. Misalkan, ilustrasinya sama spt aturan cuci tangan sebelum makan. Ada anak yang dia tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan. Padahal ia baru bermain-main dengan tanah dan sebagainya. Tapi ia tidak apa-apa. Sedangkan satu waktu atau di anak yang lain, begitu ia melakukan hal tersebut ia langsung mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yang masuk ke makanan melalui tangannya. Demikian juga dengan pemberian MPASI pada anak terlalu dini. Banyak yang merasa "anak saya gak masalah tuh saya kasih makan dari umur 3 bulan". Sehingga hal tsb menjadi alasan untuk tidak mengikuti aturan yang berlaku. Padahal aturan tersebut dibuat karena ada resiko sendiri. Lagipula penelitan tentang hal ini terus berlanjut. Saat ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih terbatas dan "kurang" bagi beberapa kalangan. Tapi di kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang.
Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda memberikan MPASi pada anak kurang dari enam bulan bukan hanya berlaku untuk bayi yg mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula atau campuran ASI dan formula).
Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu. Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MPASI kurang dari enam bulan, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal tersebut.
Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan MPASI kurang atau lebih dari enam bulan, alangkah baiknya dipertimbangkan dengan baik untung ruginya bagi anak, bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk sang anak.

Sumber Ilmiah: :
. Solid Food in Early Infancy increases risk of Eczema, from original source : Fergusson DM et al Early solid feeding and recurrent childhood eczema: a 10-year longitudinal study Pediatrics 1990 Oct; 86:541-546.[Medline abstract][Download citation]
. World Health Organization (WHO). Infant Feeding Guidelines. 2003. Information for Health Professionals on Infant Feeding. www.who.int/health_topics/breastfeeding/en/
. World Health Organization (WHO). 2003. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. www.who.int
. Stop MPASI terlalu dini. Majalah Ayahbunda Edisi/No.01 Januari 2005
. World Health Organization (WHO). Complementary feeding. Report of the global consultation. Summary of guiding principles. Geneva, 10-13 December 2001. www.who.int
. Why Delay Solids? http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html
. The introduction of solids in relation to asthma and eczema. A Zutavern, E von Mutius, J Harris, P Mills, S Moffatt, C White and P Cullinan.
http://adc.bmjjournals.com/cgi/content/abstract/89/4/303
. AAP. 1990. Early solid feeding and recurrent childhood eczema: a 10-year longitudinal study. DM Fergusson, LJ Horwood and FT Shannon.
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/abstract/86/4/541
. NCBI. Protective nutrients and bacterial colonization in the immature human gut. Dai D, Walker WA.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=10645469&dopt=Abstract
. Relation between early introduction of solid food to infants and their weight and illnesses during the first two years of life. Forsyth JS, Ogston SA, Clark A, Florey CD, Howie PW. Dept of Child Health, Ninewells Hospital and Medical School, Dundee.


SEPUTAR ASI PERASAN/POMPAAN

Berapa Lama ASI Hasil Pompa/Peras Bisa Disimpan Pada Suhu Ruang?
Jika ruangan tidak ber-AC, disarankan tidak lebih dari 4 jam Jika ruangan ber-AC, bisa sampai 6 jam. catatan: suhu di atas harus stabil, misalnya ruangan ber-AC, tidak mati sama sekali selama botol ASI ada di dalamnya.

Berapa Lama ASI Hasil Pompa/Peras Bisa Disimpan Pada Suhu Lemari Es?
Jika Ibu mengetahui bahwa dalam 4 jam ke depan ASI hasil pompa/peras tidak akan diberikan pada bayi, maka segeralah simpan di lemari es. ASI ini bisa bertahan sampai 8 (delapan) hari dalam suhu lemari es, jia ditempatkan dalam compartment yang terpisah dari bahan makanan lain yg ada di lemari es tsb. Jika lemari es Ibu kebetulan tidak memiliki compartment terpisah untuk menyimpan botol ASI hasil pompa/perasan, maka sebaiknya ASI tersebut jangan disimpan lebih dari 3 x 24 jam. Ibu juga dapat "membuat" compartment terpisah dengan cara menempatkan botol ASI dalam container plastik yang
tentunya dibersihkan terlebih dahulu dengan baik.

Berapa Lama ASI Hasil Pompa/Peras Bisa Disimpan Pada Suhu Freezer?
ASI hasil pompa/perasan dapat disimpan dalam freezer biasa sampai 3 (bulan) lamanya. Namun Ibu jangan menyimpan ASI ini di bagian pintu freezer, karena bagian ini yang mengalami perubahan dan variasi suhu udara terbesar. Jika Ibu kebetulan memiliki freezer penyimpan daging yang terpisah (biasanya disebut deep freezer) yang umumnya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa, maka ASI hasil pompa/perasan bahkan dapat disimpan sampai dengan 6 (enam) bulan di dalamnya.

Bagaimana Cara Menyimpan ASI Hasil Pompa/Perasan Yang Baik?
• Simpan ASI dalam botol yang telah disterilkan terlebih dahulu
• Botol yang paling baik sebetulnya adalah yang terbuat dari gelas/beling, namun jika terpaksa menggunakan botol plastik, pastikanlah bahwa plastiknya cukup kuat (tidak meleleh jika direndam dalam air panas)
• Jangan pakai botol susu yang berwarna / bergambar, karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas
• Jangan lupa bubuhkan label setiap kali Ibu akan menyimpan botol ASI, dengan mencantumkan tanggal dan jam ASI dipompa/peras
• Simpan ASI di dalam botol yang tertutup rapat (jangan ditutup dengan dot, karena masih ada peluang untuk berinteraksi dengan udara)
• Jika dalam satu hari Ibu memompa/memeras ASI beberapa kali, bisa saja Ibu menggabungkan hasil pompa/perasan tsb dalam botol yang sama, dengan catatan bahwa suhu tempat botol disimpan stabil, antara 0 s/d 15 derajat Celcius).
Penggabungan hasil simpanan ini bisa dilakukan asalkan jangka waktu emompaan/pemerasan pertama s/d terakhir tidak lebih dari 24 jam.

Bagaimana Cara Pemberian ASI Yang Sudah Didinginkan Kepada Bayi?
• Panaskan ASI dengan cara: (a) membiarkan botol dialiri air panas (bukan mendidih) yang keluar dari keran ATAU (b) merendam botol di dalam baskom / mangkuk yang berisi air panas (bukan mendidih)
• Jangan sekali-sekali memanaskan botol dengan cara mendidihkannya dalam panci, menggunakan microwave atau alat pemanas lainnya (kecuali yang memang di-design untuk memanaskan botol berisi simpanan ASI)
• Ibu tentunya mengetahui berapa banyak bayi Ibu biasanya sekali meminum ASI. Sesuaikanlah jumlah susu yang dipanaskan dengan kebiasaan tsb. Misalnya dalam satu botol Ibu menyimpan sebanyak 180 cc ASI tetapi bayi Ibu biasanya hanya meminum 80, jangan langsung dipanaskan semua. INGAT bahwa susu yang sudah dipanaskan tidak bisa disimpan lagi!

Bagaimana Saya Mengetahui Apakah ASI Yang Disimpan Sudah Basi?
Sebenarnya jika Ibu mengikuti pedoman pemompaan/pemerasan ASI dan penyimpanan yang baik, ASI tidak akan mungkin basi. Kadang memang setelah disimpan / didinginkan akan terjadi perubahan warna dan rasa, tapi itu tidak menandakan bahwa ASI sudah basi. Asalkan Ibu berada dalam keadaan bersih ketika memompa/memeras, menyimpan ASI dalam botol yang steril & tertutup rapat, dalam jangka waktu yang dijabarkan seperti di atas dan saat memanaskan juga mengikuti petunjuk, mudah-mudahan ASI Ibu terjaga dalam kondisi yang baik. Dibandingkan susu formula, ASI lebih tahan lama. Pada
saat berinteraksi dengan udara luar, biasanya yang terjadi bukan pembusukan ASI teapi lebih merupakan berkurangnya khasiat ASI, terutama zat yang membantu pembentukan daya imun bayi.

TIPS MEMPERBANYAK ASI
Penulis : Zaharani Marguita ( Rani )

Ekstrak daun katuk dikenal untuk memperbanyak asi. Tapi selain itu berdasarkan pengalaman yang saya alami, supaya asi kita cukup/banyak persediaannya ada sedikit tips yang mungkin bisa dicoba dan insyaallah bisa berguna bagi para ibu yang sedang menyusui seperti tersebut dibawah ini :
- Sebelum dan sesudah menyusui minumlah susu ( terutama susu khusus ibu menyusui ) atau air putih sebanyak-banyaknya
- Bangunlah di malam hari ( sekitar pk. 1 keatas ) dan makanlah sedikit makanan terutama kacang-kacangan ( kacang kulit )
- Pada saat menyusui, usahakan pikiran dan hati kita tenang dan gembira, tidak dalam keadaan sedih, khawatir ataupun marah karena hal tsb sangat mempengaruhi produksi asi itu sendiri.
- Janganlah lupa untuk selalu membersihkan dan memassage payudara kita selepas dari bepergian terutama dari bepergian jauh.

MITOS MITOS TTG MENYUSUI

1. MENYUSUI MERUBAH BENTUK BUAH DADA WANITA
TIDAK BENAR Mitos atau pendapat yang mengatakan bahwa menyusui dapat mempengaruhi atau merubah bentuk payudara secara permanen. Sebenarnya yang merubah bentuk payudara adalah kehamilan, bukan menyusui. Kehamilan menyebabkan dikeluarkannya hormon-hormon dan menyebabkan terbentuknya air susu yang mengisi payudara. Payudara yang sudah terisi air susu tentu akan berbeda bentuknya dengan payudara yang belulm terisi oleh air susu. Jadi yang menyebabkan perubahan bentuk payudara adalah kehamilan bukan menyusuinya. Besarnya perubahan bentuk payudara sangat tergantung dari
turunan (herediter), usia dan juga oleh penambahan berat badan pada waktu kehamilan.

2. MENYUSUI MENYEBABKAN KESUKARAN MENURUNKAN BERAT BADAN
TIDAK BENAR. Data membuktikan bahwa menyusui dapat membantu ibu menurunkan
berat badan lebih cepat daripada yang tidak memberikan ASI secara ekslusif. Sebab dengan menyusui timbunan lemak yang terjadi pada waktu hamil akan dipergunakan dalam proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan sukar menghilangkan timbunan lemak yang memang khsusus dipersiapkan oleh tubuh untuk menyusui ini.

3. ASI BELUM KELUAR PADA HARI-HARI PERTAMA SEHINGGA PERLU DITAMBAH SUSU FORMULA
Pada hari pertama sebenarnya bayi belum memerlukan cairan atau makanan, sehingga tidak atau belum diperlukan pemberian susu formula ataupun cairan lain, sebelum ASI keluar "cukup" (Cairan Prelactal feeding). Bayi pada usia 30 menit harus disusukan pada ibunya, bukan untuk pemberian nutrisi, tetapi untuk belajar menyusui atau membiasakan menghisap puting susu dan juga guna mempersiapkan ibu untuk mulai memproduksi ASI. Gerakan reflek untuk menghisap pada bayi baru lahir akan mencapai puncaknya pada waktu berusai
20-30 menit, sehingga apabila terlambat menyusui, reflek ini akan berkurang dan tidak akan kuat lagi sampai beberapa jam kemudian.
Pemberian prelactal feeding sebetulnya tidak diperlukan karena hanya akan merugikan ibu, yaitu ASI ibu akan lebih lambat terbentuk karena bayi tidak cukup kuat menghisap, dan merugikan bayi sebab bayi akan kurang mendapat kolostrum. Bila bayi kurang atau tidak mendapat kolostrum, akan lebih sering menderita mencret atau penyakit lain, terutama bila susu formula atau cairan prelactal/lainnya tercemar. Selain itu, bila cairan prelactal diberikan
dengan dot, kemungkinan bayi akan mengalami kesukaran minum pada puting susu ibunya atau bingung puting (nipple confusion).

4. IBU BEKERJA TIDAK DAPAT MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF 6BULAN
TIDAK BENAR. Banyak ibu-ibu bekerja yang telah berhasil memberikan ASI ekslusif pada bayinya selama 6bulan. Bahkan ibu bekerja tidak memerlukan tambahan pada cuti hamil 3 bulannya untuk dapat tetap memberikan ASI ekslusif sampai 6 bulan. Pada ibu bekerja, cara lain untuk tetap dapat memberikan ASI ekslusif pada bayinya adalah dengan memberikan ASI peras atau perahnya pada bayi selama ibu bekerja. SElama ibu ditempat kerja, sebaiknya
ASI diperah, minimum 4 X 15menit. Memerah ASI sebaiknya hanya menggunakan jari tangan, tidak menggunakan pompa yang berbentuk terompet. ASI perah tahan 6-8 jam di udara luar, 24 jam di dalam termos es berisi es batu, 48 jam dalam lemari es dan 3 bulan apabila berada dalam freezer. Dengan bantuan "Tempat Kerja Sayang Ibu", yaitu tempat kerja yang memungkinkan karyawati menyusui secara ekslusif, keberhasilan ibu bekerja untuk memberikan ASI ekslusif akan menjadi lebih besar lagi.

5. PAYUDARA SAYA KECIL TIDAK MENGHASILKAN CUKUP ASI
TIDAK BENAR. Besar kecilnya payudara tidak menentukan banyak atau sedikitnya produksi ASI, karena payudara yang besar hanya mengandung lebih banyak jaringan lemak dibandingkan dengan payudara yang kecil. ASI dibentuk oleh jaringan kelenjar pembentuk air susu (alveoli) dan bukan jaringan lemak. Jadi, besar kecilnya payudara tidak menentukan banyak sedikitnya produksi ASI.

6. ASI YANG PERTAMA KALI KELUAR HARUS DI BUANG KARENA KOTOR
ASI yang keluar pada hari 1 sampai dengan hari ke 5 s/d hari ke 7, dinamakan kolostrum, atau susu jolong. Cairan jernih kekuningan itu mengandung zat putih telur atau protein dalam kadar yang tinggi, zat anti infeksi atau zat daya tahan tubuh (immunoglobulin) dalam kadar yang lebih tinggi daripada susu mature, disamping itu juga mengandung laktosa atau hidrat arang dan lemak dalam kadar yang rendah sehingga mudah dicerna.
Volume kolostrum bervariasi antara 10 ccf - 100 ccf per hari. Volume yang rendah ini memberikan beban yang minimal bagi ginjal bayi yang belum matang. Selain sebagai nutrisi kolostrum melindungi bayi terhadap penyakit-penyakit infeksi. Dalam penelitian, kolostrum terbukti sangat bermanfaat bagi bayi premature dan bayi sakit. Apabila kolostrum dibuang, maka bayi akan kurang atau tidak mendapatkan zat-zat pelindung terhadap penyakit infeksi. Tak dapat disangkal lagi bahwa kolostrum sangat berguna bagi bayi untuk melindunginya dari infeksi. Walaupun saat ini telah diketahui bahwa kolostrum sangat dibutuhkan oleh bayi, namun masih banyak praktek-praktek yang menyebabkan bayi kekurangan kolostrum yang kaya dengan nutrien berguna ini. Misalnya, antara lain, dengan masih memberikan prelactal feeding.

7. ASI IBU KURANG GIZI, KUALITASNYA TIDAK BAIK
Bayi dan ASI sebenarnya bersifat parasit bagi ibu. Sampai dengan batas keadaan tertentu, kualitas dan kuantitas ASI akan tetap dipertahankan, walaupun harus dengan mengorbankan gizi si ibu sendiri. Kualitas ASI baru berkurang apabila ibu menderita kekurangan gizi tingkat ke-3, bahkan sering kali kualitas ASI masih tetap dipertahankan sampai tingkat kekurangan gizi ibu lebih dari derajat ini.

8. "ASI SAYA TIDAK CUKUP", "ASI SAYA KERING", "BAYI TIDAK CUKUP DAPAT ASI KARENA RAKUS/ MINUMNYA BANYAK"
Dari sebuah penelitian didapatkan data bahwa 98 ribu dari 100 ribu ibu-ibu yang mengatakan produksi ASInya kurang, sebebarnya mempunyai cukup ASI, tetapi kurang mendapat informasi tentang manajemen laktasi yang benar, posisi menyusui yang tepat, serta terpengaruh mitos-mitos tentang menyusui, yang umumnya dapat menghambat produksi ASI. Umumnya apabila seorang bayi kurang mendapat ASI atau kurang minum, sebenarnya bukan ibunya yang tidak dapat memproduksi ASI sebanyak yang diperlukannya. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena posisi menyusui yang tidak benar. Posisi yang dimaksud di sini adalah posisi mulut bayi terhadap putting ibu, bukannya posisi badan bayi terhadap badan ibu. Produksi ASI dirangsang oleh pengosongan payudara, berlaku prinsip supply and demand, sehingga semakin banyak ASI dikeluarkan, maka akan semakin banyak pula ASI diproduksi. ASI diproduksi sesuai dengan jumlah permintaan dan kebutuhan bayi. Selama bayi masih melanjutkan permintaannya akan ASI, dengan masih menghisap ASI, selama itu payudara ibu akan tetap melakukan produksinya. Apabila bayi berhenti
meminta ASI, dengan cara berhenti menghisap maka payudara ibu pun akan berhenti memproduksi ASI.

Bila ASI mengandung Residu Pestisida (Dioxin, DDT, PCBs) dan bahan beracun,
sejauh mana bahayanya bagi bayi?
Banyak ibu-ibu yang gelisah dengan adanya laporan yang menakutkan tentang tercemarnya selain susu sapi juga ASI oleh zat beracun seperti diozin atau logam berat yang berbahaya yang akan membahayakan kesehatan bayinya. Sebenarnya tidak ditemukan bukti-bukti secara kedokteran adanya bayi yang sakit karena disusui oleh ibu yang mengandung zat-zat beracun ini.
Para ahli yang mempelajari hal ini, termasuk antara lain Ketua Persatuan Dokter Anak Amerika Serikat, berulang-ulang meyakinkan masyarakat bahwa keuntungan menyusui jauh melebihi bahaya menyusui dengan ASI yang tercemar oleh zat-zat racun ini. Sehingga pemberian ASI tetap dianjurkan dalam keadaan seperti ini.
Racun-racun ini sebenarnya lebih berbahaya pada masa kehamilan terutama pada bulan ke-6 sampai ke-8 dibandingkan dengan pada waktu menyusui. Jadi bila didapatkan racun pada bayi, kemungkinan bayi mendapatkan racun ini sewaktu dalam kandungan lebih banyak dari pada dari ASI. Didapatkan bukti bahwa menyusui mungkin bahkan dapat memberikan perlindungan terhadap zat kimia yang beracun tertentu. Pada kecelakaan kebocoran reactor di Chernobyl, didapatkan bahwa kada zat radio aktif dalam ASI jauh lebih sedikit dari kadar ini dalam tubuh ibu. Keadaan ini membuat para ahli berkesimpulan, adanya suatu mekanisme tubuh tertentu yang menyaring racun sehingga didapatkan konsentrasi yang rendah dalam ASI.

Apa yang harus dikerjakan Ibu untuk mengurangi kontaminasi ASInya dengan zat
beracun?
Ibu hamil atau menyusui, sebaiknya:
1. Tidak memakan ikan air tawar yang diketahui terkontaminasi
2. Kupas dan cucilah dengan benar buah-buahan dan sayur-sayuran terutama untuk menghindari akibat terkontaminasi residu pestisida
3. Buang bagian lemak dari daging, ayam dan ikan, karena bahan kimia berbahaya umumnya melekat pada lemak
4. Hindari produk-produk makanan yang banyak mengandung lemak mentega
5. Jangan melakukan diet berat badan selama kehamilan dan menyusui, karena penurunan berat badan secara tiba-tiba dapat memobilisasi sel lemak dan melepaskan zat kimia berbahaya yang umumnya terikat pada lemak, sehingga mungkin akan mencapai tubuh bayi.
6. Hindari pemakaian pestisida dan hindari tempat-tempat dimana diperkirakan banyak pestisida digunakan.

Menyusui adalah pemberian sangat berharga yang dapat diberikan seorang ibu kepada bayinya. Dalam keadaan sakit atau kurang gizi, menyusui mungkin merupakan pemberian yang dapat menyelamatkan kehidupan bayi. Dalam kemiskinan menyusui mungkin merupakan pemberian satu-satunya.


1. dari website-nya WHO: (kalo ga males baca, hehe…)
http://www.who.int/child-adolescent-health/NUTRITION/infant_exclusive.htm

EXCLUSIVE BREASTFEEDING
Breastfeeding is an unequalled way of providing ideal food for the healthy growth and development of infants; it is also an integral part of the reproductive process with important implications for the health of mothers. A recent review of evidence has shown that, on a population basis, exclusive breastfeeding for 6 months is the optimal way of feeding infants. Thereafter infants should receive complementary foods with continued breastfeeding up to 2 years of age or beyond.

To enable mothers to establish and sustain exclusive breastfeeding for 6 months, WHO and UNICEF recommend:
a.. Initiation of breastfeeding within the first hour of life
b.. Exclusive breastfeeding - that is the infant only receives breastmilk without any additional food or drink, not even water
c.. Breastfeeding on demand - that is as often as the child wants, day and night
d.. No use of bottles, teats or pacifiers
Breastmilk is the natural first food for babies, it provides all the energy and nutrients that the infant needs for the first months of life, and it continues to provide up to half or more of a child's nutritional needs during the second half of the first year, and up to one-third during the second year of life.
Breastmilk promotes sensory and cognitive development, and protects the infant against infectious and chronic diseases. Exclusive breastfeeding reduces infant mortality due to common childhood illnesses such as diarrhoea or pneumonia, and helps for a quicker recovery during illness. These effects can be measured in resource-poor and affluent societies (Kramer Met al Promotion of Breastfeeding Intervention Trial (PROBIT): A randomized trial in the Republic of Belarus. Journal of the American Medical Association, 2001, 285 (4): 413-420)
Breastfeeding contributes to the health and well-being of mothers, it helps to space children, reduces the risk of ovarian cancer and breast cancer, increases family and national resources, is a secure way of feeding and is safe for the environment.
While breastfeeding is a natural act, it is also a learned behaviour. An extensive body of research has demonstrated that mothers and other caregivers require active support for establishing and sustaining appropriate breastfeeding practices. WHO and UNICEF launched the Baby-friendly Hospital Initiative in 1992, to strengthen maternity practices to support breastfeeding. The foundation for the BFHI are the Ten Steps to Successful Breastfeeding described in Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding: a Joint WHO/UNICEF Statement. The evidence for the effectiveness of the Ten Steps has been summarized in a scientific review document.
The BFHI has been implemented in about 16.000 hospitals in 171 countries and it has contributed to improving the establishment of exclusive breastfeeding world-wide. While improved maternity services help to increase the initiation of exclusive breastfeeding, support throughout the health system is required to help mothers sustain exclusive breastfeeding.
WHO and UNICEF developed the 40-hour Breastfeeding Counselling: A training course to train a cadre of health workers that can provide skilled support to breastfeeding mothers and help them overcome problems. Basic breastfeeding support skills are also part of the 11-day Integrated Management of Childhood Illness training course for first-level health workers, which combines skills for adequate case management with preventive care. Evaluation of breastfeeding counselling delivered by trained health professionals as well as community workers has shown that this is an effective intervention to improve exclusive breastfeeding rates (link to graph).