Wednesday, June 8, 2011

semesta rasa

Ketahuilah, hadirmu di tiap-tiap detik yang berlalu mengawali, mengisi hingga mengakhiri hari bukanlah sebuah hal yang aneh. Mengapa? bahkan pertanyaan itu sudah tidak ada lagi, lama sekali. Betapa bayang cahaya atas nama dirimu tersebut selalu setia menemani. Ada banyak kemungkinan yang mewujudkan hal itu terjadi, pertama adalah harapan dari jiwa yang mendamba, kedua adalah betapa damba mewujud menjadi angan, untuk kemudian mengakar dan menempel dalam inderawi lahiriah dan dikenali pikiranku sebagai sebuah bentuk imaji kehadiran yang tak kenal waktu, masa, lelah dan jemu.

Ketahuilah, tak mungkin meneruskan alasan tersebut sebab tiadanya kekuatan lagi dari hati untuk menopang kewarasan pikir selain hanya menghadirkan bayangmu sebagai pilar kuatnya jantung berdetak menantang dan menjalani hari demi hari, bulan demi bulan. Hanya dan demi hanya menunggu serta tak kuasa untuk mengingkari betapa berharganya sebuah bayang dengan binar cahaya di mata bagai telaga kabahagiaan dan muara harap yang tak mungkin kunafikan karena sudah menjadi tujuan dan pelabuhan kalbu untuk tak terombang-ambing dengan iming-iming apapun.

Ketahuilah, cinta dan romantisme di dunia alang kepalang depan penglihatanku ini. Belum pernah kumiliki bahkan diri selalu saja mencari dan mencari betapa apakah cinta dan romantisme serta bagaimana wujudnya. Sudah terlalu jauh masa berlari bahkan aku tak sempat mengenalnya. Cinta dan romantisme hanya ada dalam khayalanku ketika membaca buku dan melihat gambar bergerak dengan cerita kias bak di rekayasa, tak sanggup ku mengenalnya dalam rentang waktu yang selalu kujalani bahkan mungkin ketika harus melepas nafas nanti di saat terakhir raga bisa menghirup dan mengolah oksigen untuk menjalani rasa.

Ketahuilah, hanya rasa yang menjadi harta kekayaanku. Rasa inipun sesuatu yang tak dapat kukendalikan dengan sepenuh pikir dan hati. Rasa yang selalu hadir mendapatimu menemaniku dalam kelamnya harap dan damba dalam cahaya keluaran sebuah pelita yang kukagumi sepenuh arti. Betapa kekaguman telah membuatku terpenjara dalam sebuah sepi tanpa tepi, meski kadang pelita tersebut dapat kusentuh, kucium bahkan kupandang dengan mata telanjang ketika pelita itu datang untuk kemudian pergi secara nyata, namun pelita berwujud bathiniyah masih setia selalu menemani meski mungkin dalam  bentuk imaji khayal yang menjiwai seluruh langkah dan nafasku.

Ketahuilah, sepi mencekam bersama cahaya pelita menjadi bagian tak terpisahkan dalam nurani yang selalu saja mencari dan berserak kalang kabut saat merindu sang binar. Ya, itulah dirimu yang temani diriku jalani tugas dari Dia sang pemilik cinta seluruh semesta rasa. Tak ayal betapapun perih dan getir kurasa hanya dirimu peneguh langkah meski dalam imajiku sebagai cahaya pelita. Aku merindu wahai sang penawar getir dan perih dengan segala rasa yang kusampaikan.