Tuesday, October 28, 2008

Profil Partai: RepublikaN Belajar Dari "Laskar Pelangi"

Profil Partai: RepublikaN Belajar Dari "Laskar Pelangi"



Oleh Junaedi S

Jakarta
(ANTARA News) - Berawal dari rasa keprihatinan akan tata kelola
pemerintahan dan sistem kepartaian politik yang kurang memihak rakyat,
sebanyak 1.945 orang dengan berbagai latar belakang profesi di Cikopo,
Jawa Barat, pada 20 Mei 2007 sepakat mendirikan sebuah partai baru.



Deklarator partai yang terdiri dari sebanyak 1.328 orang laki-laki dan
sejumlah 617 kader perempuan itu bukanlah para elit politik, melainkan
orang kebanyakan yang merasa satu visi dan misi demi mewujudkan partai
berwawasan modern.



Makna bersejarah tahun 1945 itu pula yang ingin ditekankan para pendiri
Partai Republika Nusantara, yang selanjutnya dipopulerkan dengan
sebutan Partai RepublikaN, sebuah nama yang mengingatkan "kaum
republikan" di masa perang kemerdekaan dulu.



Cara pendirian partai yang unik dan berbeda dengan partai-partai
politik lainnya itu, akhirnya mendorong Museum Rekor Indonesia (MURI)
memberikan penghargaan kepada partai berlambang burung garuda terbang
dengan warna kuning emas itu dengan kategori "Pendiri Partai Terbanyak".



Bagi bangsa Indonesia, 1945 merupakan angka dengan makna yang sangat
dalam, yakni tahun di mana rakyat Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya.



Para pendiri bangsa memiliki cita-cita luhur memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 demi terwujudnya bangsa
Indonesia yang adil dan makmur. Upaya itu dirintis dengan cara
meletakkan kedaulatan di tangan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan mampu memelihara kemerdekaan, ketertiban serta perdamaian dunia.



Namun pada faktanya, cita-cita luhur tersebut belum sepenuhnya dicapai
dan dirasakan sebagai akibat proses dan dinamika sejarah panjang pasca
kemerdekaan serta adanya tata kelola kenegaraan maupun sistem
kepartaian politik yang kurang berpihak kepada rakyat.



Sementara partisipasi aktif masyarakat dalam menggunakan hak politik belum diberdayakan secara optimal.



Bermodalkan persamaan visi di antara sesama anak bangsa yang berasal
dari berbagai suku, etnik, agama, golongan dan profesi, Partai
RepublikaN melangkah pasti karena di dalamnya ada elemen masyarakat
pelaku transportasi, masyarakat pendidikan, kesehatan dan pelaku usaha
mikro sebagai segmen pilar-pilar penyangganya.



Dengan demikian, platform partai ini adalah senantiasa memperjuangkan
secara konsisten pembangunan kesejahteraan terutama dalam empat pilar,
yakni pendidikan, kesehatan, transportasi, serta ekonomi kerakyatan,
dengan tidak meninggalkan sektor sektor lainnya.



Namun demikian, RepublikaN sebagai partai baru juga menghadapi
tantangan yang tidak ringan berupa menurunnya preferensi dan
kepercayaan masyarakat terhadap partai-partai politik saat ini.



Karenanya guna meraih kepercayaan total konstituen dan masyarakat luas,
RepublikaN mencoba strategi baru melalui penerapan kebijakan mutu
sebagai salah satu standar pengelolaan partai modern, di samping tetap
menjaga komitmen membudayakan, meningkatkan mutu dan profesionalisme
manajemen kepartaian secara berkelanjutan.



Partai ini bercita-cita menjadi partai modern dengan membangun
karakteristik seperti partai yang tumbuh dari bawah, akan menetapkan
mutu ISO 9001:2000 tentang organisasi, manajemen, dan mutu kepartaian.



"Kalau ini tercapai dan kita telah mengurusnya lewat Badan Sertifikasi
yang dikonsultasi oleh Lembaga Manajemen Talenta, maka kamilah
satu-satunya partai yang mendapat sertifikat ISO," ujar Yus Sudarso,
Sekjen DPP Partai RepublikaN.



Selain itu, partai ini juga tidak memperkenankan para ketuanya di
jajaran Dewan Pemimpin Pusat partai untuk duduk di pemerintahan. Mereka
hanya berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat pelaku dan para
profesional dari masing-masing elemen untuk menjalankan perannya, baik
di eksekutif maupun legislatif.



Dalam upayanya menjadikan RepublikaN sebagai rumah demokrasi sejati,
maka pola kepemimpinan pun berbentuk presidium berjumlah 5 orang.
Artinya ketua umum partai ada lima orang dan bukan satu orang saja yang
faktanya sering menjadi rebutan dan sumber perpecahan partai. Posisi
lima ketua umum atau presidium itu sama semuanya.



Melalui format presidium seperti itu, RepublikaN mampu menghindari
jebakan-jebakan kultus individual yang biasanya melekat pada figur
sentral ketua umum partai.



"Kita fokus pada pengembangan organisasi sambil memilih figur yang
dikenal dan mencintai rakyat. Kalau hanya mengandalkan figur, akibatnya
akan sama dengan partai lama saya," tutur Yus Sudarso.



Selain presidium, struktur partai dilengkapi pula dengan komposisi 25
orang ketua bidang dan 6 wakil sekjen yang membidangi manajemen
organisasi, diklat dan kaderisasi, IT dan keanggotaan, program dan
pemasaran, humas dan komunikasi serta bidang penelitian dan
pengembangan.



Saat ini partai tersebut dipimpin oleh Ketua Presidium Letjen (Purn)
Syahrir MS, mantan Danjen Kopassus, dengan Sekjen-nya Yus Sudarso yang
sebelumnya dikenal sebagai Sekjen Suara Bangsa, sebuah tim independen
pemenangan pasangan Yudhoyono-Kalla dalam Pemilu 2004 serta pengurus
harian DPP Partai Demokrat.





Dukung Sri Sultan



Seperti halnya partai-partai politik peserta Pemilu 2009 lainnya,
Partai RepublikaN yang bernomor urut 21 itu juga telah berancang-ancang
memberikan dukungan kepada tokoh nasional yang dianggap layak memimpin
bangsa ini.



Dari sekian banyak tokoh nasional yang mencuat dipentas politik
nasional saat ini, partai bernomor urut 21 pada Pemilu 2009 itu
menjatuhkan pilihan kepada sosok Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan
Hamengkubuwono X sebagai calon presiden (capres) yang akan diusungnya.



Sri Sultan dinilai para fungsionaris dan kader-kader partai itu sebagai
figur yang paling tepat pada saat ini untuk memimpin bangsa Indonesia
ke depan.



"Karenanya kami telah bulat akan mendukung Sri Sultan sebagai capres di 2009," kata Yus Sudarso.



Keputusan mendukung Sri Sultan itu telah diambil Partai RepublikaN
melalui rapat pimpinan yang khusus digelar untuk membicarakan masalah
pencalonan presiden. Soal perolehan suara di Pemilu legislatif 2009,
partai ini mematok target sebesar sembilan persen suara nasional.



Dengan adanya diferensiasi yang tegas dibandingkan partai-partai
politik lainnya serta program kerja yang terfokus pada pembangunan
kesejahteraan di empat bidang yaitu pendidikan, kesehatan,
transportasi, dan ekonomi kerakyatan, Yus Sudarso optimis target
perolehan sembilan persen itu mampu digapai.





Laskar Pelangi



Tidak hanya itu saja, upaya mendongkrak semangat juang kader-kader
partai juga dilakukan melalui cara unik, yakni mewajibkan mereka
menonton film "Laskar Pelangi" yang saat ini tengah digandrungi
masyarakat luas.



Menurut Ketua Presidium Partai RepublikaN Letjen (Purn) Syahrir MS,
dengan menonton film "Laskar Pelangi" ini diharapkan tergugah etos
juang setiap kader partai dan mereka pun tidak silau dengan partai yang
telah berdiri kokoh, sebagaimana diperlihatkan dalam semangat anak-anak
"Laskar Pelangi".



Film "Laskar Pelangi" dinilai banyak memberikan pesan pendidikan dan
sosial kepada masyarakat Indonesia dan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pun telah menyempatkan diri menonton film tersebut.



"Yang paling menonjol adalah pesan moral guna membangkitkan semangat
dan etos dalam nilai-nilai ketulusan untuk meraih prestasi dalam
keadaan sesulit apa pun," ujar Syahrir.



Sedemikian besarnya obsesi fungsionaris partai ini terhadap film
"Laskar Pelangi" sampai-sampai produser film tersebut, Mira Lesmana,
dianugerahi Piagam Adi Cipta Seni Budaya.



Piagam Adi Cipta Seni Budaya tersebut merupakan penghargaan tertinggi
yang diberikan Partai RepublikaN kepada seniman dan budayawan karena
dedikasi dan prestasi mereka yang dinilai luar biasa.





Kepengurusan

Ketua Presidium : Letjen. (Purn) Drs. H. Syahrir, MS,SE

Anggota Presidium : Muslim Abdurrahman, Murphy Hutagalung, Orie Andari, dan Sudharto

Sekretaris Jenderal : Drs. Yus Sudarso, SH, MH, MM

Nomor urut : 21



Alamat DPP :

Kompleks Perkantoran Pulo Mas Blok VI No.1-2 Jakarta Timur

Telp. (021) 4702960

Fax. (021) 4702966





(***)