Saturday, April 16, 2011

gerimis

Ramah tamah pun berjalan singkat, seiring ketidakfasihanku dalam mengolah bahasa verbal, sebagaimana gerimis diluar. Tak lepas pula rasa takut dan bersalah sejak perjalanan lama yang selalu dihiasi perspektif jangka pendek nan emosional. Hanya ingin membuktikan bahwa aku ada eksis dan beginilah adanya. Juga masih jauhnya perjalanan menuju sesuatu yang teramat indah untuk dilagukan pada saat sekarang, masih terlalu dini dan belum berasa apapun bahkan untuk dinistakan.

"Dasar kepala batu!!!" ujarmu lepas dengan sungging senyum.

Tak ada intrik atau apa yang terngiang di pikiran, hanya spontan tanpa strategi apa untuk pencitraan, "Hmm kata lainnya adalah tolol bin pekok", seraut sungging pahit pun terlontar menusuk lebih dalam ke jiwa letih mencari ini.

Seiring gerimis itupun kemudian cengkerama berlarut dengan rona dan nada yang tak pernah terselesaikan. Selalu terjaga dengan iringan dering dan alarm pekerjaan yang seakan tiada habis dan kejam mencemburui keindahan.

"Aku tahu apa yang ada dibenakmu bahkan dibaliknya", suara itu membuat terhenyak dan luapan rahsa apakah bisa kuredam hanya dengan tubuh selemah ini.

"Namun apakah semua harapan sudah terpunahkan dengan sukses", selayaknya orang tolol pun kata-kata dari mulutku justru membunuh jalanku sendiri, gerimis pun sekarang ditemani petir.

Cengkerama yang indah pun berlalu seiring nekatnya malam menelan kehangatan menggantinya dengan dingin dan pilu. Hanya beberapa berkas cahaya diiringi petir selalu menjadikan semangat untuk tak mudah lagi terlepas dan berlari tanpa tujuan, ada hati disini sebagai tujuan.

Gerimis pun tak pernah kehabisan air, sebagaimana tetes dari kedua indera penglihatan ini.