Tuesday, January 19, 2010

tersenyumlah...

Perjalanan waktu memang tidak mengenal kata kasihan, semua bergerak meski pelan detik-detik, jam, hari, tiada pernah terasa, hanya tahu-tahu aja, ujug-ujug mak jegagik semuanya menjadi seperti ini. Hujan informasi dari yang bisa difilter dengan hati, pikiran maupun hingga yang tak bisa dinalar berjalan berputar-putar mengiringi langkah kaki menunggu kapan saatnya bisa mempengaruhi kesadaran diri yang menjadi benteng terakhir kita untuk mengolah dan menganalisa ada apakah gerangan yang terjadi.

Apakah ini semua karena perkembangan tehnologi informasi, media maupun perkembangan pengetahuan yang makin menemukan sesuatu untuk menjauhi sesuatu pula, tidak ada yang bisa dilakukan dengan santai, karena semua harus fokus menuju satu titik tertentu, bagai pemain sepak bola yang memiliki tujuan memang kompetisi dengan proses pengendalian dan kerjasama tim, namun hanya satu penentunya yaitu jumlah goal yang bisa dilakukan. Ketika semua tenaga dan pikiran tercurah pada titik tersebut apapun bisa terjadi, makin banyak yang dihasilkan makin berkurang banyak pula sesuatu yang bisa dinikmati pada saat itu, hmmm.. mungkin itu namanya menabung. Atau bahasa kerennya 'bersakit-sakit dahulu berenang-renang kemudian',... apakah tidak ada lagi tehnologi atau rumus yang tidak kuno seperti itu.

'Jer Basuki mawa Bea', bukan hanya 'bea cukai', atau 'jatah preman'... semua memerlukan pengorbanan, bahkan untuk dihujani informasi pun harus berkorban, minimal waktu, mata lelah, atau kuping yang harus tabah mendengar sesuatu. Harus beli Blackberry, harus main Facebook, harus install Tweeter, untuk sengsara karena informasi pun kita harus rela membayar banyak atau minimal sengsara karen cuma mendengar atau terpaksa melihat status teman di Facebook yang itu-itu saja, mengobral perasaannya tanpa pernah berbuka hati betapa informasi tersebut haruslah diolah dengan persepsi dan tentunya akan memukul dan menyerang imajinasi yang entah ada apa dikepala masing-masing orang. Namun bagaimanapun tidak ada yang salah dengan itu, karena semuanya adalah korban keditaktoran informasi dan perceptual imajinatifnya masing-masing, bukankah yang membuat para korban gempa itu meninggal adalah bangunan atau sesuatu yang kadang malah berada diatasnya, bukan dari titik awal terjadinya kejadian tersebut.

Apakah tidak ada jalan lain, .. kadang semua jidat menjadi berkerut untuk menjawabnya, kemudian muncullah ayat-ayat untuk mengharamkannya, atau bersembunyi dibalik ketiadaan yang dianggap aman karena banyaknya ketidaktahuan terhadapnya, hmm... repetisi seperti itukah yang kita inginkan, sudah bosan pastinya kalo pengin jujur. Bahkan hal seperti itu membuat curiga apakah hal tersebut memang diciptkan sengaja untuk membuat kita menjadi semakin tidak percaya dan mengambil jalan lain yang belum tentu troubleshooting untuk itu.

Namun bagaimanapun juga tehnologi telah menyelamatkan banyak jiwa juga, andaikata kecepatan informasi seperti saat ini tidak ada mungkin kejadian-kejadian malapetaka besar karena pengkambinghitaman, penyesatan atas kepercayaan dan fitnah politik tidak akan selesai secara kontekstual, namun bisa memakan korban jutaan jiwa dimana dalam satu keluarga pun bisa saling bunuh karena aliran politik yang berbeda seperti yang masih menjadi hantu jutaan saudara kita bahkan sampai sekarang masih diagung-agungkan karena jeda informasi beberapa saat yang lalu. Berpuluh tahun lalu, bahkan saat sekarang ini alasan berperang ketika masa lampau pun menjadi sebuah alasan yang aneh, karena bagaimanapun hingga saat ini kita masih bermesraan dengan nasionalisme masa lalu, namun entah dengan nasionalisme masa depan atau saat ini yang malah semakin jelas menghamba baik secara finansial, pendidikan bahkan informasi dan persebarannya.

Sudah hilangkah kita, menghilangkan diri kita sendiri, atau apakah kita menjadi sesuatu yang sama sekali berlainan, ataukah begini nikmatnya menjadi korban. Korban sekaligus pelaku, sekaligus mencari korban, atau inikah cara kelit kita, mengelak, menerobos sesutu yang tidak kita ketahui arasnya. Ya, persetan aja dengan semua itu, sepanjang dunia masih tersenyum marilah tersenyum, persetan dengan orang-orang sok suci itu, sok idealis itu, hmm.. bahkan mereka kadang tak bisa menyelesaikan hidupnya dengan indah... kasihan yak... so let smile and breakthru, capailah semuanya semampunya dengan senyum ... tersenyumlah dan ...oh berbahagialah dunia...





Breakthru

When love breaks up
When the dawn light wakes up
A new life is born
Somehow I have to make this final breakthrough
Now

I wake up
Feel just fine
Your face
Fills my mind
I get religion quick
'Cos you're looking divine
Honey you're touching something you're touching me
I'm under your thumb under your spell can't you see
If I could only reach you
If I could make you smile
If I could only reach you
That would really be a breakthrough - oh yeah

Breakthrough these barriers of pain
Breakthrough to the sunshine from the rain
Make my feelings known towards you
Turn my heart inside and out for you now
Somehow I have to make this final breakthrough
Now!
Your smile speaks books to me
I break up
With each and every one of your looks at me
Honey you're starting something deep inside of me
Honey you're sparking something this fire in me
I'm outta control
I wanna rush headlong into this ecstacy
If I could only reach you
If I could make you smile
If I could only reach you
That would really be a breakthrough

If I could only reach you
If I could make you smile
If I could only reach you
That would really be a breakthrough
Oh yeah
Breakthrough breakthrough

If I could only reach you
If I could make you smile
If I could only reach you
That would really be a breakthrough

If I could only reach you
If I could make you smile
If I could only reach you
That would really be a breakthrough

Breakthrough