Tuesday, October 28, 2008

Semburan Lumpur Sidoarjo Diperkirakan Berlangsung 140 Tahun

Jakarta (ANTARA News) - Semburan lumpur panas di Sidoarjo diprediksi sebagai proses pembentukan gunung lumpur (mud volcano) yang bisa berlangsung hingga 140 tahun.

"Lumpur Sidoarjo akan menjadi 'natural event' yang bisa berlangsung 6-140 tahun, namun perkiraan yang baik adalah 32 tahun," jelas Prof. Richard Swarbrick dari Geopressure Technology Ltd Science Labs, Durham, Inggris, saat berbicara dalam konferensi geologi di London, sebagaimana dikutip siaran pers Lapindo Brantas Inc, Jumat.

Dalam konferensi geologi internasional yang berlangsung 21-22 Oktober lalu, semua geolog internasional sepakat semburan lumpur Sidoarjo (Lusi), yang dikenal sebagai lumpur Lapindo adalah sebuah mud volcano yang biasa muncul akibat remobilisasi sedimen dan fluida cekungan bawah tanah.

Gunung lumpur itu sudah tidak menjadi isu hangat lagi dalam konferensi geologi internasional yang berlangsung di Burlington House Piccadilly London. Namun isu pemicu terjadinya Mud Volcano menjadi fokus diskusi dalam pertemuan pakar geologi dunia itu.

Beberapa geolog kelas dunia itu bahkan berpendapat, merasa beruntung karena bisa menjadi saksi dan mempelajari gunung lumpur raksasa yang sedang lahir dan tumbuh.

Pada kesempatan itu juga dijelaskan bahwa gunung lumpur akibat remobilisasi lumpur bawah tanah itu sudah lama menjadi obyek penelitian ilmuwan global. Ilmuwan Eric Deville dari Perancis dalam memberikan ceramah utamanya mengatakan, "mud volcano adalah sebuah sistem bumi agar lestari".

Puncak sesi diskusi mengenai Lusi ketika Dr. Richard Davies dan ketiga temannya menyatakan bahwa semburan Lumpur Sidoarjo adalah akibat pemboran (drilling) BJP I.

Namun peserta seminar Dr. Nurrohmat Sawolo ahli drilling dari PT Energi Mega Persada (EMP) langsung menepis hipotesa tersebut. Karena semua data yang dijadikan dasar penyimpulan Davies sangat beda dengan data drilling otentik yang dimiliki Lapindo. Padahal data versi Lapindo itu asli dan menjadi pegangan kepolisian dan kejaksaan RI dalam penyidikan kasus Lusi, katanya.

Pembicara dari Indonesia, Bambang Istadi menyimpulkan bahwa semburan Lusi bukan disebabkan oleh "underground blowout". "Dasarnya ada empat fakta berdasar data autentik Lapindo," jelasnya. Pertama, data rekaman tes temperatur dan sonan selama 50 hari terhadap sumur BJP I menunjukan hasil menolak fenomena blowout. Fakta kedua tidak ada luberan, gas, steam, ataupun lumpur keluar dari Sumur BJP ketika dibuka.

Fakta ketiganya adalah melalui re-entry diketahui mata bor tidak jatuh walau semburan yang berjarak 200 meter dari sumut BJP itu sudah berlangsung satu setengah bulan. Bila terjadi underground blowout pasti mata bor itu jatuh karena material lumpur yang keluar sudah jutaan ton.

Fakta keempat tidak ditemukan "synthetic oil based drilling" dalam tes di berbagai titik survey semburan. "Semua fakta menunjukan sumur BJP masih sehat dan tidak terkoneksi dengan semburan," jelasnya.

Peserta conference Dr. Christopher Jackson dari Imperial College London menyarankan solusi. "Harus segera ada kerjasama dan sharing data agar penyimpulan pemicu semburan Lusi menjadi benar," ujarnya.

Sejak awal peserta geolog internasional yang datang dari Amerika, Kanada, Perancis, Italy, Norwegia, Australia, German, Turki, Namibia, dan penjuru Inggris, Wales dan Skotlandia dalam konferensi ini sepakat bahwa Lusi sebuah mud volcano sebagai produk remobilisasi sedimen dan aliran fluida diwilayah cekungan bumi yang lemah. Karena itu semburan Lusi tidak bisa ditutup. (*)

COPYRIGHT © 2008

http://www.antara.co.id/arc/2008/10/24/semburan-lumpur-sidoarjo-diperkirakan-berlangsung-140-tahun/