Thursday, June 30, 2011

kebebasan berekspresi internet

Kebebasan berekspresi internet? Apa iya memang ada, bagaimana mungkin ketika untuk mengakses internet pun harus membayar ini itu, berlangganan, punya komputer atau gadget, apanya yang bisa dikatakan bebas, berekspresi? ekspresinya?. atau mungkin dikatakan bebas ketika siapapun bisa menggunakannya dengan catatan, bisa menggerakkan mouse, mata bisa melihat, dan sebagainya menurut batasan masing-masing?.

Ada yang tidak pas disini, atau karena liberalisme kapitalisme telah tertanam dalam lubuk sanubari kita, dimana semua harus ada prasyarat uang, prasyarat kompetisi dan semua sudah mendarah daging dan serta kita semua mengamininya tanpa bertanya lebih jauh lagi. Untuk apa dan kepentingan siapa?. Bisa saja kebebasan mengakses tapi harus ke warnet atau punya perangkatnya. Internet hanyalah dunia sempit yang terbatasi dengan layar monitor beberapa inch, sebatas teks jika membaca dan akalu mau ngakses gambar bergerakpun perlu dukungan koneksi yang cepat. Atau telekonfrens, dalam jaringan amburadul telekomunikasi negeri kita?. Lantas mengapa kita bisa dengan gagah mengatakan kebebasan berekspresi internet?

Bukan kebebasan berekspresi internet rupanya ketika segalanya dalam batasan, belum lagi ancaman negara akan peraturan-peraturan yang melarangnya. atau memang kita sudah kembali lagi pada alam imaji. Namun kalau berbicara informasi memang disinilah tempatnya, dengan segala filter yang harus kita miliki sendiri. Sebagaimana di kehidupan nyata bahwa simpang-siur adalah hal yang lumrah.

Ataukah simpang siurnya informasi adalah apa yang dapat kita namakan kebebasan berekspresi internet? Bukan tentu saja, kebebasan adalah aspek dengan banyak makna, namun kebebasan yang ugal-ugalan bukanlah serasi dengan fitrah kemanusiaan. Sebagaimana dalam film dokumenter Linimas(s)a produksi internet sehat. Ada pula kasus ketika sejuta pendukung untuk mendukung seseorang dari KPK dalam jejaring sosial Facebook, toh ketika ada ajakan turun ke jalan hanya berapa orang yang mau dan rela memperjuangkannya bukan seperti ribuan orang yang dengan mudah memencet tombol 'suka' di halaman Facebook.

Begitulah kebebasan berekspresi internet adalah bukan hal yang sangar dan dapat mengguncang stabilitas nasional, apabila pemerintah dan negara benar-benar bersih dan berada pada rel kuasa yang lurus, transparan dan sesuai dengan amanat penderitaan rakyat. Apa yang harus ditakutkan ketika semuanya itu dibangun atas dasar upaya untuk membangun karena toh perusahaan yang mengelola jejaring sosial media pun akan menerima ancaman yang mengerikan ketika berada pada titik yang salah dan mencelakakan.