Thursday, January 21, 2010

Menjual ikhlas

wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

(Ramalan Jayabaya bait ke 146)

Entah benar atau tidak yang namanya ramalan pastilah semua orang suka apalagi jika diramal bahwa nasibnya bagus, dan mungkin bahwa ramalan Jayabaya ini banyak juga yang percaya ataupun tidak bukan soal. Karena toh yang meramal juga sudah meninggal dunia, dan ada misteri juga bahwa ada bait-bait yang hilang atau mungkin sengaja dihilangkan dengan alasan rusak karena mungkin tertera jelas nama atau lokasi atau apalah, semuanya menyisakan tanya yang membuat orang kadang lupa diri seperti ketika mendengar orang yang dengan semangat mengejar harta karun, harta revolusi atau apapun yang bisa dianggap untuk mengangkat derajat kehidupan bahkan mungkin kekayaannya. Dan tentu saja hanya dinikmatinya beberapa puluh tahun untuk kemudian ditinggalkan semuanya.

Entah mengapa juga kemudian banyak aliran sains dan logika yang tidak mempercayai bahkan kaum agamawan, terserah juga, toh dahulu ketika Nabi Nuh AS sebagai peramal tsunami paling terbukti di dunia ini juga mendapat cercaan dari masyarakat pada saat itu. Kadang agama memang memberikan kebebasan dalam memberikan tafsir ayat-ayat tuhan karena bagaimanapun setelah dipublish siapapun bisa mengakses dan dengan persepsinya masing-masing bisa mendapatkan pencerahan, karena memang diturunkan untuk segenap umat manusia, namun cilakanya karena keterbatasannya pula manusia menggunakannya sebatas apa yang disukai dalam konteks yang paling mengenakkan dan membuatnya menang baik dimata sendiri maupun orang lain. Juga tak perlu dipungkiri berapa orang yang bisa kaya lantaran bisa belajar agama ataupun menggunakannya sebagai sesuatu yang menguntungkan meski tidak ada jaminan kebenaran akan pendapatnya.

Barangkali jika memang Al-Quran itu memiliki hak cipta, sebagaimana orang-orang yang menganggap bahwa itu adalah karangan seorang nabi dengan nama Muhammad SAW. Mungkin para keluarga dan keturunannya akan kaya raya jika memang kita harus membelinya dan tidak dibajak sedemikian rupa bebas, bahkan mungkin hadits-haditsnya yang mencerahkan banyak orang di dunia ini. Aneh memang dan mungkin akan membuka mata kita mengapa Timur Tengah dan Arab dimana banyak nabi berdomisili disana pada dahulu kala, saat ini harus mawut dengan perang, baik atas nama agama atau apapun yang ujung-ujungnya memang mencemarkan tanah suci tersebut. Betapa hari maupun tempat ibadah bisa diklaim milik negara sementara kitab suci tetap saja dibiarkan bebas sebagai alat marketing, entah untuk apa, mungkin dibenak kita semua bisa merasakan dan ada sekelip kata 'mungkin iya'.

Betapa memang para pendahulu tidak, atau mungkin jarang memabukukan sesuatu, karena memang tidak untuk digantikan dengan uang. Namun cenderung berusaha diajarkan dengan bentuk-bentuk lisan maupun dongeng yang indah sehingga semuanya bisa dilakukan dengan tatap muka dan diskusi yang mendalam, tanpa pretensi politik maupun kekayaan. Betapa itu adalah keindahan duniawi, yang saat ini sangat sulit untuk didapatkan betapapun sudah ada Twitter maupun media persekawanan sosial maya. Betapa semua hasil kerja payah kita selama sebulan atau periode tertentu akan habis dan tidak ketahuan untuk apa, ataukah memang ini adalah pembelajaran yang sangat menarik bagi keikhlasan dan ego-ego kemanusiaan modern. Tentu saja tidak karena selalu saja ada jebakan globalisasi, betapa mungkin orang-orang kaya di negeri awang-awang itu juga membaca kita ramalan Jayabaya, dimana mungkin saat ini tidak derajat dan pangkat tertinggi selain kata 'Pasar', 'trend', dan apalagi yang jelas itu bukan manusia, namun sistem yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Betapa para petinggi dan CEO perusahaan multinasional itupun semua tahu akan adanya 'jebakan globalisasi', sehingga mencari jalan keluar darinya. Mungkin itu maksud baik dan bisa juga sebaliknya, hanya merekalah yang mengetahuinya. Namun jebakan-jebakan itupun juga kadang dimanfaatkan oleh orang-orang yang dengan pengakuan pencerahan diri ataupun memiliki keahlian untuk memotivasi orang untuk selalu saja ikhlas menghadapinya, baik dengan menjual buku, idea atau apapun yang membuat orang-orang yang merasa terjebak bisa hanyut, menyadari bahwa semuanya adalah cobaan kehidupan, bukan atas nama manusia maupun sistem namun dikembalikan kepada yang maha memiliki kehidupan. Entah mereka itu agen-agen jebakan kehidupan ini atau apa yang jelas, dengan pencerahannya mereka mencoba mengubah kisah menjadi sesuatu yang harus dijalani, dan diklaim bahwa ini adalah jatah dari dzat yang maha tinggi. Oh... betapa mereka malah mengamini keterjebakan ini sebagai sebuah kehidupan yang indah dan patut disyukuri.

Bukan tidak mungkin para penganut keikhlasan yang sudah membayar tiketnya itu adalah para penghancur bangsa dan pelanggeng kemiskinan di negeri ini. Secara mungkin kehidupan mereka mapan, namun tidak ikhlas jika kemapanannya tidak awet, karena kekurangan finansial ataupun kehidupan bergengsi yang sudah menjadi brandingnya. Secara saya memang juga ikhlas bajakan karena tidak mampu mengikuti upacara-upacara keikhlasan maupun buku-bukunya, atau franchise keikhlasan yang tentu saja harus dibayar dengan uang jutaan rupiah, bahkan mungkin pelatihan-pelatihan keikhlasan yang juga tidak murah itu. Cilaka memang ketika harga keikhlasan sudah demikian mahal dan perlu dilabeli dengan sertifikat lulus atau pernah mengikuti seminar Emosi.

Seharusnyalah ketika mau memberikan perubahan dan kebaikan harus dijalankan semata-mata untuk kebaikan tanpa pretensi apapun dan berkaca pada diri sendiri dan kemiskinan yang semakin populer juga bukan ikut-ikutan seperti yang diramal oleh Jayabaya diatas, meski lucu namun pada kenyataannya memang banyak terjadi di saat sekarang. Betapa memang kita harus terjebak di dalamnya tanpa bisa berbuat apa-apa, bahkan mungkin ketika mencoba untuk mengajak yang baik-baik akan dicemooh dan dianggap gila. Mau apa coba?




"Man In The Mirror"

I'm Gonna Make A Change, For Once In My Life
It's Gonna Feel Real Good, Gonna Make A Difference
Gonna Make It Right . . .

As I, Turn Up The Collar On My Favourite Winter Coat
This Wind Is Blowin' My Mind I See The Kids In The Street,
With Not Enough To Eat Who Am I, To Be Blind?
Pretending Not To See Their Needs
A Summer's Disregard, A Broken Bottle Top
And A One Man's Soul They Follow Each Other On
The Wind Ya' Know 'Cause They Got Nowhere To Go
That's Why I Want You To Know

I'm Starting With The Man In The Mirror
I'm Asking Him To Change His Ways
And No Message Could Have Been Any Clearer
If You Wanna Make The World A Better Place
(If You Wanna Make The World A Better Place)
Take A Look At Yourself, And Then Make A Change
(Take A Look At Yourself, And Then Make A Change)
(Na Na Na, Na Na Na, Na Na, Na Nah)

I've Been A Victim Of A Selfish Kind Of Love
It's Time That I Realize That There Are Some With No Home,
Not A Nickel To Loan
Could It Be Really Me, Pretending That They're Not Alone?

A Willow Deeply Scarred, Somebody's Broken Heart And A Washed-Out Dream
(Washed-Out Dream)
They Follow The Pattern Of The Wind, Ya' See Cause They Got No Place To Be
That's Why I'm Starting With Me
(Starting With Me!)

I'm Starting With The Man In The Mirror
(Ooh!)
I'm Asking Him To Change His Ways
(Ooh!)
And No Message Could Have Been Any Clearer
If You Wanna Make The World A Better Place
(If You Wanna Make The World A Better Place)
Take A Look At Yourself And Then Make A Change
(Take A Look At Yourself And Then Make A Change)

I'm Starting With The Man In The Mirror
(Ooh!)
I'm Asking Him To Change His Ways
(Change His Ways-Ooh!)
And No Message Could've Been Any Clearer
If You Wanna Make The World A Better Place
(If You Wanna Make The World A Better Place)
Take A Look At Yourself And Then Make That . . .
(Take A Look At Yourself And Then Make That . . .)
Change!

I'm Starting With The Man In The Mirror,
(Man In The Mirror-Oh Yeah!)
I'm Asking Him To Change His Ways
(Better Change!)
No Message Could Have Been Any Clearer
(If You Wanna Make The World A Better Place)
(Take A Look At Yourself And Then Make The Change)
(You Gotta Get It Right, While You Got The Time)
('Cause When You Close Your Heart)
You Can't Close Your . . .Your Mind!
(Then You Close Your . . . Mind!)
That Man, That Man, That Man, That Man
With That Man In The Mirror
(Man In The Mirror, Oh Yeah!)
That Man, That Man, That Man
I'm Asking Him To Change His Ways
(Better Change!)
You Know . . .That Man No Message Could Have Been Any Clearer
If You Wanna Make The World A Better Place
(If You Wanna Make The World A Better Place)
Take A Look At Yourself And Then Make A Change
(Take A Look At Yourself And Then Make A Change)
Hoo! Hoo! Hoo! Hoo! Hoo! Na Na Na, Na Na Na, Na Na, Na Nah
(Oh Yeah!)
Gonna Feel Real Good Now! Yeah Yeah! Yeah Yeah! Yeah Yeah!
Na Na Na, Na Na Na, Na Na, Na Nah
(Ooooh . . .)
Oh No, No No . . .
I'm Gonna Make A Change It's Gonna Feel Real Good!
Come On!
(Change . . .)
Just Lift Yourself You Know
You've Got To Stop It. Yourself!
(Yeah!-Make That Change!)
I've Got To Make That Change,
Today! Hoo!
(Man In The Mirror)
You Got To You Got To Not Let Yourself . . .
Brother . . . Hoo!
(Yeah!-Make That Change!)
You Know-I've Got To Get That Man, That Man . . .
(Man In The Mirror)
You've Got To
You've Got To Move! Come On! Come On! You Got To . . .
Stand Up! Stand Up! Stand Up!
(Yeah-Make That Change)
Stand Up And Lift Yourself, Now!
(Man In The Mirror)
Hoo! Hoo! Hoo! Aaow!
(Yeah-Make That Change)
Gonna Make That Change . . . Come On!
(Man In The Mirror)
You Know It!
You Know It!
You Know It!
You Know . . .
(Change . . .)
Make That Change.