Saturday, May 23, 2009

emosi biner

Entah sebuah mahluk nyata ataukah hanya sebuah kartun yang muncul dari bayangan benda yang bisa memiliki pikiran, bukan di kepala namun di dalam dada, entah bagian yang mana, namun bisa memerintahkan otak untuk membuat nafas menjadi sengal, jantung berdebar, pipi memerah, hingga raut muka yang berubah ceria, bahkan seluruh tubuh menjadi segar meski dua hari tidak tidur ketika mendengar, melihat, ataupun hanya sekedar bertemu melalui gambar ataupun tulisan di kaca LCD berbentuk kotak lebar, yang sebentar lagi akan diharamkan.

Kotak kaca beserta para sahabatnya didalamnya yang memiliki otak buatan, ingatan buatan dan kabel-kabel aneh, serta alat vital untuk menangkap gelombang frekuensi entah HDSPA, HSUPA, ataukah 2,4 GHz, bahkan mungkin malah paket panjangl yang berisi delapan kabel yang terhubung dengan konektor RJ 45 itu melalui sebuah ether penerjemah mengakrabi sebuah HUB yang menuju server dan router untuk membagi jalinan kasih yang terpisah bermil-mil jauhnya, jalinan kasih dan cinta yang dienkripsi dengan kode-kode sekuriti meski nantinya hanya akan mengirimkan gambar diam, gerak hingga suara, atau sekadar teks pembawa emosi, terutama emosi yang diwakilkan dalam bentuk aikon-aikon yang aeng-aeng itu. Benar-benar membuat dua buah prosesor dada dan kepala menjadi belingsatan, hingga tidak dapat menipu siapapun ketika mata ini terbelalak dan mulut yang mengeluarkan suara-suara misuh hingga ngakak, yang tentunya juga menimbulkan efek biologis tertentu seperti perut yang jadi kejang, mulut yang kering sehingga pemenuhan kebutuhan primer akan santapan dan minuman harus terpenuhi juga disamping kebutuhan eksternal seperti listrik yang dipasok oleh PLN dan harus dibayar setiap bulannya, belum lagi biaya pengaliran gelombang dari server ke kaca LCD di depan mata ini.

Begitulah, mungkinkan kita ini aktor intelektual dibalik huruf-huruf efek dari pencetan deretan QWERTY di kotak kibor, ataukah korban hantaman kibor dari jarak yang demikian jauh meski hanya berbentuk abjad yang menjadi kata-kata hingga menjadi kalimat, tak berbunyi secara harafiah namun menggema dalam kepala dan dada. Aneh..., ataukah aktor sekaligus korban, ciyeleng bener. Informasi itu mungkinkah sebuah mahluk atau perpanjangan tangan yang tidak terlihat secara nyata, meracuni, membuat mabuk, dan menyuruh kerja paksa neuron-neuron di kepala dan rangkaian emosi dalam dada. Menjadi sebuah mahluk lain yang sama sekali berbeda dengan ketika belum mengenal alat-alat ini.

Ataukah ini sihir sehingga bisa menciptakan sensasi haram yang selalu dicari-cari untuk memutus rangkaian percepatan informasi. Mengapa ketika mendapatkan sesuatu yang memudahkan harus dikembalikan lagi kepada sesuatu yang rumit, sebuah sihir bentuk lain yang muncul dari dogma-dogma tanpa hati dan akal yang alamiah, namun dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kekuatan untuk mengikat, ya kembali lagi pada kekuatan yang memaksa, seperti ketika pohon beringin itu subur dengan pasukan dan hulubalangnya yang juga subur dari guguran daun-daun kering yang bersetubuh dengan tanah menjadi humus, yang kemudian dijual ke pasar dan menjadikan tumbangnya pohon itu sendiri,.... ah malah ngelantur....

Ternyata ketukan huruf demi huruf itu meski berasal dari jarak yang harus ditempuh beberapa jam jika naik hercules jika tidak jatuh, mampu menembus ubun-ubun hingga ulu hati, menciptakan sebuah penantian tawa, emosi bahkan kerinduan persahabatan maupun cinta yang serasa selalu dipupuk hanya dengan ketukan demi ketukan huruf maupun kode biner yang bisa menciptakan warna dan bentuk wajah... ah pohon rapi tersimpan itu kembali bersemi dengan tautan frekuensi 2.4 GHz atau kadang kabel fiber optik, makin membahana dan mendera sendi-sendi tubuh dan jiwa, betul kata Einstein, energi tak pernah ingkar janji... (lmao)

Mengucapkan selamat berbahagia kepada Mas Seno dan Mas Genthokelir, atas kelahiran para juniornya pada Jumat, 22 Mei 2009. Semoga menjadi penerus keluarga yang membahagiakan kedua orang tua, lingkungan dan bangsa ini, Amin.