Tuesday, December 28, 2010

hadapi dengan senyuman

Cakra manggilingan, begitulah kehidupan, bisa berada di atas angin ataupun luruh menjadi banjir asa yang hilang, untuk kemudian bangkit lagi, ambruk lagi, bangkit lagi kemudian seterusnya dan seterusnya apabila masih bisa menikmati dan berani menantang kenyataan. Adalah sesuatu yang sangat salah untuk menerima kenyataan, itu hanyalah peribahasa halus untuk menundukkan semangat dan bara api di dada. Menantang kenyataan, menantang hidup adalah sesuatu yang harus dilakukan, bukankah menjalani hidup adalah untuk menundukkan hidup sendiri sehingga kita berada tidak dalam kungkungannya, sebagaimana sifat sang penguasa semesta yang tidak tersentuh oleh sifat keberadaanNya sendiri, bukan seperti bayangan atau imajinasi manusia sebagaimana manusia mengartikan dan menerjemahkanNya dalam segala kecerdasan manusia yang tak terbantahkan selalu berbeda dengan yang lainnnya.


Begitulah meski waktu berlalu untuk selalu belajar dan belajar entah untuk apa, apakah pengetahuan itu juga akan berguna di alam sana, ataukah hanya sebuah nilai tambah, itupun jika diakui dan bisa dipakai pada sesuatu yang pas. Bejana-bejana dalam potensi diri akan sangat berbeda antara satu dengan yang lain, memang ada yang berwadah kecil namun juga ada yang tak henti-hentinya diisi namun selalu saja masih kurang. Entah apa dibalik itu, tentunya hukum keseimbangan pun berjalan secara alami untuk menjaga agar fisik dan psikis bisa selalu berinteraksi dengan indah.

Akan tiba masanya saat-saat istirahat, namun juga akan tiba masanya saat untuk berhenti. Tiada yang tahu ataupun sempat merasa karena adanya daya tolak dalam nurani alamiah kita tentang hal-hal buruk, untuk selalu berharap pada kebaikan. Entah bagaimana itu bisa terjadi, namun awal dari semua kebohongan tentunya adalah dari sesuatu yang berperspektif positif pada awalnya.