Tuesday, October 28, 2008

Krisis Ekonomi Global Perkuat Investasi Lokal

Jakarta (ANTARA News) - Perekonomian global dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan ini mengalami turbulensi yang dipicu oleh kejatuhan sektor keuangan di Amerika Serikat, yang secara cepat merontokkan harga pasar saham di Indonesia.

Oleh karena itu, kata pendiri CWMA (Certified Wealth Managers Association), Maikel Sajang Bati dalam panel diskusi, di Jakarta, Senin, para pelaku pasar jangan kapok berinvestasi, tetapi justru saat tepat untuk memborong harga saham yang saat ini sedang jatuh itu.

Dikatakan, krisis yang diawali oleh krisis subprime mortgage pada pertengahan 2007 yang membawa kerugian besar bagi bank komersial, bank investasi dan asset management yang mengelola instrumen keuangan berbasis kredit subprime mortgage, khususnya terhadap bank-bank besar global di kawasan Amerika Serikat dan Eropa, dengan cepat mempengaruhi perekonomian nasional.

"Indonesia juga diperkirakan akan terkena dampak lanjutan krisis keuangan global itu, yakni di sektor keuangan akan terjadi kekurangan pasokan likuiditas di sektor keuangan dan penurunan permintaan dan penurunan harga komoditas utama ekspor Indonesia, seperti Crude Palm Oil (CPO) dan Batu Bara (Coal)," katanya.

Dikatakan, CWMA saat ini mempunyai lebih dari 3.500 anggota yang tersebar di berbagai bidang. Oleh karena itu, CWMA sebagai asosiasi dari para wealth manager, perlu memberikan pencerahan bagi anggotanya (yang tersebar di hampir semua bank di Indonesia, perusahaan asuransi, dan perusahaan sekuritas.

Menjawab pertanyaan, ia mengatakan, untuk menghadapi krisis, para investor saya anjurkan untuk tidak kapok berinvestasi secara selektif. "Kondisi di Indonesia masih lebih baik dibandingkan kondisi di negara-negara lainnya, sehingga investasi di Indonesia akan lebih aman dan menjanjikan hasil yang lebih baik dibandingkan investasi di negara lain," katanya.

Dalam situasi yang sedang tidak menentu sehubungan dengan krisis keuangan global yang terjadi, kita harus kembali mendasarkan tindakan kita pada prinsip investasi, yaitu, Risk and Retur. Setiap investasi memiliki risikonya masing-masing yang sesuai dengan tingkat potensi hasil investasi (high risk, high return). Investor hendaknya menyesuaikan investasinya dengan profil risiko yang diinginkannya. Risiko yang diambil dan return yang diharapkan merupakan gabungan dari beberapa jenis aset yang dimiliki (berupa portofolio investasi).

Langkah cerdas


Dalam menghadapi krisis itu, diperlukan langkah cerdas, seperti, Jika anda mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda.

Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana anda maka anda membuat keadaan semakin memburuk.

Langkah lain, kata Maikel, jika anda memiliki saham dan turunannya, sebaiknya di "hold" dulu kecuali ada keperluan keuangan yang mendesak sehingga kita harus menjualnya. Ikut ikutan menjual saham akan memperburuk keadaan saja.

Peganglah rupiah. Jika anda ikut ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal, dan inflasi dalam negeri akan semakin naik, katanya, seraya menambhkan, krisis akan lebih cepat berlalu jika kita tenang dan waspada.

Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional karena cadangan devisa kita cukup kuat, tegasnya.(*)