Tuesday, October 1, 2013

sinengker

Cerita dan sejarah tentang Pembunuhan Massal kepada anggota Partai Komunis Indonesia menjadi hal yang selalu terkunci secara resmi menjadi rahasia yang bahasa Jawa-nya 'Sinengker'. Meski semua orang pintar dan tercerahkan mengetahui ada apa di balik peristiwa tragedi 1965-66, hanya menjadi rahasia yang selalu senyap meski kebenaran-kebenaran baru dimunculkan.

Apalagi masalah tentang 65, yang memakan korban lebih dari 500 ribu jiwa melayang sia-sia. Peristiwa-peristiwa baru seperti yang terjadi di tahun 1998, pembunuhan Munir bahkan pembunuhan wartawan Udin di Bantul pun hanya menyisakan kunci rapat ketertutupan yang entah sampai kapan masih 'Sinengker'.

Hal yang mengerikan adalah ketika orang yang mempercayai adanya Tuhan, bahwa doa-doa orang teraniaya pada suatu saat akan dikabulkan. Maka doa-doa ribuan bahkan mungkin sekarang jutaan manusia yang teraniaya karena kasus-kasus pelanggaran HAM atau kekerasan atas nama apapun di negara ini akan dikabulkan, karena tidak ada persyaratan dalam doa tersebut harus beragama tertentu, berbahasa tertentu, keluarga tertentu atau penganut kepercayaan tertentu, namun hanya dengan satu syarat bahwa mereka adalah orang yang teraniaya. Hal ini adalah 'Sinengker' milik Tuhan semata.

Sinengker adalah film yang menjauhi kekerasan, tidak seperti film 'Jagal' atau 'Act of Killing' yang dengan jelas mengeksplorasi dan mengajari bagaimana membunuh dengan santai. Dalam film Sinengker, terdapat bahasa yang pasti yaitu kesunyian, nestapa dan senyapnya korban dalam berbagai bahasa. Bahkan korban sendiri pun daripada lebih sakit lagi melakukan 'Sinengker' pada apa yang sudah diterimanya.

Begitulah sebenarnya cermin yang sejati. Tidak ada rasa dendam demi negara dan bangsa ini, karena yang sudah ya sudahlah, namun kerinduan akan proses hukum dan keadilan adalah hal paling manusiawi dan sangat wajar karena bagaimanapun perbuatan salah tentang membunuh yang membabi buta tidak pernah diajarkan dan bisa dimaafkan oleh sang pencipta kehidupan yang tentu juga membenci kematian yang bukan karena titahnya.

Namun memang hukum alam berkata lain demi menjaga hukum alam itu sendiri dan kebenarannya bahwa orang yang dipenggal kepalanya otomatis akan meninggal, ataupun karena kekerasan yang mengakibatkan rasa sakit hingga roh tak sanggup lagi menahannya. Kematian karena keterpaksaan keadaan menjadi hal yang sangat janggal dan sulit untuk diterima meski hal itu menjadi 'Sinengker'.

Sekolah-sekolah, guru-guru, maupun universitas menjadi pabrik-pabrik kebohongan yang akan menghancurkan negeri ini dari segala lini. Bahkan buku-buku yang berdasarkan riset berstandar akademis dianggap salah karena mengungkap kebenaran seperti di tulisan ini.

Sinengker memang seperti film fiksi yang sangat sulit untuk dipahami karena kebodohan dan pembohongan-pembohongan publik atas sejarah peristiwa tragedi 1965-66 yang akan membawa kehancuran ekonomi bahkan lainnya yang sudah dan akan kita nikmati bersama. Sinengker adalah paduan dan modifikasi dari berbagai riset sejarah tentang peristiwa 1965 yang dilakukan oleh Syarikat Indonesia di berbagai pelosok tanah air secara senyap, karena nama, tempat dan peristiwa adalah sangat berbahaya dan tidak artinya lagi untuk disebutkan, selain menjadi 'sinengker' itu sendiri. Entah sampai kapan.