Thursday, June 30, 2011

kebebasan berekspresi internet

Kebebasan berekspresi internet? Apa iya memang ada, bagaimana mungkin ketika untuk mengakses internet pun harus membayar ini itu, berlangganan, punya komputer atau gadget, apanya yang bisa dikatakan bebas, berekspresi? ekspresinya?. atau mungkin dikatakan bebas ketika siapapun bisa menggunakannya dengan catatan, bisa menggerakkan mouse, mata bisa melihat, dan sebagainya menurut batasan masing-masing?.

terkapar

Bukan untuk membuat pertautan suci menjadi hilang, hanyalah mewarta bahwa betapa taut itu membawa rasa dan pedih ketika sangat kencang, bahkan menusuk-nusuk dalam hati yang sangat lemah ini ketika semakin kencang dan kencang saja. Terpaksa mulut harus mengaduh dan mengatakan apa maksud dan dibalik rasa tautan tersebut ketika harus diterjemahkan dalam perbuatan yang tentu saja bukan ejawantah atau pelaksanaan atas rasa yang selalu ingin dekat, tak mau sedetikpun kehilangan apalagi dua detik.

Thursday, June 16, 2011

fenomena alam

Ada apa sebenarnya dengan negeri begajul yang nyeleneh hobinya pengumuman keadaan via twitter atau media sosial lainnya. Masih untung ketika hal tersebut tak bersuara alias silent. Jadi tidak heran apabila mendengar mention kepada Tuhan dengan alat penyeru suara dan bahkan dibuatkan tower agar bisa didengar lebih jauh, meski tak ada ratusan meter disana ada juga tower dengan polusi suara fales yang tak kalah kerasnya.

Tuesday, June 14, 2011

menantang hidup

Bahwa kemudian air mata ini mengalir bak air bah. Selalu saja datang dengan tiba-tiba, ujug-ujug mak bedunduk, bukan soal lagi, karena setiap malam pasti begitu, terulang dan berulang bagai penggalan malam siang tak pernah berhenti. Beralun dalam melampaui haang rintang entah ada gempa, hujan deras ataupun gunung meletus sekalipun, malam dan siang selalu berganti. Bekerja dengan penuh profesional entah siapa yang membayarinya atau siapa yang bertugas menjadi mandornya.

Wednesday, June 8, 2011

semesta rasa

Ketahuilah, hadirmu di tiap-tiap detik yang berlalu mengawali, mengisi hingga mengakhiri hari bukanlah sebuah hal yang aneh. Mengapa? bahkan pertanyaan itu sudah tidak ada lagi, lama sekali. Betapa bayang cahaya atas nama dirimu tersebut selalu setia menemani. Ada banyak kemungkinan yang mewujudkan hal itu terjadi, pertama adalah harapan dari jiwa yang mendamba, kedua adalah betapa damba mewujud menjadi angan, untuk kemudian mengakar dan menempel dalam inderawi lahiriah dan dikenali pikiranku sebagai sebuah bentuk imaji kehadiran yang tak kenal waktu, masa, lelah dan jemu.