Wednesday, July 25, 2012

Anak SMA dan Pencarian Identitas

Anak SMA, Anak SMP hampir sama, mereka adalah remaja generasi penerus bangsa. Pendidikan melalui persekolahan saat ini sudah lebih dari mencukupi untuk mendidiknya menjadi orang-orang yang cerdas. Terbukti dengan banyaknya sekolah-sekolah berstandar internasional maupun nasional yang ada di kota-kota. Terlepas dari plus minus pemberitaan dan kongkalikong dibaliknya, namun selain anak-anak SMA maupun SMP yang sudah menjadi remaja dan cerdas, guru-gurunyapun tak luput dari harus mengelola kecerdasannya selain membuat laporan perkembangan pendidikan dalam mata ajar yang diasuhnya.

Menurut ahli Psikologi, Erickson, masa remaja dikenal luas sebagai masa-masa untuk mencari identitas. Pencarian identitas di masa Anak bersekolah di SMA cukup rumit dan berbeda satu dengan lainnya. Hal ini semoga tak luput disadari oleh para gurunya yang selain bekerja untuk menghidupi dirinya juga harus memperhatikan hal tentang perkembangan remaja SMA, tentu bukan hal mudah bukan.

Status identitas pada remaja atau anak SMA yang dicari-cari dijelaskan oleh James Marcia, juga dikuatkan oleh Santrock pada tahun 2003, Papalia pada tahun 2001, maupun Monks, 2000 dan Muss, 1988 berdasar pada Erickson. Identitas tersebut dikategorikan emnajdi empat status identitas seperti moratorium, diffusion/ confussion, identity achieved, dan foreclosure. Berbagai hal dapat terjadi dalam proses pencarian tersebut, ada yang lama, ada yang cepat, terkadang harus melampaui krisis identitas juga. Lingkungan yang kondusif untuk perkembangan ini sangat dibutuhkan oleh remaja SMA.

Rasa puas tidak puas terhadap keadaan yang diterimanya menjadi pertanyaan penting bagi anak SMA. Mereka memiliki kesempatan, waktu dan tenaga yang lebih untuk mencari segala hal yang membuatnya tidak nyaman, dan juga tidak putus asa dan tak kenal lelah mencari apa yang dianggapnya nyaman sampai ketemu.

Histeria dan euforia pada anak SMA sangat mudah meledak dan memerlukan pelampiasan yang tidak terduga dan tentu saja kadang harus dipaksakan. Identitas-identitas baru yang didapatnya dalam pertemanan atau persekawanan bersama membentuk kelompok-kelompok bahkan hingga geng tak lepas dan menjadi hal wajar dalam perkembangan remaja.

Coret mencoret seragam ketika lulus sekolah SMP atau SMA menjadi hal yang biasa. Juga coret mencoret tembok tentang apa yang disukai maupun apa yang tidak disukainya. Kadang dianggap negatif ketika tidak sesuai dengan keinginan lingkungan atau tidak seiring dengan kebijakan yang ada. Loang-lobang kenikmatan untuk melampiaskan hasrat ekspresi yang menggelinjang dalam diri remaja sangat sulit untuk di kontrol atau dibungkam. Kebijaksanaan selain sekolah dan lingkungan hingga pemerintah kota atau daerah diperlukan untuk memahami hal ini dengan memperbanyak event-event untuk ajang kreasi dan berekspresi bagi anak remaja hingga SMA bahkan kuliah.

Bagaimana kepentingan anak SMA untuk memuaskan hasrat ekspresi mencari dan tentang identitasnya, menjadi kepentingan semua orang demi terwujudnya generasi penerus yang tak mudah goyah dan galau karena ada hal yang tidak selesai dalam masa pencarian identitasnya. Jangan sampai kreatifitas yang tidak tersalurkan menjadi hal-hal yang di anggap tidak baik, seperti tangan-tangan setan.