Wednesday, June 19, 2013

prinsipnya: bagi-bagi

Rahasia mengapa korupsi dan banyak lagi keanehan di negeri begajul sepertinya terkuak dengan adanya semacam yang dahulunya dinamakan BLT (Bantuan Langsung Tunai), sekarang dinamakan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) sebesar Rp.150.000 dan Raskin (Beras untuk rakyat Miskin) sebanyak 30 kilogram beras mentah melalui Kartu Perlindungan Sosial (KPS) untuk keluarga Indonesia miskin.


Dana Bantuan Langsung Tunai Sementara Masyarakat (BLSM) akan didistribusikan kepada 15,5 juta keluarga warga Indonesia yang miskin. Selama empat bulan dikabarkan mulai akhir bulan ini akan diterimakan kepada rakyat keluarga Indonesia melarat miskin tersebut melalui kantor Pos yang sudah terengah-engah secara manajemen dan profit.

Selain itu pemerintah juga akan mengirimkan SMS kepada 250 juta warga Indonesia kaya yang memiliki telepon genggam untuk mengabarkan sebagai bentuk lain kata sosialisasi bahwa BBM - Bahan Bakar Minyak akan ganti harganya dari Rp.4.500 menjadi Rp.6.500 untuk bensin premium.

Jadi skenario kenaikan harga BBM harus bisa berjalan mulus dan tidak mengusik nikmatnya kemiskinan. Mengapa nikmat, karena rakyat Indonesia yang miskin banyak dan akan bertambah banyak, serta tidak keluar-keluar dari kemiskinan tersebut. Orang Indonesia miskin akan senang dan merasa terbantu dengan mendapatkan BLSM sebesar seratus lima puluh ribu rupiah selama 4 bulan dan membenci mahasiswa yang demo memacetkan jalan, merusak dan teriak-teriak seperti orang gila untuk menolak kenaikan harga BBM. Betul-betul ini yang namanya politik praktis, irit dan tepat guna, baik bagi kekuasaan maupun prestasi untuk stabilitas nasional.

Mahasiswa dan orang yang menolak kenaikan harga BBM akan dihadapkan dengan institusi negara dan rakyat Indonesia miskin yang cukup senang menerima kompensasi kenaikan harga BBM melalui BLSM. Keindahan seperti ini dengan investasi sebesar sekitar belasan trilyun rupiah. Namun aman dan terkendali.

Prinsip berbagi atau bagi-bagi uang adalah hal yang sangat luar biasa pengaruhnya dalam perjalanan negeri begajul. Kekuatan reformasi untuk perbaikan negeri akan mentok usahanya karena perjalanan prinsip bagi-bagi ini. Bagi-bagi bukan hanya bisa berupa uang, namun bisa kursi DPR, kursi jabatan menteri dan lain sebagainya. Dan hal ini sudah menjadi kebiasaan serta menjadi drama yang serentak dimainkan di gedung-gedung teater negara untuk menjaga kekuasaan dan gelimang uang.

Seperti yang ada di sini kata-kata Pancen wolak-walike jaman. Amenangi jaman edan, sing ora edan ora keduman. Sing waras podho nggaqas. Wong wani ditaleni. Wong doro podho uro-uro. Begja-begjane sing eling lan waspodho. Memang hanya akan membuat orang putus asa dan terjerat dalam prinsip bagi-bagi, karena kemudahan mendapatkan maupun saking sulit dan beratnya memelihara kehidupan sehari-hari yang justru juga dirusak oleh prinsip bagi-bagi itu sendiri yang tidak pernah selesai karena masih banyak yang masih harus dibagi-bagikan. Maklum negara miskin.