Monday, August 8, 2011

tak akan redup

Ketika api itu memang berasal dari dasar bumi, tak akan redup. Seperti api abadi, dikatakan demikian mungkin karena tak pernah mati dibandingkan usia beberapa generasi manusia. Manusia pada umumnya yang lahir, bergelimang dosa dan setelah setengah abad lebih sedikit, meninggal dunia dengan buih-buih kebenaran yang diciptakan sendiri atau dari cuap moyangnya, yang ketika mati pun entah dijumpainya atau tidak.

Bukan seperti semudah itu tentunya, itu hanya penyederhanaan atas sesuatu yang memang hanya simpel. Habis napasnya, mati, untuk kemudian gelap.

Banyak orang pintar jaman sekarang, dengan kata lain 'atos ndase' atau 'kepala batu' atau 'otaknya berisi batu' dan 'hatinya sekeras batu' pula. Merasa sudah sekolah tinggi, membawa ijazah kebenaran, lantas ... apapun dia adalah kebenaran itu sendiri, hasil rekayasa otak, dan rekayasa sosial karena budaya sekolah itu sendiri.

Namun mungkin tentu berlainan dengan yang masih memelihara hati, mendengarkan suara dan bisik hati. Tidak tergoda dan ikut arus apa yang ada di sekitarnya. Sebab apa yang dipandang mata tersebut hanyalah fana semata, apa di balik itu, esensinya adalah cinta, cinta yang tak akan redup.