Friday, June 12, 2009

Brother in Arms

Brother in arms, persaudaraan bukanlah hanya timbul karena untuk membela kepentingan atau peperangan tertentu. Persahabatan ala brother in arm itu bisa muncul dimana saja dan untuk apa saja, meski hanya diangan-angan ataupun karena dipertemukan dari dunia maya tepatnya blogosphere yang entah mengapa akhir-akhir ini juga dilirik oleh para pemanah rembulan, ataukah karena banyak kisah sukses meskipun hanya memberikan noktah-noktah kecil bagi perkembangan informasi tehnologi di pedesaan semacam yang diusung oleh para pandemen Jogloabang dengan rencana dan visi ke depan beserta keniscayaannya.

Semua manusia dilahirkan bukanlah untuk menjadi pecundang, mereka harus bisa berjuang untuk menjadi pemenang, meski harus melalui perjuangan persaudaraan bahkan perang dalam bentuk yang sebenarnya maupun dalam bentuk ideologis sebagaimana para ksatria lakukan di negeri ini. Banyak cerita besar di negeri adiluhung itu yang semuanya berakhir dengan perang besar, perang atas nama ideologi maupun untuk memberantas sesuatu yang tidak diinginkan, salah satu seleksi alam dan ujian untuk menapaki jenjang memang tidak harus dalam bentuk perang yang gila-gilaan dan berdarah-darah, perang juga dilakukan dengan cinta, sebuah pukulan dengan cinta yang dalam dapat mematahkan dan membumihanguskan semua angkara di muka bumi, percayakah?

Mencintai bumi dan lingkungan tempat kita semua dilahirkan akan melahirkan sebuah perang baru, sebuah perang kepentingan antara para tukang sedot kekayaan bumi dan para pecinta bumi lingkungan yang memiliki visi tidak neko-neko, tidak harus memperkaya diri dengan merusak lingkungan sekitar namun bagaimana akan mengembangkan apa potensi yang ada tanpa harus merusak keindahannya serta jika bisa malah harus memperindahnya, menjadi sesuatu yang lebih berharga, bukankah keindahan juga bisa mendatangkan sebuah kekayaan bathin, sebuah kekayaan yang tidak usah dititipkan di bank untuk dibungakan dari para peminjammnya yang juga dengan semena-mena mengejar target tayang meski harus melobangi bumi hingga muncul sebuah danau panas besar di jawa, sebuah monumen raksasa angkara murka dari dasamuka berwajah seribu dari bajingan perusak perut bumi sampai bajingan politik.

Begitupun dengan cara pandang ekonomi kerakyatan yang sangat berbeda perspektif antara masyarakat desa dan penguasa panggung ekonominya sendiri. Betapa mereka mengira sebuah tempat warung angkringan adalah sebuah bentuk ekonomi kerakyatan, yang menunggu jualannya memang seorang rakyat, namun tahukah anda siapa yang memiliki warung itu,dan tentusaja karena kadang tingginya harga sepincuk nasi kucing itu sekarang, hanya orang-orang bohemian sajalah yang suka bertandang ke angkringan. Perang ekonomi dan prestisenya sedang terjadi di depan mata kita sebuah perang besar bertabur bintang, dan bertabur masalah di ladang pembantaian kemelaratan.

Melarat bukan dosa dan kesalahan, bagaimana tidak melarat ketika semua harga kebutuhan menjadi naik tinggi tanpa diketahui sebabnya, sementara yang sedikit tertolong hanyalah yang akan menerima gaji ketigabelas bulan depan, mengapa gaji ketigabelas itu ada dan dibulan pertengahan tahun entahlah mungkinkah itu postingan terjadwalnya si Suwung, hahaha pikir sendiri deh... ada atau tidak gaji ketigabelas itu nanti bagian keuanganlah yang tahu. Melarat secara ekonomi masih tidak masalah di bumi ini bagi para brother in arms orang-orang desa seperti itempoeti, kecakot, xitalho, ciwir, superaman. Mereka semua harus bisa hidup mandiri berperang menantang kehidupan, sebuah kehidupan yang sudah tidak murni lagi, kehidupan yang sudah tercemar kejahatan kapitalisme global, sebuah kehidupan susah yang diamini oleh para petinggi bangsanya, bukan dibela dengan darah dan upaya tapi dengan hutang yang entah siapa yang menyetujuinya, bahkan mengajak untuk dilanjutkan..., betapa semua harus menyatukan langkah dan persepsi waras tentang kehidupan atas nama janji tuhan yang dengan semena-mena telah dinistakan dengan konsep-konsep duniawi atas nama ekonomi, politik dan kekayaan. Bah... memang logika kesejahteraan memiliki matahari yang berbeda dengan logika kerakyatan.



Brother in Arms
Mark Knopfler - Dire Straits

These mist covered mountains
Are a home now for me
But my home is the lowlands
And always will be
Some day you'll return to
Your valleys and your farms
And you'll no longer burn
To be brothers in arms

Through these fields of destruction
Baptisms of fire
I've witnessed your suffering
As the battles raged higher
And though they hurt me so bad
In the fear and alarm
You did not desert me
My brothers in arms

There's so many different worlds
So many different suns
And we have just one world
But we live in different ones

Now the sun's gone to hell
And the moon's riding high
Let me bid you farewell
Every man has to die
But it's written in the starlight
And every line on your palm
We're fools to make war
On our brothers in arms