Friday, October 31, 2008

Esai Fotografi

Esai Foto : Sebuah cara berkomunikasi

Bercerita dengan gambar bukanlah merupakan hal yang baru. Cara tersebut telah dikenal sejak zaman Mesir purba, yang ditorehkan pada dinding-dinding makam, sampai komik modern seperti Sinchan. Dalam dunia fotografi usaha ini telah dimulai ketika Mathew Brady merekam perang saudara Amerika di penghujung abad ke-19. Foto-foto hasil jepretannya ditampilkan dalam bentuk seni dalam upaya memberikan gambaran yang utuh tentang peperangan.

Pada awalnya foto-foto tampa perhitungan alur, sehingga lebih mirip kumpulan foto yang bergerombol. Tidak tersusun sehingga tidak mampu bercerita secara berurut. Barulah tahun 1915, The Illustrated London News menampilkan Perang Dunia I dengan perhitungan tata letak. Itupun kemudian terlihat sebagai bentuk susunan mosaik.

Selain hambatan teknologi cetak, bentuk kamera yang lebih besar dan lensa yang hanya mempunyai diagfrahma (rana) yang kecil membuat pekerjaan fotografer menjadi lamban, sampai-sampai foto yang dihasilakanpun lebih banyak serdadu-serdadu yang mejeng. Penemuan halftone dalam dunia cetak menggantikan wood-cut, turut mendorong perkembangan esai foto. Tehnologi ini memungkinkan foto untuk tampil lebih akurat dan cepat.

Pada tahun 1925, ketika kamera format kecil ditemukan, dengan lensa yang mampu merekam lebih leluasa pada kondisi minim cahaya, terbukalah kemungkinan untuk menampilkan aktifitas manusia apa adanya, foto-foto candit pun mulai berkibar. Dipelopori Eric Salomon. Untuk pertamakalinya potensi yang sesungguhnya dari esai foto mulai di explorasi.

Munich Illustrated Press, sebuah majalah bergambar asal Jerman, menhadirkan atraksi sirkus dengan gaya laporan pandangan mata. Editor majalah tersebut, Stefan Lorant menampilkannya sebagai foto seri yang memperhitungkan tata letak dengan cermat. Kemudian berbagai kemungkinan terus dieksplorasi untuk menghadirkan impresi yang diinginkannya. Lorant bahkan memakai dasar warna hitam untuk menampilkan nuansa romantis bagi esai karya Brassai. Midnight in Paris. Rekaman Brassai mulai dari monumen hingga penghibur nightclub, dari cafe sampai pemabuk menggelosor di trotoar, satu persatu, foto demi foto disusun untuk membangun nuansa malam sebuah kota, menghasilkan foto yang memikat.

Era keemasan

Tehnik foto jurnalistik yang dikembangkan Lorant pada tahun 30-an mulai menarik perhatian penerbit asal Amerika. Pada masa itu, banyak fotografer Jerman yang hengkang ke Amerika untuk menghindari rezim Hitler. Dalam dekade yang sama, Life memproklamirkan sebuah manifesto yang intinya: untuk melihat kehidupan, melihat duinia, menjadi saksi nyata kejadian penting, menyaksikan wajah sedih kemiskinan dan gesture kebanggaan pada mereka yang berhasil, menyaksikan hal-hal aneh, mesin, tentara, bayang-bayang, menyaksikan karya manusia-lukisan, pencakar langit, penemuan baru, menyaksikan sesuatu yang baru, dibalik tembok, di dalam ruangan, sesuatu yang berbahaya.

Terbitan perdana Life memuat berita pembangunan Fort Peck dam di Montana. Selain untuk sampul majalah, Margaret Bourke-White, sang fotografer, juga merekam kehidupan pekerja dan aktifitas keseharian mereka. Hasilnya tampil dalam bentuk esai foto yang kita kenal sekarang: penyatuan elemen-elemen terpisah dalam satu tema. Foto tidak hanya tampil seadanya sebagai kelompok, tapi ditata dalam kesatuan yang bercerita dalam sembilan halaman majalah.

Esai foto ini berhasilkan membangkitkan romantisme masyarakat Amerika akan semangat kehidupan kaum frontir masa lalu. Sebuah rekaman yang sesuai dengan jargon “menghadirkan� dalam manifesto Life.

Esai foto tentang keseharian

Selama perang dunia ke II, selain Robert Cappa, salah seorang fotografer yang tekemuka adalah Leonard. Dia bergabung dengan Life pada usia 22 tahun. Setelah perang usai, masyarakat menginginkan berita pembangunan pasca perang. Tentang keseharian manusia. Untuk itu Leonard yang terkenal handal dalam pergaulan, ditugaskan untuk meliput kehidupan seorang wanita pekerja. Ia kemudian melibatkan diri dalam kehidupan subjeknya sedemikian dalam sehingga mereka mengabaikan kehadirannya sebagai forografer.

Keberhasillan Leonard terlihat dalm esai fotonya “The Private Life of Gweyned Filling”. Segala sesuatu tentang tentang kehidupan gadis ini tidak lagi rahasia. Leonard bahkan mampu membuat pembacanya merasa seolah gadis tersebut adalah tokoh yang mereka kenal dekat. Sedekat adik, kakak, anak atau isteri mereka sendiri.

Bercerita lewat gambar

Maitland Edey, Editor dari staff redaksi Life, dalam bukunya Great Photographic Esaay from Life, menyatakan bahwa esai foto merupakn bentuk yang paling kompleks, dank arena itu paling menantang. Pekerjaan ini tidak hanya melibatkan fotografer tapi uga editor dan desain grafis yang bekerja.

Dalam membangun sebuah esai foto, dibutuhkan seleksi dan pengaturan yang tepat agar foto-foto dapat bercerita lewat satu tema. Secara keseluruhan, masalah yang diangkat harusnya lebih dalam, lebih utuh, lebih imajinatif dan memberikan dimensi yang lebih luas dibandingkan yang dapat dicapai oleh foto tunggal.

Subjek untuk esai foto bisa sangat beragam; bisa kejadian, tokoh, gagasan atau sebuah tempat. Cara penuturanyapun beragam pula; kronologis, tematik atau apa saja. Esai bentuknya fleksibel. Yang terpenting adalah foto-foto tersebut saling melengkapi, menjadi sinergi dalam bentuk alur cerita.

Secara umum, seperti terlihat dalam contoh, foto-foto disusun menjadi cerita yang punya narasi atau alur. Foto pertama biasanya memikat, memancing pembaca untuk ingin tahu kelanjutan dari cerita tersebut. Selanjutnya foto-foto yang membangun badan cerita dan menggiring pemirsa ke puncak. Kemudian foto yang melengkapi cerita dan foto penutup yang berfungsi mengikat sekaligus memberikan kedalaman dan arti.

BERAPA PENDEKATAN UNTUK SEBUAH PENUGASAN

Foto Tunggal

Foto tunggal adalah foto yang dapat berdiri sendiri tampa perlu diterangkan oleh foto lain. Bila diberikan keterangan, foto tersebut sudah cukup menggambarkan semua yang mau diceritakan.
Misalnya fotografer mendapat penugasan untuk memotretan peluncuran sejuta pasang sepatu merek NIKE yang akan di ekspor ke luar negeri. Beberapa pendekatan foto yang dapat dilakukan antara lain;
  1. Foto Peristiwa; Kita dapat mengambil peristiwa tersebut beserta seremonialnya
  2. Foto Umum; Kita juga bisa momotret direktur utama perusahaan tersebut sedang memegang sepatu yang akan di ekspor. Latar belakang/backround nya ratusan buruh yang sedang bekerja di ban berjalan.
  3. Foto Feature; Kita juga bisa momotret buruh-buruh yang sedang beristirahat sambil bercengkrama dengan rekan-rekannya.
Sekarang kita sudah punya 3 macam foto tunggal. Salah satu foto dapat diberitakan tampa perlu tambahan foto lainnya.

Foto Perbandingan
Ketika kita mengamati mesin-mesin dan buruh, kita tentu saja menemukan hal-hal yang menarik perhatian. Tapi, akan segera terasa hasilnya hanyalah foto-foto statik yang tidak memberikan menggambarkan efesiensi. Untuk menggambarkannya kita perlu perbandingan, kecanggihan mesin versus tradisional.

Karena penggambarannya tidak mungkin dalam satu foto, maka kita butuh dua foto. Pertama foto yang menggambarkan aktifitas pemotongan kulit dengan tangan, yang kedua dengan mesin pemotong. Bila keduanya disertai dengan keterangan yang berhubungan dengan kecepatan, maka pembaca akan dapat gambaran yang hidup tentang efesiensi perusahaan tersebut.

Foto Sekuen
Bila kita sangat terkesan melihat proses selembar kulit menjadi sepasang sepatu, kemudian memotret tahapan demi tahapannya maka kita punya foto sekuen.

Foto Ilustrasi
Misalkan seorang reporter telah ditugaskan untuk menulis artikel tentang pabrik itu. Setelah mewawancarai menejer dan buruh di pabrik, ia memberikan penekanan pada dua hal. Pertama, si menejer yang progresif; kedua, sistem pembuangan yang ramah lingkungan. Maka kita dapat memotret si menejer dengan latar belakang system pengolahan limbah pabrik yang canggih. Foto tersebut sifatnya memberi ilustrasi.

Cerita foto butuh tema
Misalkan lagi, untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dari industri tersebut mengeksplorasi pabrik sehari penuh. Memotret menejer di depan meja kerja, para pekerja dengan ban berjalan, profil gedung yang megah, pengolahan limbah, mesin besar, foto detil dan banyak lagi lainnya. Secara keseluruhan foto-foto itu jauh lebih bercerita dibanding ilustrasi. Akan tetapi keseluruhan foto tersebut tidak dihubungkan dengan benang merah. Membaca akan melihat foto-foto tersebut sebagai elemen lepas, bukan merupakan kesatuan cerita.

Ketika berkeliling mengamati pabrik kita mendapati bahwa meskipun pabrik tersebut bersih, modern, dan rapi, beberapa karyawan merasa lebih nyaman dengan menambahkan pernik-pernik tertentu pada alat kerja mereka. Misalnya, kursi seorang buruh wanita ditambah bantalan kursi empuk. Di sudut lain terlihat termos bergambar mickey mouse milik buruh lainnya. Ketika mengeksplorasi dengan seksama ada lagi yang menempel stiker kecil bertulisan “demi nyai� dan beberapa hal lagi ang menunjukkan sentuhan pribadi penambahan kenyamanan kerja di pabrik yang ultra modern. Alhasil, kita mendapatkan sejumlah foto yang terikat oleh satu tema. Foto yang memperlihatkan bagaimana para buruh mengadaptasi lingkungan yang serba mesin agar merasa lebih nyaman. Lebih sesuai dengan kebutuhan fisik dan psikologis mereka.

Merancang sebuah cerita foto

Masih penasaran dan ingin cerita menukik lebih dalam? Mungkin saja kita beruntung karena wanita yang duduk dengan bantalan kursi sepertinya menjanjikan cerita yang menarik. Taruhlah namanya Aida, 32 tahun, janda dengan satu anak, telah bekerja sebagai buruh 7 tahun. Untuk menghidupkan cerita, kita mulai mengikuti Aida beberapa jam sehari. Sampai dia merasa terbiasa dengan kehadiran kita dan kita dapat menghasilkan foto-foto yang wajar.

Pada akhirnya foto-foto dapat disusun bagaikan sebuah cerita. Dibuka dengan gambar Aida yang memakai seragam tengah bekerja di pabrik. Senyumannya menyembul dari balik mesin seberat dua ton yang dalam semenit mampu menjahit 4 sepatu. Foto pertama ini akan memperkenalkan karakter tokoh kita pada pembaca, gambaran kepribadian dan pekerjaannya. Foto pertama diharapkan mampu mencuri perhatian pembaca sehingga tertarik untuk mengikuti kelanjutan cerita.

Dalam cerita foto, tata letak tidak tergantung dari urut-urutan pengambilan foto. Jadi foto yang mana saja bisa dipakai asalkan memenuhi persyaratan, menarik perhatian dan memiliki pesan.
Foto kedua menggambarkan Aida sedang tergesa-gesa mengantar anaknya ke sekolah naik bajaj. Walaupun bisa saja secara fotografis kurang menarik, tapi foto ini penting untuk melengkapigambaran akan tekanan situasi dan tanggung jawab si tokoh. Gambar berikutnya tentang sebuah pertemuan dengan sesama buruh. Wajah-wajah mereka tegang merundingkan sesuatu, tuntutan kenaikkan upah. Seterusnya adalah gambar Aida dan beberapa rekan sedang menyampaikan usulan tersebut kepada direksi. Kedua foto ini penting karena memberikan penjelasan yang mengikat cerita, meluas kedalaman dan arti cerita.

Foto berikutnya menggambarkan kekecewaan para pekerja, ketika Aida dan rekannya diberitahukan bahwa tuntutan mereka ditolak. Dan, puncaknya adalah foto Aida sedang mogok kerja – berdemo dengan buruh lainnya menuju gedung MPR. Sebagai penutup, foto yang menggambarkan kesedihan di wajah Aida yang menerawang dibalik terali besinya Polda.

Seperti dalam cerita pendek, cerita foto harus punya alur. Dengan foto pembuka cerita sehari bersama buruh pabrik sepatu ini memperkenalkan tokoh utamanya pada pembaca, kemudian membawa pada cerita selanjutnya. Menggiring pada klimaks dengan sebuah foto puncak. Dan sebagai penutup, foto yang menyelesaikan masalah dan menutup cerita.

Jadi disini pembaca diajak untuk melihat pabrik sepatu melalui kacamata seorang buruh. Mengikuti apa yang terjadi dengan Aida. Keseharian dalam kehidupan si tokoh akan menarik perharian pembaca karena difokuskan hanya pada satu orang. Gambaran kegembiraan, kesedihan, konflik dan kegagalan yang dialami tokoh akan menggugah rasa simpati pembaca.

Editor dan staf redaksi pada majalah Life, Maitland Edey dalam bukunya Great Photographic Essay from Life menyatakan bahwa esai foto merupakan bentuk yang paling rumit dan karena itu paling menantang dalam dunia fotografi. Pekerjaan ini melibatkan tidak hanya fotografer tapi sekaligus editor dan artis tata letak.
Dalam membangun sebuah esai foto, dibutuhkan seleksi dan pengaturan yang tepat, agar foto-foto tersebut mampu bercerita dalam satu tema. Masalah yang diangkat seyogyanya secara keseluruhan tampil lebih utuh, lebih dalam, lebih imajinatif, dan lebih menyentuh, dibandingkan dengan yang dapat dicapai oleh foto tunggal.

Subjek dalam esai foto sangat beragam pula: secara kronologis, tematik atau apa saja, esai bentuknya fleksibel, yang penting secara keseluruhan foto-foto tersebut saling memperkuat tema. Membentuk sinergi, penggabungan dua kekuatan atau lebih sedemikian rupa sehingga jumlahnya menjadi lebih besar daripada penjumlahan tiap bagiannya dalam menonjolkan tema.

Foto yang dipilih untuk menjadi esai foto harus disusun menjadi cerita yang mempunyai narasi atau plot line. Foto pertama haruslah memikat (eye catching) sehingga menarik minat pembaca untuk mengetahui kelanjutannya.

Selanjutnya foto-foto yang membangun badan cerita dan menggiring pemirsa ke foto puncak yang biasanya dipasang besar. Foto terakhir akan berfungsi sebagai pengikat, sekaligus memperluas kedalaman dan arti. Foto itu juga berfungsi sebagai penutup cerita, dan tak selalu dipasang besar

Esai foto merupakan ilmu yang sangat menarik, dan mudah untuk memberikan pengaruh kepada publik, dengan kuratorial atau bingkai yang lengkap tentang kondisi pada saat itu, hal ini akan memberikan pemahaman yang mudah bagi masyarakat penikmatnya.