Monday, January 30, 2012

memahami tahapan dan replikasi proses berpikir kreatif

Kadang kita beranggapan bahwa berpikir kreatif itu kebetulan dan tidak terencana. Ide kreatif juga kadang dianggap sebagai bukan hasil berpikir keras namun sebagai intuisi yang datang dari langit. Bisa begitu bisa pula tidak. Ide cemerlang dan berpikir kreatif ternyata adalah hasil dari proses belajar. Sejak berusia dini kita diajari di sekolah untuk mengembangkan logika berbasis bahasa, kemampuan rasional dari belahan otak kiri dengan orientasi tujuan dan kecepatan untuk mencapai kesimpulan.


Hemisphere kiri biasanya menandai suatu objek untuk mengecilkan dan menyederhanakannya menjadi sebuah simbol yang disimpan di memori. Ketika dibutuhkan maka simbol tersebut akan dipanggil dan direproduksi kembali. Sebaliknya pada hemisphere kanan lebih mengedepankan visual daripada verbal, hemisphere kanan atau bagian otak kanan dapat melihat secara lebih dalam dan detail dibandingkan otak kiri, untuk kemudian masuk dan melihat ada apa dan lebih rinci.

Dari hal tersebut jika dilatih. Seorang Tony Schwartz, pimpinan The Energy Project, penulis buku Be Excellent at Anything: The Four Keys To Transforming the Way We Work and Live percaya bahwa ketika kita berpikir secara kreatif adalah hasil dari rangkaian kejadian-kejadian dan kemudian setelah kita engetahui rangkaian tersebut, maka kita bisa mereplikasikan hal tersebut dan berpikir secara kreatif dimana dan kapanpun diperlukan.

Lebih dari seratusan tahun, para peneliti telah mencapai konsensus pada tingkat mengejutkan tentang 'the predictable stages of creative thinking' tahap-tahap berpikir kreatif yang bisa diperkirakan. Betty Edwards penulis buku Drawing on the Right Side of the Brain menerangkan bahwa ada tahapan yang bergerak bolak-balik antara dominasi otak kiri dan otak kanan, dalam pelatihan berpikir kreatif:
  1. Saturation: Once the problem or creative challenge has been defined, the next stage of creativity is a left hemisphere activity that paradoxically requires absorbing one's self in what's already known. Any creative breakthrough inevitably rests on the shoulders of all that came before it. For a painter, that might mean studying the masters. For me, it involves reading widely and deeply, and then sorting, evaluating, organizing, outlining, and prioritizing.
  2. Incubation: The second stage of creativity begins when we walk away from a problem, typically because our left hemisphere can't seem to solve it. Incubation involves mulling over information, often unconsciously. Intense exercise can be a great way to shift into right hemisphere in order to access new ideas and solutions. After writing for 90 minutes, for example, the best thing I can do to jog my brain, is take a run.
  3. Illumination: Ah-ha moments - spontaneous, intuitive, unbidden - characterize the third stage of creativity. Where are you when you get your best ideas? I'm guessing it's not when you're sitting at your desk, or consciously trying to think creatively. Rather it's when you've given your left hemisphere a rest, and you're doing something else, whether it's exercising, taking a shower, driving or even sleeping.
  4. Verification: In the final stage of creativity, the left hemisphere reasserts its dominance. This stage is about challenging and testing the creative breakthrough you've had. Scientists do this in a laboratory. Painters do it on a canvas. Writers do it by translating a vision into words.
Saturasi dimana setelah mengetahui ada tugas kreatif yang harus digarap, selalu libatkan diri kedalam tugas-tugas seperti itu yang sama diberikan oleh guru dan mempelajarinya. Inkubasi, mengambil jarak dari tugas dan membiarkan hal tersebut singgah di kepala agar otak kanan dapat memproses pemikiran-pemikiran secara kreatif. Iluminasi, lakukan sesuatu untuk membuat hari berjalan santai, jika sedang berada di depan meja, menjauhlah dan berjalan-jalan untuk menenangkan hati dan pikiran kemanapun yang disukai. Biasanya, anda mungkin mendapatkan ide-ide cemerlang ketika dalam situasi yang baru untuk menyambut 'a-ha' yang ditunggu. Verifikas, uji inspirasi yang ada dan ciptakan.

Jika berada di depan meja, maka pergilah menjauh dan pergi sesuka hati, cari suasana baru. Mungkin ini adalah inti dari berpikir kreatif. Berpikir kreatif tidak muncul dalam kondisi diam dan stagnan. Jadi biarkan anda bisa begerak kemanapun bahkan pikiran yang bebas kemanapun karena itu akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Percaya atau tidak konsep tahapan berpikir kreatif ini adalah hasil dari riset. Apakah pendidikan kelas di sekolah-sekolah yang mentereng itu menghasilkan siswa yang memiliki pikiran kreatif, saya pikir memang tidak. Pabrik memang hanya mencipta sesuatu yang kaku, standard dan sesuai pesanan. So, apa iya?




Steve Vai | Tender Surrender

Via Creative Thinking Is a Specific Process That Can Be Replicated | LifeHacker