Saturday, April 20, 2013

tato, save borneo & ngopikere

Hujan deras tak mengalahkan niat untuk ngopikere di Sadar. Diskusi Tato dan Melawan Pemusnahan Hutan Borneo lebih menarik meski harus basah. Liputan bisa dilihat besok di Joglo TV. Apa menariknya? terasa betul dimana-mana orang resah akan kehilangan nilai-nilai jasmani maupun ruhani tempat kelahirannya. Memang jarang yang terungkap, namun di lubuk hati tiap insan di Indonesia pasti was-was juga.




Keberanian para mahasiswa untuk mengungkapkan kata hatinya cukup untuk diacungi jempol. Mereka mau dan aware tentang lingkungan tempat kelahirannya. Diskusi ini seperti ketika ngopikere bersama teman-teman Siberut, berdiskusi tentang perebutan hutan di wilayahnya.


Dalam ngopikere yang bukan kere ini, anak Dayak Iban bernama Hendra mengajak berdiskusi tentang latar belakangnya memelihara budaya tato Iban, karena tidak ingin budaya ini hilang. Pun budaya-budaya lainnya seperti keasilian Kaharingan dan hutannya. Mereka menyebutnya ini perlawanan, namun perlawanan yang positif dengan prestasi.


Perlawanan memang kadang diidentikan dengan hal negatif dan kekerasan. Begitu pula tato yang oleh masyarakat ditambah dengan aparat diidentikan dengan kejahatan, kekerasan dan preman. Sementara kata Hendra bahwa tato di Dayak memiliki makna syukur dan hubungan dengan akhirat. Karena membuat tato yang asli menggunakan bahan-bahan yang ditaburi dengan emas.


Pada kesempatan ini juga ibu NiLa Riwut menjelaskan bahwa memelihara budaya lokal tidak melawan keIndonesiaan. Dan dengan networking yang jelas memelihara budaya Dayak bisa dilakukan dengan lebih enteng dan terpadu.


Hal ini membuat saya berpikir, seperti di Jawa yang hars melaluinya dengan perang-perang besar sehingga banyak ahli tradisi yang harus tewas. Seperti saat belum pulihnya kekuatan Jawa (ini hanya contoh) dari perang besar Majapahit, kemudian Islam logika dan VOC masuk. Perang besar Diponegoro yang kemudian diteruskan dengan era intelektual modernis yang merusak. Kemudian pembunuhan massal 65 yang mengakibatkan budaya nasionalisme baru ala Orde Baru yang tentaraisme plus sense keindonesiaan versi tentara.




Begitulah ngopikere dalam rintik hujan kemarin sore.