Monday, August 30, 2010

Palsu

Beralas teguh, dibingkai pelangi bersandar pada cahaya ketika menapak demi setapak karunia cerah hari demi hari, tanpa harus berkaca meski remuk tulang yang dipaksa berlari dan lari dari nyata hasrat selalu saja tak dirasa, hanya lari dan lari sejauh-jauhnya mencari nyata dari harap tipis nan semakin tipis berselimut palsu. Palsu, ya teguh, pelangi dan cahaya itu palsu, bukan aslinya, itu hanyalah buatan demi memanjangkan jarak berlari ini.


Bagaimana bisa ketika harus berani memapah kepalsuan entah demi harga diri atau apa yang disebut kesesusaian bermarsyarakat, jenuh tak terperikan. Tusukan demi tusukan pun harus tanpa rasa lagi saking bertubi-tubinya, masih bisalah mengatasi rasa itu ketika hentak dan dentum cerca berasal dari luar diri, namun ketika apa akhirnya dari dalam pun mengaku akan semua salah dan entah mau apalagi terjadi ketika kepalsuan itu harus menjadi permanen. Entah mau kemana lagi hati dan kaki ini mengajak untuk berlari, semakin jauhpun terasa semakin sakit, bahkan tak ayal lagi ketika berhenti sejenak pun tak dapat lagi rasakan segarnya udara.

Ketika itu berawal dengan baik, maka harus berakhir dengan kebaikan pula. Meski itu palsu. Sedemikian renyahnya palsu, tak bisa mengalahkan betapa indah rasa pait yang memang dari dalam, tak ada pendar warna yang mengelilingnya. Semakin gila rasanya untuk segera meninggalkan perih itu menuju obat penyembuh, betapa harap itu semakin saja mencari wujud dan makin perih serasa panen duri saat menoleh melihat gelapnya jalan mewujudnya.

Sampai titik mana akan berujung, tiada lagi terpikir dan terasa lagi, Hanya berlari dan bergerak untuk menghilangkan perih itu atau tepatnya memalsukannya lagi, menjadi sebuah kepalsuan lain. Entah berapa banyak lagi kepalsuan-kepalsuan itu tercipta, hanya dan hanya untuk sebuah tes, atau dua tetes, hingga ribuan tetes air tercurah, demi sebuah rasa yang asli yang harus dipertahankan dan diperjuangkan meski hanya menumbuhkan jutaan kepalsuan lain demi luluhnya sebuah hati, sebuah tujuan terindah yang pernah tercipta dan selalu saja mencari jalan untuk mewujud, meski jauh terasa jarak lari ini tak pungkiri semuanya.

Semakin tak menyerah semakin salah, semakin berontak semakin remuk redam. Tak ada lagi yang terasa indah untuk dilalui, kepalsuan demi kepalsuan itu semakin menyayat, mengiris dan melebur menjadikan diri sebagai monster tak memiliki hati, hati yang luruh pada murninya hendak, melainkan hati yang mencipta sendiri kebencian dan kepalsuan demi mengobati rasanya sendiri. Sudah runtuh semuanya tak brarti lagi, maka biarlah ku menjura pada kepalsuan yang tercipta untuk menambah rentet daftar hitam tak terperikan.






Save ME | Queen


Demikianlah semoga Agustus di Ceritaeka meriah dan sesuai keinginan yang punya blog, hanya inilah yang mungkin bisa saya lakukan semoga ae sumbangan yang bisa dianggap menyenangkan. Pokoke, aku wis nyumbang.