Monday, September 13, 2010

mau apa?

Menggunakan produk buatan China atau buatan manapun memang tidak dilarang dan tidak ada kait mengkaitnya dengan keyakinan atau relijius apapun, mungkin setahu saya. Mungkin hanya alasan karena murah, terjangkau dan lain sebagainya dan toh tak ada yang salah dengan segala alasan tersebut. Entah juga apa bedanya antara negara kapitalis dan negara komunis juga buat apa dipikirkan karena toh itu bukan negara kita, kalo pun masih mengakuinya karena pemimpin disini yang sudah cuek bebek dan tak peduli lagi dengan warganya bahkan dengan kondisi fisik Negeri Begajul yang terkikis perbatasannya sedikit demi sedikit meski dahulu diperjuangkan dengan keringat dan semangat sadumuk bathuk sanyari bumi, tentusaja memang tak ada hubungannya sama sekali.



Produk murah memang bukan hanya mengkhawatirkan kualitasnya, bukan itu memang karena jika diproduksi massal toh semuanya bisa menjadi murah meriah dan berkualitas. Ada apa dibalik itu tentunya adalah seperti yang digembar-gemborkan ketika masih sekolah #jamanSD yaitu biaya tenaga kerja yang murah. Dari kata murah inipun bisa dijabaran sendiri-sendiri, karena mungkin memang banyak permintaan, pemilik modal yang pelit dan mengeruk uang yang kejam, atau tidak adanya penghargaan kepada sesama manusia, aliyas menganggap para buruh hanyalah mesin belaka, yang bisa disuruh ini dan itu dengan kualitas dan target ini dan itu, atau apa saja karena mereka memang sangat membutuhkan penghasilan dengan kontrak dan job deskripsi yang sudah saling disetujui.

It was hardly a spontaneous outpouring. Rather, it was a joint production of employee unions and management at Hon Hai Precision Industry, the flagship of Foxconn Technology Group, as part of an effort to mend the collective psyche of a Chinese workforce that numbers more than 920,000 across more than 20 mainland factories. The need to do so became apparent after 11 Foxconn employees committed suicide earlier this year, most of them by leaping from company-owned high-rise dormitories. The publicity-averse Taipei-based company and its 59-year-old founder and chairman, Terry Gou, were thrown into the spotlight, subjected to unfamiliar scrutiny by customers, labor activists, reporters, academics, and the Chinese government.

The suicides introduced Foxconn to much of the world in the worst terms imaginable—as an industrial monster that treats its workers like machines, leveraging masses of cheap labor, mainly 18-to-25-year-olds from rural areas, to make products like the iPhone at seemingly impossible prices. For Western consumers, the lost lives were an invitation to consider the real cost of their electronic playthings. For the image-conscious companies with which Foxconn does business, including IBM (IBM), Cisco (CSCO), Microsoft (MSFT), Nokia (NOK), Sony, Hewlett-Packard (HPQ), and Apple (AAPL), the suicides were a public-relations nightmare and a challenge to offshoring strategies essential to their bottom lines.

dikutip dari sini.

Jaring pengaman bunuh diri

Tidak bisa dan tidak mungkin ngrasani perusahan multinasional yang membuat produk-produk semacam Iphone, maindboard dan lain sebagainya, selain prihatin karena perusahaan dengan produk mutakhir dalam bidang tehnologi yo masih juga mempekerjakan orang-orang muda dan dengan bayaran yang tak seimbang, bagaikan mesin sehingga rasanya produk-produk tehnologi tinggi adalah juga produk berdarah, berbau sadis serta tidak kalah sadis dengan perang, perampasan hak, dan maupun produk lain yang bukan untuk tehnologi informasi.

Hanya berharap dengan aroma neoliberalisme yang semakin menjadi dan retorika-retorika politik yang hampir setiap waktu memuakkan dan membuat telinga penat, agar tidak keterusan, dan memang sebagai sebuah administrator sebuah organisasi bernama negara juga sangat sulit meskipun bisa diatasi dengan banyak hal, karena toh pada akhirnya hanya lempar kasus dari sana ke sana, atau dari sini ke sana... yang mungkin juga membutuhkan kelihaian tersendiri sebagaimana retorika yang kadang berbau curhat dan sangat jauh dari solusi yang sangat diperlukan sebenarnya.