Thursday, June 16, 2011

fenomena alam

Ada apa sebenarnya dengan negeri begajul yang nyeleneh hobinya pengumuman keadaan via twitter atau media sosial lainnya. Masih untung ketika hal tersebut tak bersuara alias silent. Jadi tidak heran apabila mendengar mention kepada Tuhan dengan alat penyeru suara dan bahkan dibuatkan tower agar bisa didengar lebih jauh, meski tak ada ratusan meter disana ada juga tower dengan polusi suara fales yang tak kalah kerasnya.
javascript:void(0)

Negeri yang ahli dengan pencitraan perifer, negeri penuh cuap, sebagaimana peribahasa tong kosong berbunyi nyaring. Begitulah sepertinya meski bagaimanapun harus bisa diterima dengan bijak. Jangankan bicara liberalisme ataupun kesenjangan sosial. Karena ternyata liberalisme dan kebebasan berekspresi hampir senada dengan gawan bayen bangsa ini.

Tidak heran apabila media sosial penuh hiruk pikuk dengan sesuatu yang tak berarti dan tak dalam. Jangankan yang 140 karakter, yang bebas jumlah karakternya pun tak luput dengan nada-nada tersebut. Bahkan bencana yang dialami Google pun seperti mesin perambannya yang sering tersesat dengan konten-konten palsu bahkan bajakan ditambah hanya potongannya saja. Menjadikan harus mentweak algoritmanya, maklum akses layanan publik harus berjalan dengan memuaskan.

Apa mau dikata, ketika ajaran agama memberikan petunjuk untuk melaksanakan sholat gerhana, namun yang terjadi adalah masyarakat malah terpesona dengan gerhana bulan. Apakah agama juga akan mentweak ajarannya?. Sangat tidak mungkin karena yang pasti akan selalu pasti dan yang berusaha mendapatkan citra baik dan mengikuti perubahan sosial akan selalu bergerak. Jadi apa maksudnya, jelas ada banyak pandangan untuk hal ini, meski semuanya positif, rasional dan atau mungkin sudah tidak terpikirkan lagi?.

Fenomena alam memang akan selalu menarik dan menyita perhatian siapapun. Meski itu adalah hilangnya cahaya, menuju kegelapan, menuju kesuraman, namun festival akan hal itu selalu saja akan dirayakan untuk melupakan rasa pahit dan kesedihan yang mencekam. Tidak jadi apa ketika lupa massal terjadi secara massif dan diakui menjadi trend meskipun dibalik itu ketidaktahuan merajalela dimana-mana untuk kemudian melahirkan informasi simpang siur bahkan fitnah, pun akan muncul mentor atau patron baru yang dengan menggunakan trend dia akan menjadi penguasanya, dalam segala bentuk keniscayaan dan menyingkirkan sesuatu yang pasti.

Kita semua adalah bagian dari alam, dan fenomena alam tersebut tentunya adalah fenomena kita semua, mengapa harus ada kejadian yang sanggup mencipta sita perhatian?. Tidak harus dipikirkan atau diselami untuk sekedar cukup menjadi pertanyaan dimana akan dijawab sendiri-sendiri dalam benak, cuap dan ucap yang akan menjadi trend selanjutnya.