Saturday, June 19, 2010

menuju krisis ke dua

kenyataan jika banyak eksperimentasi sistem yang digunakan tidak bisa untuk memberikan rasa nyaman dan adil sebenarnya sudah disadari oleh banyak kepala. yang lebih bikin anyel adalah produksi regulasi dari gedung miring yang sudah hampir roboh karena kebanyakan dosa dan perbuatan mesum didalamnya itu makin menjadi-jadi. bukan menambah ketat pengawasan kinerja namun karena sudah terbentuk kemudahan-kemudahan dalam imajinasinya maka membuat alat untuk bekerja sendiri dengan sebuah kebijakan yang selalu saja berpihak ke atas menjadikannya sebuah hobi dan alat pengeruk keuangan negara yang sudah dianggap bukan milik siapa-siapa lagi.


mungkin rasa aman dan tak bersalah semakin nyata ketika melihat banyak negara besar nantinya akan juga menghadapi permasalahan yang sama yaitu krisis financial dan korupnya sistem birokrasi karena kecerdasannya dalam membuat pernyataan-pernyataan terbalik dimana itu semua adalah bukan kesalahannya namun karena memang sudah tidak ada lagi sumber pembiayaan untuk membuat segala sesuatunya bisa berjalan dengan lancar dan baik. pungutan demi pungutan, pajak demi pajak dan lain sebagainya karena pada akhirnya kepemilikan pribadi tidak ada artinya karena harus membayar ini dan itu agar kepemilikannnya diakui oleh sistem kekuasaan yang berlaku bahkan tanpa pandang bulu, entah aset itu didapat dari hibah ataupun sumbangan semuanya harus setor kepada pemilik otoritas demi menjamin kehidupan birokrasi namun tanpa imbal balik yang jelas kecuali seperti yang dirasakan oleh setan pengebor sumur lapindo yang nggak tahu maksudnya apa karena pada perkembangannya oportunitas pastilah akan berhadapan dengan oportunitas yang lain dengan mengajak pihak lain sebagai korban.

untung saja keserakahan-keserakahan itu masih dilakukan dengan begitu licin meski berbagai senjata untuk membasminya dengan lembaga-lembaga independen yang ternyata sama sekali tidak independen tersebut lunglai kalah dengan licinnya gaya permalingan yang malah membuai banyak orang untuk ikut menikmatinya, siapa yang diuntungkan siapa yang dirugikan pada kalangan kelas itu sama sekali tidak kelihatan karena proses pembayaran yang demikian ranum dan tak bisa dicapai oleh kepala-kepala jujur yang hanya bisa melongo jika mengetahuinya.

letupan amarah ditingkat bawah akan difasilitasi hingga setinggi-tingginya dan menyebar demikian luas berapapun biaya yang dibutuhkan sebab, setelah kemarahan besar pada akhirnya setelah menghantam sebuah tembok besar akan redam dengan sendirinya dan banyak kesempatan untuk menciptakan kemarahan kontra lain agar kemarahan bisa berpikir sehingga tak ada lagi permasalahan yang harus dipecahkan karena semua sudah lunglai dan kehabisan tenaga untuk mencerna trik selanjutnya yang demikian cepat dan kontekstual.

hanya menunggu krisis selanjutnya sebagai pembuktian bahwa penjinakan ini akan segera berakhir menuju sesuatu yang entah akan lebih baik atau lebih runyam, toh bagaimanapun hanya ada dua pilihan tesebut.