Friday, August 20, 2010

as usual....

sekejap datang makro itu membentang, luas bak terkira, dalam alunan senyap berbuai semilir angin tiba-tiba tanpa arah, berputar mengitari untuk kemudian menari-nari seakan membawa sebuah hentak yang lain, hentak pertama, hentak kedua, ketiga dan seterusnya, as usual ketika berada pada titik terendah ketidak tahuan akan apa makna ketika semua sudah tergoncang tak berbagi alasan ataupun makna. debu-debu terbawa angin itu pun as usual menari-nari membawa ejek atau puji yang tak tentu harap, kosong tiada benah apapun untuk dibawa, as usual hanya jujur yang terpukul oleh sesuatu diluar harap, tanpa makna ataupun bunyi saron nang ning nong neng nung....

as usual, tetes itupun terulang dalam semilir putaran angin buai nan ingin menghibur, tes pertama, tetes kedua tetes ketiga dan seterusnya, as usual tanpa makna akan kebermaknaan yang menghilang begitu saja, hanyut dalam lautan tak bertepi berselimut udara dalam hamparan debu-bedu, as usual hanya begitulah adanya, tanpa sesuatu berharap untuk berulang, apatah mau dikata sudah seharusnya begitu sebagaimana adanya sebagaimana biasanya, tak berarti tanpa toleh ataupun senggol juga demi sesuatu yang sudah tak bermakna lagi, as usual terlalu dalam untuk dipikir ataupun digali ada apa dibaliknya, sebagaimana biasa cenung renung tak bisa lagi goyahkan raut hati berhentikan tes keempat, tes kelima hingga tetes tak terhingga, as usual.. tiada terbagi.

mengapa terasa kembali, bukan tiada harap terjadi, hanya bayang akan kesepian untuk kemudian bertajali atas apa yang dimau dan siapa mau menghalang, tiada siapapun bisa berada diatasnya, menutupinya, menghitamkannya, ataupun menisbikan dalam sebuah daya nan tiada banding. untung masih ingat kan hal tersebut, hingga semua bentang menjadi bercahaya, bukan atas dasar narsis namun memang begitulah adanya, as usual sesuatu yang maha, membawa sifat dasar terdalam untuk survive tanpa mau terhenyak oleh apapun, meski itu bukan kesombongan, namun tak harus dan memang tiada bisa dinisbikan, bagaimanapun akupun tajali itu, miliknya, meski kadang tak semua bisa mengakuinya, bahkan menantang, ah .. as usual akupun pergi daripada kecoh atas apa terjadi diluar jangkau pikir pun rasa.

leleh luweh, bukan semata lipsync untuk menguras senyum ataupun teks hoax semoga bukan untuk menangisi atau spending my time atas apa terela hanya untuk dan demi sebuah pintu dirgahayu menuju sesuatu yang kuyakin itu ada dan tak dapat ku elak, barang sejumput arah meski duafa menanti disana. terukir selalu sebuah nistaku, jiaah.. memang hanya segitukah, as usual nistaku untuk selalu memuja, dengan extinction bunga hati tanpa pendar lagi, hanya pintu rapat dan gelap tanpa suguh ramah apalagi empathy. Begitulah as usual apa adanya... hanya bagi onggok debu tak berharga slalu buat belepot dan kerlip di mata nan pedas. as usual tak satupun hentak terasa, meski nafas terakhir pun tak kan terasa di ulu nurani itu, as usual.... tiada istimewa, as usual tiada berarti, as usual... ya sudahlah.




dust in the wind | kansas

I close my eyes, only for a moment, and the moment's gone
All my dreams, pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind, all they are is dust in the wind.
Same old song, just a drop of water in an endless sea
All we do, crumbles to the ground, though we refuse to see

Dust in the wind, all we are is dust in the wind

[Now] Don't hang on, nothing lasts forever but the earth and sky
It slips away, and all your money won't another minute buy.

Dust in the wind, all we are is dust in the wind
Dust in the wind, everything is dust in the wind.