Friday, October 17, 2008

Penculikan aktivis

Subject: Warta Berita - Radio Nederland, 15 Oktober 2008
Date: Wed, 15 Oct 2008 15:10:01 +0000
From: Radio Nederland Berita list manager

* KERAHASIAAN, KUNCI UTAMA DALAM PENCULIKAN

Di belakang layar berlangsung upaya keras membebaskan Willem Sools. Juru rawat Belanda dari organisasi internasional Medecins du Monde diculik akhir September lalu oleh pemberontak Somalia. Sools bukan perkecualian. Di seluruh dunia, staf organisasi bantuan makin sering menjadi korban penculikan. Di Somalia saja, puluhan staf regu bantuan diculik tahun-tahun belakangan. Bagaimana organisasi bantuan bisa menghadapi penculikan stafnya dan apa yang sebaiknya tidak dilakukannya? Laporan redaktur kerja sama pembangunan Pieternel Gruppen.

Bagi pemberontak, staf organisasi bantuan merupakan sasaran menarik, karena bisa menghasilkan banyak uang. Beberapa staf diasuransi untuk menghadapi penculikan. Kebanyakan LSM juga punya dana khusus untuk menghadapi bencana. Dana itu juga bisa dipakai untuk membayar uang tebusan. Lagipula, pada sebagian besar negara Eropa, uang tebusan bisa dipotong dari pajak. Tapi dengan penculikan staf regu bantuan, yang pada umumnya mendapat banyak simpati di barat, para pemberontak juga bisa mengeluarkan 'pernyataan politik'. Sejauh diketahui, para penculik Sools tidak menuntut uang tebusan, namun menuntut pembebasan tahanan Somalia di Etiopia.

Menurut Marianne Moor yang bagi IKV Pax Christi meneliti penculikan di seluruh dunia, organisasi bantuan biasanya mempersiapkan diri atas penculikan.

Marianne Moor: "Organisasi bantuan biasanya punya peraturan ketat soal keamanan. Dalam beberapa kasus, staf mereka sudah harus pulang sebelum malam tiba, dan selalu bepergian berdua. Tapi dalam kasus penculikan, biasanya timbul reaksi panik. Pada umumnya tidak tersedia protokol jelas apa yang harus dilakukan organisasi bantuan itu."

Panik

Kendati kepanikan itu, menurut Moor sangat penting bahwa pelbagai organisasi bantuan bekerja sama dengan diplomat dan anggota keluarga terculik. Dengan menetapkan satu strategi dan menunjuk satu juru bicara, maka dapat dicegah para penculik mengadudombakan satu kelompok dengan yang lainnya. Ini misalnya terjadi pada penculikan staf regu bantuan, Arjan Erkel, musim panas 2002. Staf Dokter Nir Batas ini ditahan di Dagestan selama 20 bulan. Dalam penanganan kasus ini, dibuat banyak kesalahan, ujar Sicko Pijpker, ketua Security Platform, kelompok LSM yang bekerja sama di bidang keamanan.

Sicko Pijpker: "Kasus penculikan ini berakhir kacau, karena banyak pihak turut campur tangan. Juga perselisihan antara Departemen Luar Negeri dan Dokter Nir Batas tidaklah baik.

Uang tebusan

Semakin lama sebuah penculikan, semakin besar kemungkinan pihak-pihak yang terlibat berbeda pendapat. Misalnya soal pembayaran uang tebusan. Menurut Moor dan Pijpker, organisasi bantuan tidak perlu membayar uang tebusan. Kalau sampai membayar, maka orang justru mendanai perang ketimbang mengurangi perang itu. Marianne Moor dari IKV Pax Christi mengerti bahwa sanak keluarga kadang-kadang tidak bisa menerimanya.

Marianne Moor: "Ini jelas suatu dilema besar. Karena itu sangat penting membahas dulu protokol organisasi bantuan seputar penculikan, baik dengan staf bersangkutan maupun keluarga. Ini sering tidak terjadi."

Kerahasiaan

Tekanan untuk membayar uang tebusan makin besar ketika kasus penculikan tertentu menjadi berita besar. Sebaiknya jangan mengungkapkan kasus penculikan kalau masih berlangsung. Demikian anjuran Sicko Pijpker.

Sicko Pijpker: "Kerahasiaan sangat penting dalam menyelesaikan kasus penculikan. Kerahasiaan pers, keluarga dan organisasi. Semuanya yang terlibat harus punya satu tujuan, yakni mengembalikan terculik dalam keadaan hidup."

Majikan Willem Sools tampaknya mengikuti anjuran Pijpker ini. Menurut juru bicara Medecins du Monde, cabang Belanda, organisasi ingin sesedikit mungkin memberikan informasi soal kasus ini, sehingga tidak membayahakan stafnya.