Monday, July 25, 2011

benci itu indah

Begitu dalamnya benci itu, hingga kau melibatkan siapa saja untuk membenciku. Adalah hanya rasa yang kumiliki untuk melanggengkan kebencianmu. Betapa aku sangat mencintai kebencianmu terhadapku. Bukan masalah yang harus dibesar-besarkan bukan. Meski apapun itu komunikasi kebencian kita tidak akan pernah lapuk hanya karena tetesan rasa yang menyejukkan untuk kemudian memanas menjadi api dan pedang untuk saling menikam dan membunuh.

Mengapa juga kita tidak mati-mati, kuyakin bahwa rasa permusuhan haruslah dilanggengkan untuk mencipta apa yang dinamakan gairah dalam hati kita masing-masing. Musuh memang harus saling memelihara, meski kau tahu betapa sudah hampir matinya diri ini karena tersakiti. Kuyakin dalam kebencianmu yang membingkai rasa sayang itu, mengatakan janganlah kau mati dahulu, nanti kepada siapa aku dapat melampiaskan benci ini kepadamu.

Begitu indah kebencian yang kita miliki hingga mewujud dalam bayang yang terlalu indah yaitu kepedihan. Kesengsaraan yang kita bangun tak lain dan tak bukan adalah pelampiasan atas kesukaan terhadap luka, rasa cinta kepada cabik dan rasa sayang kepada tikam. Kekejamanmu teramat sangat indah untuk dijadikan hilang dan lupa begitu saja. Aku benar-benar menyukai rasa bencimu, semakin kau kejam semakin membuat semangat hidup ini menjadi-jadi, bahwa engkau memang siap sedia untuk ditikam kapan saja dan aku tahu bahwa engkau selalu siap menghindar, maka tidak akan terjadi saling tuntut di meja hijau diantara para ahli waris kita.