Wednesday, May 25, 2011

degup

Aku tahu, mengapa sebegitu lama bisa sekuat ini, bukan hal biasa ketika dipikirkan dengan akal dan nalar beserta seluruh rangkai yang membungkusnya. Aih binar itu hanya dan hanya bisa menguatkan perjalanan panjang tak karuan juntrungnya. Bisakah kumiliki binar itu selamanya, meski kejatuhan demi kejatuhan menempa hanya untuk mengejar harap dan menjadikannya versi stabil, pun aku tahu bahwa perjalanan panjang sembilu berwarna kelabu ini hanya bisa berakhir ketika semua sudah siap untuk memulai jalan yang memiliki warna bukan kelabu.


Saat itu selalu saja ada warna baru dalam degup pertama degup kedua bahkan tak mampu lagi kumenghitungnya, meski warna kelabu selalu saja menjadi warna yang lain namun mengapa masih juga kelabu itu membungkusnya meski ada banyak degub didalamnya dan cerah binar yang semakin menyilaukan serta menjadikan degub tiada beraturan. Oh cahaya dalam temaram kelabu, tetap saja kau secerah dan seharap ketika ku merindukan pagi untuk kemudian bersua, meski kau tak pernah tahu.

Sudah beda rasanya, dahulu adalah sebuah chamber raksasa dalam sebuah gua nan tenang dan damai, sunyi, senyap tiada suara, hanya berkas cahaya dan harum nan selalu kudamba tanpa pernah rasakan ritmis yang demikian hebat seperti saat sekarang ketika bahkan tiada ku ketahui dimana berkas cahaya itu berada dan menyinari semesta yang membungkusnya saat ini. 

Aku tak berani, menerka lagi ada apa gerangan, sudah menjadi kebiasaan lama ketika persepsi selalu saja berada dalam keadaan sebaliknya, bahkan tak berani membaliknya, entah dimana sekarang, mau apa, interdependensi ini semoga bukan belenggu lagi sebagaimana dahulu menistakan diri. Karena bagaimanapun anggapan adalah satu nyawa dalam raga yang berbeda sudah terlalu sering menjadikan logika harus mengakuinya, walau bagaimana menghindar selalu saja tertikam dengan kenyataan dan akhirnya lunglai tak bisa menggerakkan apapun selain hanya menggapai cahaya binar titian yang seharusnya tak pernah menjadi seperti ini.

Jagat dewa batara, meski semua manusia hancur dan binasa toh tuhan tetap ada, tak harus diolah dalam otak dan didiskusikan dimana-mana menjadi literatur yang meracuni segenap kemanusiaan yang seharusnya ranum namun menjadi hancur karena pikiran yang saling meracuni dengan racau kepintaran yang sebenarnya adalah sebaliknya.

Makin paham dan bagaimanapun teramat sakit untuk mengingkari bahkan ketika memahami makna kata 'tunggu', terlampau pedih saat harus menelan rasa dalam degup yang tak pernah tahu kapan akan kembali normal sedia kala.


I believe that there's something deep inside
It shouldn't be from time to time
I sure found out, thought love was such a crime
The more you care, the more you fall

No need to worry, no need to turn away
'Cos it don't matter anyway

Ooh - I'd miss you in a heartbeat
Ooh - I'd miss you right away
Ooh - I'd miss you in a heartbeat
'Cos it ain't love if it don't feel that way
Oh no

When we touch, I just lose my self control
A sense sensation I can't hide
To love is easy, it ain't easy to walk away
I keep the faith and there's a reason why, yeah

No need to worry, no need to turn away
'Cos it don't matter anyway, baby

Ooh - I'd miss you in a heartbeat
Ooh - I'd miss you right away
Ooh - I'd miss you in a heartbeat
'Cos it ain't love if it don't feel that way

Now I ain't big on promises, but I'll be true to you
'Cos I'd do 'bout anything, for someone like
Yeah baby, for you

Ooh - I'd miss you in a heartbeat
Ooh - I'd miss you right away
Ooh - I'd miss you in a heartbeat
'Cos it ain't love if it don't feel that way