Tuesday, October 28, 2008

Bunuhdiri dan Sakit Jiwa Meningkat di Korsel yang Dibelit Krisis

Seoul (ANTARA News) - Situasi ekonomi yang suram dituding sebagai penyebab meningkatnya gelombang bunuhdiri di Korea Selatan, situasi yang mengulang dampak krisis finansial Asia pada 1997-1998 di negara itu, laporan berita menyatakan pekan ini.

Para pakar medis menyatakan sakit mental juga telah merebak di sini, di tengah terjungkalnya pasar saham pada waktu belakangan ini.

Kantor berita Yonhap melaporkan seorang pria berusia 47 tahun di Gwangju, Korea Selatan barat daya, melakukan bunuhdiri Minggu lalu setelah menderita kerugian besar dalam investasinya di pasar saham.

Ia ditemukan tergantung di kamar mandi apartemennya, Jumat, kata Yonhap, mengutip laporan polisi setempat.

Pria itu menanamkan modalnyua di pasar saham dengan nilai 370 juta won atau sekitar Rp 3 miliar pada dua tahun lalu.

Namun demikian, pria mengalami kerugian dua pertiganya dari modalnya akibat jatuhnya pasar saham.

"Mereka yang mengalami depresi cenderung menyalahkan diri sendiri bila segala hal menjadi kacau. Mereka menyiksa diri akibat kehancuran pasar saham, sekalipun krisis itu merupakan krisis global," katanya.

Bertindak atas petunjuk keluarganya, polisi menemukan pria itu menulis surat pemberitahuan bunuhdiri di mobilnya yang diparkir di tempat sepi, dengan seutas kabel melingkar di lehernya.

Istrinya dapat diselamatkan setelah minum pil tidur di rumahnya.

Pada 9 Oktober, seorang karyawan berusia 32 tahun dari sebuah perusahaan jasa keamanan ditemukan menggantung diri di sebuah penginapan di Seoul, juga tampaknya aksi bunuhdiri terkait dengan tumbangnya pasar saham, kata Korea Times.

"Suami saya terus berkata dirinya bersalah di depan keluarga dan ingin mati saja," kata istrinya kepada polisi.


Modal pinjaman amblas

Pada hari yang sama polisi berhasil menggagalkan upaya bunuhdiri sepasang suami-istri berusia 60 tahunan, tulis Korea Times.

Mereka meminjam 100 juta won dari sebuah perusahaan sekuritas pada Oktober lalu, dan menanamkannya semua di pasar modal dan modal mereka amblas seketika.

"Sekitar 20 persen pasien saya mengeluhkan kepedihan yang mendalam akibat kejatuhan pasar saham. Itulah alasannya mengapa mereka mengalami depresi," kata Ha Jee-Hyun, seorang psikiater di RS Universitas Konkuk kepada AFP.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pekan lalu bahwa krisis ekonomi global kemungkinan akan menyebabkan naiknya angka bunuhdiri dan sakit mental, dengan banyak orang sedang berjuang mengatasi kerugian akibat disitanya rumah mereka atau lenyapnya penghasilan mereka.

Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, telah merosot lebih dari separuhnya dari rekor tinggi 2.085 poin pada Nopember tahun lalu, terutama akibat obral saham dari para investor asing. Penjualan asing mencapai 34,3 triliun won hingga sejauh ini pada 2008. (*)

COPYRIGHT © 2008