Friday, August 21, 2009

bulan puasa

Tak akan pernah habis untuk menguak dan menguliti bulan ramadhan, bulan penuh berkah dan keajaiban bagi mereka yang mampu memikirkan dan melihatnya. Sebulan lamanya orang-orang yang berusaha mencari cinta dan memahami arti beragama serta bertuhan. Dalam kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di awal pendirian sebuah agama besar di dunia langsung dari surga melalui perantara utusan-utusan berkelas. Bahkan pernah ada cerita pula tentang kekaguman seorang nabi yang mendapatkan informasi tentang keunggulan bulan ini.

Keharuman ramadhan sepertinya juga setiap tahun selalu bergema entah sampai kapan, dirayakan dengan macam-macam kearifan lokal dan kemampuan. Hingga kadang aneh juga melihat betapa malahan banyak orang terjebak untuk merayakannya bukan menghayati dengan kesederhanaan yang disukai sang pencipta. Siapa yang mau mengabulkan doa orang yang saling meninggikan diri dengan gengsi tanpa melihat lingkungan sekitar yang pincang. Kesalehan-kesalehan sosial kadang tidak mempan untuk menjadi sebuah keemasan jaman meskipun katanya mereka puasa sebulan penuh. Memang bulan ramadhan adalah bulan puasa, dan setelahnya akan diakhiri dengan perayaan Ied dengan arus lalu lalang lintas daerah dari kota ke desa yang naudzubillah.

Bulan kesalehan ini akan dipenuhi dengan penggeropyokan lokalisasi, bar dan salon-salon, tanpa melihat apakah yang berkuasa dan berwajib adalah aparatus negara. Kadang jika menyaksikan hal seperti ini mafhum rasanya apabila di sini bercokol jaringan-jaringan terorisme dari kelas teri hingga kelas kakap. Cara-cara penyelesaian masalah dengan pragamatis langsung pukul tanpa memikirkan solusi untuk berperikehidupan yang layak dan sentosa tanpa ada rasa saling ancam dan menghormati privasi sesama manusia.

Betapa nikmatnya hidup para teroris atau pengajar-pengajar kesesatan dalam kekerasan, mereka dibiarkan saja hidup berkeliaran dengan kadang dimanfaatkan untuk membacking sesuatu permasalahan, memang hidup sudah semakin sulit disini, dan setiap orangpun tahu bahwa semuanya memang dibiarkan sebagaimana ayam yang dilepaskan dari kandang untuk berjuang hidup sendiri. Betapapun agung dan genuine dari atas sebuah ajaran agama ketika berhadapan dengan realitas sosial, maka manusia sendirilah yang menentukan, sebagaimana semua orang dituntut untuk berilmu tinggi, namun tak ada cara-cara atau metode-metode untuk membantunya. Mereka sudah kehilangan sosok yang dipercaya, sebab ketika muncul orang yang dapat dipercaya tidak membutuhhkan waktu lama bagi mereka untuk berpikir dan berubah haluan untuk menjungkalkannya.

Semoga di Ramadhan 1430H semuanya bisa menemukan pencerahan masing-masing, ketika sudah berduyun-duyun mendapati kesalahan dan penipuan besar-besaran dalam skenario besar yang sangat memuakkan. Namun apakah memang jika sudah kepalang basah ceburkan diri sekalian. Ah... semoga saja tidak dan semuanya memang sudah berjalan ke arah yang benar, benar dan sudah tidak bisa mundur lagi, karena memang tidak ada yang salah... karena perbedaan adalah rahmat, maka kapanpun mulai puasa dan kapan mengakhirinya seharusnya tidak ada permasalahan, bahkan untuk cara pengamalannya. Selamat menjalankan puasa.