Friday, January 16, 2009

Perempuan

Di motori gerakan nasionalisme, Indonesia tumbuh dan berkembang sebagai reaksi terhadap ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang diciptakan tatanan kolonial Belanda. Namun dari pelajaran sejarah di sekolah dan buku-buku sejarah konvensional kita tidak pernah mendapat gambaran cukup jelas tentang apa sebenarnya penjajahan itu dan bagaimana Belanda mempertahankan kekuasaannya sedemikian lama. Hanya ditampilkan dalam wacana sejarah pada umumnya adalah orang Belanda jahat, penjajah bengis dan orang pribumi kemudian melawan dalam Perang Padri, Perang Jawa, atau Perang Aceh.

Kemudian urut-urutan klasik menuju Proklamasi Kemerdekaan: pendirian Budi Utomo, Sumpah Pemuda, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Mungkin karena itulah tetralogi Buru karya Sang Begawan Pramoedya Ananta Toer menjadi jauh lebih populer sebagai sumber pengetahuan sejarah. Tetralogi memberikan pemandangan yang kaya dan bermakna tentang kehidupan sosial masyarakat tanah jajahan dan tumbuhnya rasa kebangsaan di kalangan kaum terjajah. Melalui tetralogi ini sejarah tampil sebagai riwayat, bukan sekedar kronik membosankan tentang orang, tanggal, tempat dan kejadian.

Perempuan yang ditampilkan hanyalah Tjoet Nyak Dhien, Marta Christina Tiahahu, dan lebih celaka lagi adalah Ibu Fatmawati yang menjahit bendera pusaka, serta Ibu Kartini yang digambarkan memiliki hobi kirim-kiriman surat dengan Belanda (lagi). Hal ini masih diliputi warna dari kolonialisme itu sendiri yang sangat rasis, berdasarkan kelas dan seksis. Beruntung sedikit saat ini kita pernah memiliki presiden perempuan dan menteri-menteri perempuan yang cerdas, namun itu hanyalah dipermukaan saja dan karena gerakan-gerakan perempuan yang sudah mulai eksis, namun tetep saja masih diinjak dengan "kuota 30 persen".

Segitunya kaum laki-laki menindas perempuan yang telah berlangsung ribuan tahun bahkan sejarawan feminis Gerda Lerner mempelajari wilayah Mesopotamia, peradaban urban pertama di dunia yang berlangsung pada 3000 sebelum masehi, untuk memahami asal usul patriarki. Di wilayah itulah, yang sekarang menjadi Irak, negara-negara mulai berkembang. Negara didefinisikan oleh satu aparat permanen untuk mengumpulkan pajak dan melancarkan perang. Agar negara bertahan masyarakat harus ditata secara hirarkis. Lerner berpendapat bahwa salah satu unsur kunci dalam hirarki ini adalah keluarga patriarkal.

Setiap suami, yang disebut kepala keluarga, diharapkan memimpin keluarganya seperti sebuah negara dalam negara yang lebih besar. Hukum mengakui kewenangan suami atas keluarganya sendiri. Hukum juga membangun institusi untuk memastikan subordinasi seksual perempuan. Misalnya, Hukum Hammurabi (yang pertama kali ditulis pada 1750 SM) menentukan bahwa seksualitas istri adalah hak milik suami. Jadi, kalau istri melakukan perselingkuhan ia akan dihukum mati karena ia sudah melanggar hak eksklusif suami terhadap dirinya. Tetapi para suami bebas untuk melakukan hubungan-hubungan di luar nikah sesuka hatinya dengan perempuan yang belum menikah.

Nah loh, sejarah kita juga mencatat pemberangusan gerakan perempuan yang bergerak maju dengan bingkai "Penumpasan Komunis", yang di buat menjadi sangat ngeri dimana dikabarkan para cewek bahenol itu menyilet-nyilet kemaluan para petinggi militer yang menjadikan kemarahan yang sangat membabi buta dan meninggalkan kepedihan bangsa yang luar biasa.

Akankah kita menyadari betapa perempuan selalu menjadi korban dalam setiap pentas kekerasan, perebutan kekuasaan maupun di dalam rumah tangga. Akankah kemenangan-kemenangan gerakan perempuan saat ini dalam pengesahan UU KDRT, UU Kewarganegaraan dan kuota 30 persen akan berhadapan dengan gerakan fundamental keagamaan yang keblinger dalam bingkai "Kekuasaan laki-laki" yang selalu ereksi melihat perempuan sebagai ajang pertempuran dan pasti dapat dikalahkan.