Saturday, September 25, 2010

closer to your heart

Sudah sedemikian jelas dan gamblang walaupun tak usah dijelaskan dengan kata-kata setinggi langit dengan imbalan yang setinggi ribuan gunung. Bahwa tuhan adalah semesta alam, semesta yang bertuhan maupun banyak semesta lain yang memiliki pendar cahaya terang benderang, semua berkata dan menuliskan bahwa tuhan adalah semesta alam, berkah untuk semua semesta dan penghuninya, pencipta, perawat sekaligus nanti penghancurnya, sebagaimana yang langit pernah turunkan dalam rangkaian kata dan kitab yang seolah hanya berjumlah satu, meski tak ada penelitian pasti mengenai itu karena perspektif yang berbeda dan keterbatasan daya olah kelola pikir kemanusiaan dalam keterbatasan maupun sejauhmana mereka menjelajahi semesta pikiran, jiwa, hati dan memahami penandaan yang diberikan oleh langit.

Adalah eksistensi atau lebih kerdil lagi sifat ingin menang sendiri menjadi jebakan sekaligus pengharum ruangan untuk makam dengan tanda petik jihad atau apapun kata lainnya yang mengartikan dengan harum, wangi, indah dan dengan embel-embel terminal terakhir yaitu firdaus yang dialiri sungai-sungai jernih, pohon-pohon rindang, buah-buahan, anggur, wanita yang selalu perawan dan sebagainya yang menjadi idaman baik lelaki hidung belang, tentara, preman ataupun para pendiam yang dalam hatinya menginginkan sesuatu lebih diatas segala dosa atau atasnama apapun yang membelenggu perilaku nalar, menuju suatu kebebasan baik seksual, perut, mulut, ataupun keindahan pandangan mata, hingga kesejukan ruang yang seolah menjadi idaman ketika sengsara atau mahalnya ketika harus dibeli dengan uang untuk mendapatkan ruangan-ruangan nyaman di alam ini, untuk diproyeksikan menjadi sesuatu keniscayaan yang maha indah ketika jiwa bercerai dengan raga, menuju sebuah ruang dan waktu disana, yang entah, entah dan entah, bahkan,.. entah beribu entah, hanya imajinasi dan referensi yang menempel dimemori dari sesuatu yang dibaca ataupun didengar bahkan dijejalkan dalam otak dan hati ketika... ya ketika itu dibutuhkan untuk sesuatu, sesuatu apakah.. hanya individu itu sendirilah yang tahu dan bersedia dicetak, atau di print menjadi...,... mengerikan.

Bahkan pernah selalu terdengar bahwa surga atau neraka sangatlah berada diluar jangkauan pikir kemanusiaan, namun setiap orang memiliki bayangan dan imajinasinya sendiri-sendiri, ada yang percaya ada yang tidak, namun mengapa harus menjadi perebutan. Bahkan sarana untuk mencoba berteduh menemukan miniaturnya di jiwa... pun harus dilalui dengan simbahan darah, cucuran rintihan kesakitan, bahkan pecatnya nyawa dari raga, untuk apa.. selain demi kemantaban, kesenangan, bayangan, bahkan imajinasi kekekalan yang dibangun sendiri, hingga kadang lupa, bahwa siapa yang dibunuh, disiksa, diperkosa pun memiliki hati, imajinasi, logika, juga bayangan yang sama tentang tuhannya, surganya ataupun nerakanya, sebagai sebuah interseksi arah pikir dan pola hidup yang dirasakannya paling nyaman, untuk dirinya, sekali lagi untuk diri mereka, bukan dia, engkau ataupun kisanak... semua memiliki parameter sendiri,... dan sudah dimafhumi oleh penciptanya.. dengan dasar bahwa tanpa ijinnya semua ini tak akan terjadi,.. namun mengapa harus saling bunuh, ejek, kekang bahkan menistakan satu sama lain... atau malah mengkafirkannya.. sementara hasil akhir dari penilai jawaban pilihan berganda itupun hanya yang diatas,.. yah ada dilangit, sebagaimana yang semua dianut.. dari langit... tiada yang dari dasar bumi, kecuali makanan dan perhiasan atau bahan bangunan.

Bukankah.. bukankah... bukankah.. sangat hina dina ketika di sini mereka berkata dengan kesucian untuk menuju yang suci, yang murni... namun dibalik itu ada harapan setinggi ribuan pohon kelapa untuk mendapatkan sesuatu kebebasan yang sebebas-bebasnya disana... setelah dipecatnya nyawa dari raganya... mendapatkan kebebasan makanan yang enak, kesejukan, jernihnya air sungai yang mengalir dan kebebasan fantasi ataupun seksual dengan sesuatu yang selalu perawan atau bahkan mungkin perjaka juga..

Edan.. edan.. edan..., maka berbicaralah dengan hati, maka akan mungkin mendapati perspektif yang berbeda.. selain kegilaan yang.. betul-betul mencengangkan bahkan menjadi musuh peradaban disini, tentang premanisme, militerisme, atau isme-isme lain yang tentunya kopi paste dari para pintar diseberang sana....




Closer To The Heart | Rush

And the men who hold high places
Must be the ones who start
To mold a new reality
Closer to the heart, closer to the heart

The blacksmith and the artist
Reflect it in their art
They forge their creativity
Closer to the heart, yes closer to the heart

Philosophers and ploughmen
Each must know his part
To show a new mentality
Closer to the heart, well closer to the heart

You can be the captain
And I will draw the chart
Sailing into destiny
Closer to the heart, yes closer to the heart
I said closer to the heart, yeah closer to the heart
Closer to your heart, I said closer to your heart

Closer To The Heart
Songwriters: Lee, Geddy; Lifeson, Alex; Talbot, Peter; Peart, Neil;
© CORE MUSIC PUBLISHING CO;