Sunday, January 17, 2010

ketika bumi iseng berguncang

Gempa bumi, konon terjemahan inggrisnya earthquake, adalah sekali lagi konon katanya adalah cara dialog antara manusia dengan alam, atau lebih tepatnya bumi berdialog entah dengan siapa, entah dengan kita atau kalo tidak berdialog berarti dia ngomong sendiri atau aksi sendiri alias iseng-iseng saja. Ndilalahnya memang manusia yang semakin banyak jumlahnya ini dengan perilaku yang macam-macam, entah dengan mengebor minyak, menambang apalah yang ada dalam perut bumi untuk dikeluarkan dan dijadikan lembaran-lembaran kertas yang kemudian disebut uang atau saham, dan juga karena itupun banyak manusia iseng juga yang kemudian beraksi mendirikan panggung peperangan untuk rebutan lahan dan hasil bumi tersebut, dan dari banyak tingkah polah seperti itu akhirnya banyak juga sesama saudara kita yang harus berpisah dengan nyawanya. Meski mungkin ketika bumi berguncang itu karena sendau gurau sang bumi yang mengeliat geli lantaran ditusuk-tusuk alat bor minyak maupun karena beberapa bagian darinya disedot keatas sehingga karena malu dia harus menimbunnya, agar tidak kelihatan melompong.

Entah ada perhitungan atau tidak oleh para angkara murka itu bahwa perbuatannya bisa mencelakakan manusia lain dimuka bumi bagian yang lain, mungkin bisa jauh dan mungkin bisa pula tidak jauh. Karena bumi kadang tidak perlu berpikir sedemikian rupa sehingga semuanya aman-aman saja, namun sepanjang ada yang kosong dan membuat malu maka harus segera ditutupi, atau jika mau ngeluarin gas ya keluarin aja segera demi kesehatan tubuhnya. Memang bukan salahnya karena toh para manusia diatas adalah bukan urusannya, dan tentunya yang membuat mereka celaka kebanyakan karena juga rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang cilakanya juga dibangun oleh manusia itu sendiri. Tidak perlu pansus-pansusan untuk hal ini, semua sudah mafhum bahwa bangunan-bangunan yang dibuat ala kadarnya itupun oleh waktupun bisa roboh apalagi dengan ditambahi percepatan guncangan yang semaunya. Masih terasa betul betapa guncangan selama satu menit saat gempa besar itu rasanya seperti ratusan tahun, dan sangat lama sekali.

Secara pribadi-pribadi berapa kecilpun guncangan itu pastilah membuat diri ingat akan sesuatu, sesuatu itu bisa rasa takut atau respon untuk menyelamatkan diri, atau malah menikmatinya. Sangat berarti memang meskipun dalam hitungan detik selanjutnya akan segera terlupakan karena selamat mungkin, atau karena melihat kerusakan sehingga hanya berpikir bagaimana harus memperbaikinya. Semuanya sama, meski secara korban dan kedahsyatan guncangan yang terekam dalam tulisan atau sejarah pada sepuluh besarnya adalah seperti yang diuangkapkan majalah lokal daerah Amerika ini, mengapa lokal karena bagaimanapun kita tidak pernah menganggap bahasa lain daerah di negeri begajul dengan bahasa asing, karena sebenarnya saat ini asing sudah tidak ada, sudah musnah:
  1. 1556: Shaanxi, China
  2. 1976: Tangshan, China
  3. 2004: Indian Ocean Tsunami
  4. 1920: Haiyuan, China
  5. 1923: Kanto, Japan
  6. 1948: Turkmenistan
  7. 2008: Sichuan Province, China
  8. 2005: Kashmir, Pakistan
  9. 1908: Messina, Italy
  10. 1970: Chimbote, Peru

Hmmm, begitulah betapa kita tidak tahu banyak akan apa yang terjadi di bawah sana... gempa, bencana, banjir, gunung meletus.. dari bawah semua ternyata, ketika bumi berguncang.