Monday, March 14, 2011

i would die trying

Menghadapi kegelapan demi kegelapan semakin membuat semuanya terasa entah. Entah mau menuju kegelapan macam apa lagi. Berbagai dimensi dunia didepan ini terasa kelam, berwarna hitam tanpa cahaya dan tentu saja berasa kelu. Bukan semacam kegalauan saja, ketika berusaha bangun untuk kemudian jatuh. Terdepak ke kanan kekiri, terbanting ke bawah terinjak. Mengeluh, aih sudah tak sempat lagi berucap. Hanya kelu dan bibir yang merapat pucat bukan karena mau terbuka atau teriak, karena beku terkunci.

Menyaksikan apa yang dibangun luruh satu persatu tanpa ada lagi tertahan. Tidak bisa dibiarkan namun untuk apa mau berbuat ketika tiada lagi secercah harap, bahkan untuk diri yang bisa membuat sungging senyum. Mencoba untuk bangkit sama saja berusaha untuk jatuh. Tiada kapok berdiri untuk kemudian hanya terhempas, mungkin hanya itulah nilai yang diberikan olehnya. Tanpa bersuaha untuk menyimpan dan mengarsipkan trauma ini.

Kesombongan demi kesombongan berbaris mengiringi sliwar sliwernya ketinggian hati yang berbalut apapun, hanya demi saling memupuk citra. Citra rendah, citra tinggi, semua sama ternyata, tanpa ada topang kaki yang kokoh, terkecuali kebebasan dalam mencaci dan mencari selamat sendiri. Hmmm... bukan begitu memang atau memang seharusnya begitu, dan apakah yang terlihat itu benar? bukan sebaliknya? seperti lensa yang terbalik dalam memandang sesuatu, untuk kemudian dipersepsi menjadi kebalikannya. Entah...