Monday, February 25, 2013

pulang

Andaikata hidup adalah perjalanan, dia akan berangkat dan pulang, kalau tak kesasar dan tak menemukan jalan pulang. Sepintar-pintarnya manusia memperpanjang dan memperjauh perjalanannya, seperti yang lain, manusia dan milyaran lainnya dia akan kembali menjadi tanah, dalam sebuah lobang yang digali manusia lain dan ditimbun.

Ada yang dengan rasa suka menjemput dan menemukan arti pulang, dianggapnya pulang seperti orang bekerja yang sudah jam-nya selesai bertugas. Ada pula yang mengangap belum selesai dan tidak merelakan dirinya untuk pulang menutup hidupnya. Meski rela, puas, maupun sebaliknya namun pulang menjadi hal pasti yang ditemui manusia sejauh mana dia merantau, dalam perantauannya dia akan berpulang.

Sambutan pastinya hanya bisa dilihat oleh mata yang bisa menyaksikan dan umumnya adalah manusia yang masih hidup, dia tak menyambutnya dengan bahagia. Sebaliknya kepulangan tersebut dirasakan sebagai kesedihan karena bagaimanapun melepas kepergian untuk pulang menjadi akan menyisakan kerinduan dan kehilangan.

Pulang bisa juga dianggap pergi, pergi meninggalkan tempatnya berpijak dan beraktifitas saat ini. Dan pergi menjadi memiliki makna lain karena tak ditentukan dimana tujuannya. Tempat tujuan menjadi hal penting dimana kerinduan bisa dilampiaskan di sana, di tempat dia pergi.

Selamat jalan, selamat pulang.