Saturday, May 15, 2010

gila

Hapal bilamana setiap saat diulang-ulang bagaikan sebuah acara rutin televisi atau kolom dikoran-koran yang selalu saja suka dan membawa opini pikiran dengan sudut pandang yang demikian aneh tapi nyata. Begitu lebamnya telinga dengan peperangan yang gila-gilaan antara informasi yang diluncurkan dengan perencanaan yang matang plus praktek yang juga sedemikian nyata, bila saja hal ini memang tanpa rekayasa jelas semuanya sudah tidak terkendali kekuatan-kekuatan semi penghancur tersebut, namun dengan mudah dilumpuhkan dan tentu saja tanpa kabar terakhir karena menunggu perintah dari sono yang pastinya lama-kelamaan juga buntu otaknya.


Tak ayal aksi trik demi trik untuk menjebol uang dan birahi untuk memperkaya demi modal pertempuran berikutnya di toko, hotel ataupun kontes kuasa yang tidak lagi sarat makna namun sarat kelicikan karena mepetnya modal ditambah serangan dari preman-preman beridentitas ganda tak pelak membuat makin runyamnya pekabaran dan akting dalam rapat-rapat para petinggi lima tahunan demi citra diri yang makin lama tidak jelas serta berjauhan dengan citra kelompok berhalanya yang juga makin lama semakin tidak karuan. Sehingga dengan mudah seorang pengkhianat bangsa yang memperawani seonggok tanah menjadi penyakit yang tak kunjung sirna namun tidak merasakan malu bahkan dengan orang-orang tak berdaya yang menjadi korbannya.

Lebih baik mengumpat memang daripada berteriak takbir namun hanya untuk membuat kepala orang lain berdarah serta melakukan pembacaan komik suci dan kuliah di tempat ibadah yang pada ekornya hanya menghina, mencaci maki bahkan memperolok orang atau kemelaratan moral lain menurut kacamatanya sendiri, demi birahi lima tahunannya yang semakin saja dibenci khalayak. Memang kemelaratan sudah demikian mengakar dan mempesona sehingga semakin banyak bahan bacaan dan jurnal yang membahasnya tanpa memberikan sebuah pencerahan selain upaya mematikan dengan memperluas pembunuhan masal dengan kompetisi dan persaingan bebas yang juga malah melibatkan seantero dunia tanpa pernah tahu dia itu siapa.

Heran mengapa seorang yang sekolahnya tinggi dengan kantong gelar yang panjang plus jenjang kepangkatan serdadu yang mentok habis bisa berkata bangga ketika seorang anak buahnya menggantikan seseorang disana yang juga tidak kalah antiknya karena berasal dari negara yang tidak kalah prestasinya dalam hutang dan kerugian atas bangsanya sendiri. Gila.