Tuesday, December 2, 2008

Pintu Gerbang Kehancuran Tatanan Dunia

Semakin hari, semakin terasa aneh, njelehi dan menjijikan, selamat datang resesi ekonomi dunia, akankah dirimu membawa juga kehancuran dari keputusasaan manusia, yang nantinya akan menjadi keputusasaan kelompok, politik, hingga keputusasaan para pemimpin negara. Selama berabad-abad ini, entah dimulai dari kapan, entah setelah penemuan benua Amerika oleh Columbus, atau sejak perang Salib, atau memang ini adalah sisi hitam kemanusiaan, dalam arti harafiah, bukan yang lain.

Siapapun mengetahui baik sadar atau tidak, bahwa kehancuran ini, memang berawal dari ego kekuasaan, dan diakui juga dalam pepatah Jawa, bahwa hidup di dunia yang menjadi godaan adalah Tahta, Harta dan Wanita. Ternyata hal dulunya saya sepelekan ini akan mengejawantah dalam berbagai hal. Selamat datang Kehancuran dunia, seharusnya dengan mengendornya nafas perekonomian, mengacu pada teorinya ekonomi bahwa harga ditentukan oleh permintaan, namun hukum ini sebentar lagi akan diuji. Bayangkan jika PHK akan menjadi trend usaha, berapa banyak kemampuan daya beli masyarakat yang menurun, meskipun ini sudah terjadi di bursa uang, namun pada kenyataaanya nanti mungkin tidak berlaku lagi. Demi mempertahankan resiko kerugian, meski, orang yang usaha tahu bahwa dalam usahanya bisa untung atau rugi, mereka akan selalu mencari untungnya saja dan menghindari kerugian dengan menghalalkan berbagai cara.

Selamat datang kehancuran, sangat mengerikan sekali yang terbayang karena ego untuk mengganti nilai tukar dengan emas, namun emasnya di manipulasi hingga tidak ketahuan dimana akan dicari. PHK para buruh yang nanti menjadi hal biasa dan mode, dimana prosentase kalangan ini lebih banyak wanitanya, akan memunculkan bisnis tersendiri yang menyenangkan bagi yang punya duit, akan banyak seks yang dijajakan demi mendapatkan sepiring nasi, karena nantinya bisnis ini saking banyaknya akan turun nilai jualnya.

Negara sebagai organisasi yang besar, akan memproteksi ekonominya sendiri-sendiri dimana-mana digembar-gemborkan hidup mandiri, meniminimalisir import karena memberi makan orang lain, dan kemungkinan besar juga negara yang memiliki hutang besar akan dipukuli oleh para debt collector karena yang memberi hutang tidak menerima angsuran dan bunganya, sementara kelaparan dan kejahatan ada dimana-mana, mau tidak mau hutang harus segera dibayarkan. Maka tidak dipungkiri senjata akan beradu demi kertas yang telah menjadi tuhan dan disembah-sembah.

Masyarakat akan tumbuh rasa tidak percaya kepada administrasi negara, karena tidak dapat mengatur harga dan pasar yang sudah menjadi sedemikian bebas, dan memiliki kemauan sendiri, dimana intinya adalah profit taking, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dan tidak mau rugi meskipun keseimbangan ekonomi mengharuskannya. Maka muncullah konflik aneh, dimana harga-harga komoditi tetap mahal namun tidak ada permintaan.

Meskipun sudah demikian parahnya nanti, dan tidak ada yang memiliki kemampuan untuk mengubahnya, tetap saja Tahta akan diperebutkan oleh mereka yang ego dan otaknya demikian dalam terobsesi dengan tahta, demikian pula dengan harta, dan wanita akan tetap menjadi obyek dan pelengkap penderita. Hingga manusia akan mencari kematian sebagai cara untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang menurutnya sudah tidak masuk akal lagi.

Hal diatas mungkin sekali akan terjadi nanti, namun semoga saj tidak. Tanda-tandanya memang sudah kelihatan dalam penurunan harga BBM yang tadinya naik karena efek harga minyak dunia dan subsidi, namun setelah harga minyak dunia turun harga BBM masih saja bertahan, dan tidak turun banyak secara fair, dan harga biaya transportasi pun tidak turun, karena alasan profit, bukan karena hukum ekonomi yang memang sudah diingkarinya.

Semua komoditi akan dikenai pajak, karena satu-satunya penghasilan yang bisa diharapkan oleh negara, karena komoditi tambang yang merupakan berkah dari sang Pencipta sudah terjual atau habis dikuasai oleh asing. Serta tuntutan pembayaran hutang yang jatuh tempo dan nilainya sudah melambung berlipat-lipat juga karena permainan nilai tukar dengan mata uang asing, yang tentunya juga si pemberi hutang.

Nulis ini jadi ngantuk sekali deh...semoga ini cuma mimpi.

Jangan Harap Tarif Angkot Turun
Ahmad Munjin & Asteria
http://inilah.com/berita/ekonomi/2008/12/01/65741/jangan-harap-tarif-angkot-turun/

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah mulai hari ini sudah menurunkan harga premium Rp 500 menjadi Rp 5.500 per liter. Namun jangan berharap penurunan harga BBM ini bakal diikuti dengan penurunan ongkos transportasi ataupun harga jual bahan-bahan pokok.

Sepanjang Senin (1/12) tak ada reaksi dari kalangan pengusaha untuk merespon penurunan harga BBM jenis premium ini. Di Kota dan Kabupaten Cirebon misalnya, tarif angkutan kota (angkot) masih tetap Rp 2.500 per orang dewasa, sedangkan pelajar dan mahasiswa juga tetap Rp 1.500 per orang.

Di Tangerang juga tidak ada perubahan tarif. Ongkos jarak dekat angkutan R11 jurusan Perumnas Karawaci-Cikokol tetap Rp 2.000 per orang. Begitu pula di sejumlah kota nyaris tak ada respon untuk menurunkan tarif angkutan.

Alasan pengusaha angkutan ini jelas yakni besarnya penurunan harga premium yang hanya mencapai Rp 500 per liter, tetap tidak dapat mengimbangi besarnya operasional. Sehingga pengusaha pun memutuskan tarif angkot memang tidak ikut turun.

Alasan lainnya, pengeluaran yang telah dikeluarkan para pemilik maupun sopir angkot tidak hanya sebatas BBM tetapi juga untuk pembelian suku cadang kendaraan yang ikut naik sejak kenaikan BBM.

Sebelumnya Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen ESDM Sutisna Prawira mengungkapkan, terhitung mulai pukul 00.00 WIB 1 Desember 2008, harga eceran BBM tertentu jenis premium turun menjadi Rp 5.500, per liter dari sebelumnya Rp 6.000 per liter.

Ketetapan penurunan harga ini berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 38 tahun 2008 tentang Harga Jual Eceran BBM Jenis Minyak Tanah, Premium, dan Minyak Solar untuk Keperluan Rumah Tangga, Usaha Kecil, Usaha Perikanan, Transportasi, dan Pelayanan Umum, pada 28 November 2008.

Pemerintah menurunkan harga BBM terkait anjoknya harga minyak mentah di pasar dunia lebih dari 50% hingga sempat menyentuh level US$ 49 per barel, dibandingkan rekor tertinggi di level US$ 147 per barel Juli 2008 lalu.

Pemerintah juga akan mengkaji apakah penurunan harga jual premium juga akan diikuti dengan penurunan BBM jenis solar pada Januari 2009 mendatang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kajian menurunkan harga jual solar merupakan salah satu usaha meringankan beban rakyat.

"Kita baru saja menurunkan BBM, kita lihat apakah bulan depan solar juga bisa turun. Upaya untuk meringankan beban rakyat harus dilakukan sepanjang 'klop' dengan upaya penyelamatan perekonomian secara utuh," kata Presiden.

Sejumlah pengusaha transportasi memang berharap penurunan harga BBM juga berlaku pada jenis solar. Mengingat kendaraan besar seperti distribusi bahan pokok maupun produk-produk lainnya serta bus-bus antar kota banyak mengkonsumsi solar. Sehingga diharapkan penurunan harga solar dapat berdampak positif bagi iklim usaha.

Ketua DPR Agung Laksono menilai pemberlakuan kebijakan pemerintah tentang penurunan harga BBM ini positif, meskipun terlalu lama. Ia pun meyakini, turunnya harga BBM akan menggairahkan kembali daya beli masyarakat. “Ujungnya, pertumbuhan perekonomian di sektor riil diharapkan bisa kembali meningkat,” ujarnya.

Sementara ekonom Umar Juoro jauh-jauh hari sudah mengingatkan penurunan BBM ini tidak efektif bagi masyarakat terutama bagi yang berpendapatan rendah mengingat subsidi BBM dari pemerintah masih besar,.

“Kalau untuk menekan inflasi dengan menurunkan harga BBM memang bisa. Tapi menurut saya, nggak usah diturunkan BBM-nya. Penyesuaian BBM itu, terutama untuk premium, lebih baik menggunakan formula saja,” ujarnya.

Formulasi yang dimaksud Umar untuk menjadikan harga minyak domestik lebih efektif dan efisien adalah dengan menerapkan sistem auto rejection (penghentian otomatis) batas atas.

Sistem auto rejection merupakan solusi jitu untuk kebijakan harga BBM karena dapat mengamankan posisi APBN dari dampak gejolak harga minyak dunia. “Dengan rumus itu, jika harga minyak dunia terlalu tinggi maka subsidi distop,” katanya. [E1]