Sunday, January 31, 2010

for the love of god

Jangan lagi bicara cinta, ketika panggung teatrikal yang mementaskan pengangkatan sumpah jabatan dengan sebuah kitab suci yang di acungkan pada atas kepala para anak manusia yang katanya disebut juga sebagai anak bangsa, anak negara, untuk menjadi para pemimpin bangsa dan negara. Janganlah bicara masalah sumpah apalagi serapah ketika buku suci tersebut yang dimaknakan sebagai perwujudan tuhan yang maha kuasa, untuk menjadi wakilnya dalam memimpin dan mengimami bangsa baik secara administratif ataupun bathiniyah secara kebatinan perbangsaan dan kenegaraan yang tumbuh suci tanpa bisa dihindari karena lahir dan numpang hidup serta numpang mati di bumi yang tentu saja bukan milik manusia ini.

Dengan adanya buku suci untuk mendengar sumpah itupun secara wujud semuanya mengakui akan keberadaan dosa maupun ketuhanan yang setuhan-tuhannya, tuhan yang tidak tidur, tidak bisa ditipu apalagi dikorupsi pahalanya dengan naik haji atas biaya negara yang tidak lain adalah biaya tuhan sendiri, mungkin salah kaprah ketika konteks ini nantinya dipalikasikan bahwa uang yang dikorupsi dan dihilangkan pada bank centuri yang tidak bertuhan itu adalah uang rakyat karena semua yang berusaha di bumi tuhan harus disahkan dan dilegalkan minimalnya atas nama notaris, belum lagi hak oesaha atau ijin gangguan yang tidak perlu lagi harus minta ijin pada tuhan, ataukah mereka yang kita minta ijini itu adalah perwujudan tuhan juga, entah... siapa tahu dan siapa sangka kenapa harus membayar pula.

Ataukah mereka menganggap bahwa buku itu hanyalah sebagai benda saja, sebuah barang yang dihasilkan dari penebangan pohon disana, kemudian dicetak menjadi kertas kemudian dirangkai dan dimasukkan ke percetakan untuk bisa di beri font-font yang akhirnya noktah-noktah tinta itu bisa menjelma dan dibaca untuk ditafsirkan sebagai perwujudan sesuatu yang maha dahsyat, demi pelanggengan kekuasaan ataukah itu hanya trik politik belaka sebagaimana kemudian yang dipraktekan dalam menjalankan tugas negara yang disederhanakan menjadi sebuah amanat kepartaian, amanat korps dan amanat-amanat lainnnya yang kemudian malah melupakan apa yang menjadi sumpahnya.

Mungkin ini pulalah yang menjadikan betapa kehidupan yang hanya salah sebuah bagian dari keberadaannya harus diperjuangkan namun bukan kehidupan itu sendiri pula, karena kehiduan ini adalah sebuah soneta tuhan, dimana dimainkan dengan berbagai alat dan mahluk bernama suara yang macam-macam sehingga bisa dinikmati menjadi sebuah ritme, baik ritme atas nama pribadi, golongan maupun kebangsaan. Jika salah satu dari banyak alat itu dimiskinkan atau di disable, hmmm.. mungkin jadinya bisa seperti ini yang kita rasakan dalam berbangsa dan bernegara yang ritmenya kian ganjil saja.

Betapa banyak suara minor dan fals yang diucapkan, bahkan dengan bangga dan tanpa sedikitpun mimik wajah bersalah atau menyesal dalam menyatakan pernyataan-pernyataan yang sama sekali tidak ingin didengarkan dan salah dalam arti yang sebenarnya. Oh.. betapa negara ini belum bisa memadukan musik baik atas nama tuhan ataupun atas nama kelaparan yang tak lama lagi akan berubah menjadi 'bulk chaos' meskipun tak ada yang menginginkannya. Ataukah akan semakin banyak para 'conthonger' yang multi talent dan bisa memainkan banyak alat musik akan terkena stroke dan serangan jantung... hmm... we'll wait and see aja... tapi lagu dibawah ini enak loh...