Tuesday, October 28, 2008

Imajinasi Sumpah Pemuda

Moeslim Abdurrahman: Imajinasi Sumpah Pemuda Makin Jauh dari Harapan

SP/YC Kurniantoro

Mahasiswa dari Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Katolik Atma Jaya, dan Universitas Indonesia menjahit bendera di halaman Universitas Al Azhar Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (22/10/08). Acara ini merupakan pembukaan rangkaian peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda dengan tema "Reborn Indonesiaku".

[JAKARTA] Cendekiawan muslim Indonesia dari Muhammadiyah, Dr Moeslim Abdurrahman, mengatakan, semangat Sumpah Pemuda yang dapat dimaknai adalah sebuah imajinasi politik bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun, imajinasi yang luhur itu, makin jauh dari harapan

"Saat itu, para tokoh muda memiliki cita-cita terwujudnya keadilan sosial, kesejahteraan rakyat dan persatuan dan kesatuan sebagai sesama warga bangsa. Ironisnya, semua imajinasi itu semakin jauh dari harapan. Malah saya takut besok ketika bangun Indonesia sudah tidak utuh lagi," ujar Moeslim Abdurrahman kepada SP di Jakarta, Rabu (22/10).

Terkait dengan momentum Sumpah Pemuda, Moeslim mengatakan, bangsa ini membutuhkan para pemimpin yang dapat menyapa dan berkarya bagi rakyat tanpa pamrih politik. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pintar retorika dan pembenaran.

Menurutnya, partisipasi rakyat saat ini semakin tidak diberi ruang untuk berekspresi. Kebijakan dan program hanya tampak besar dalam bentuk iklan dan slogan, bukan dalam bentuk karya nyata atau perbuatan.

Momentum Awal

Sementara itu, tokoh muda dan Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Budiman Sujatmiko, mengatakan, Sumpah Pemuda merupakan momentum awal untuk mewujudkan imajinasi tentang sebuah komunitas yang kelak dinamakan bangsa Indonesia. Namun, masyarakat sering lupa, Indonesia dan ke Indonesian awalnya hanya sebuah angan dan mimpi, yang oleh para bapak bangsa diperjuangkan diwujudkan, karena adanya keyakinan bahwa ia perlu ada sebagai bukti bahwa proses pemanusiaan lewat kemerdekaan secara politik dan ekonomi haruslah terjadi.

"Namun, saat ini banyak orang membunuh imajinasi itu, dan membunuh cita-cita kemerdekaan manusia dan Pancasila. Bangsa ini terpuruk karena melupakan sejarah dan banyak mengkhianati nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945," ujarnya.

Menurut Budiman, Pancasila selama ini dipahami terlepas dari dua konteks, yaitu pertama konteks dari pidato kelahirannya pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno, selaku penggali Pancasila, dan kedua juga dilepaskan dari konteks keseluruhan isi Pembukaan UUD 1945.

"Padahal, pidato Bung Karno 1 Juni dan Pembukaan UUD 1945 telah menegaskan bahwa Pancasila itu menjamin bahwa Indonesia bukanlah negara untuk satu golongan, melainkan semua golongan agama dan suku," ujarnya.

Dia mengemukakan, Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa masyarakat Pancasilais itu harus menciptakan masyarakat yang berkeadilan sosial. Bung Karno menyebut ini sebagai masyarakat sosialis Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Dia menambahkan, tugas generasi muda dalam rangka Sumpah Pemuda kali ini adalah menyatukan Pancasila dengan pidato 1 Juni dan Pembukaan UUD 1945, sehingga Pancasila lebih punya landasan atau argumentasi etis serta perangkat operasional di tengah masyarakat. Jika tidak demikian, lanjutnya, generasi muda akan lebih memilih jadi penganut fundamentalisme, baik itu fundamentalis agama maupun fundamentalisme pasar. [E-5]


Last modified: 22/10/08