Wednesday, June 16, 2010

henti

bercerita mengenai hari-hari indah ataupun beberapa keinginan yang terbungkus dalam hasrat-hasrat kebersamaan memang belum pernah kita lakukan bersama sejak dahulu ataupun saat ini, memang belum pernah ada sesuatu yang membuat rasa itu berjalan bersama, mungin hanya mimpi di siang bolong ketika kukatakan bahwa menaruh harap adalah sesuatu yang sangat jauh yang bisa merubah segala sendi kehidupan. bisa begitu mungkin juga bisa tidak sama sekali, toh semua hubungan yang ada bukanlah semacam persentuhan fisik day to day yang dirangkum dengan segala poles liar mata dan keindahan yang nyata-nyata pernah kita perbuat, belum ... memang masih sangat jauh dari itu atau bahkan semesta pun belum pernah memberikan ruangan bagi kita untuk menyatakan apa yang kita inginkan bahkan bersit kebahagiaan yang semuanya berjalan dalam dimensi yang sangat jauh, berlainan bahkan tidak ada dalam pandangan di depan mata kita.


so.. mengapa harus risau akan segala perubahan yang sebenarnya hanya buaian mimpi indah dalam tataran imaji yang entah kapan pastinya bisa terejawantah dalam sebuah bentuk pasti yang memiliki jasad dan bisa kita sentuh bersama, namun mengapa semuanya bisa begitu terasa indah dan nyata meski pertemuan-pertemuan itu secara nyata tidak pernah ada hanya terjadi pertemuan yang aneh yang entah kita buat sendiri atau memang di dalam dimensi yang lain kita selalu bersama, detik demi detik bahkan tak pernah terpisah selain ketaksadaran dalam tidur atau kematian yang memang sedang kujalani untuk membuat hal itu semakin nyata dalam benak, benar ... memang aku tidak tahu secara pasti apa maksud darimu akan hal tersebut selain keindahan ketika bisa menyapa dan ketakutan kehilangan yang mendalam, bukan hal yang senantiasa merusak, namun ketika semuanya harus terucap, kehancuran demi kehancuran akan kujalani demi sebuah karya nyata yaitu ketiadaan, ketiadaan yang sebenarnya terlepas dari rasa setiamu akan dia yang pertama ataukah alasan lain yang selalu saja muncul seiring perkembangan referensimu.

mengapa juga harap itu semakin menjadi bukan karena tumbuh subur sendiri atau terpupuk, entah... semua telah berjalan secara sendiri tanpa pernah terkendali, pertama adalah harap, kemudian cemas, untuk selanjutnya hancur karena harap yang tumbuh tanpa terpisahkan tersebut harus diamputasi sebagaimana memberhentikan dan rusak diri yang selalu di kerjakan oleh setiap sel di muka bumi ketika memang sudah saatnya untuk lebur setelah waktunya tiba dan karena kondisi yang tidak mengijinkannya untuk eksis kembali.