Saturday, April 11, 2009

Rakyat Jelita

Lima menit untuk lima tahun serasa menghantui juga ketika memberangkatkan diri menuju ke TPS di depan rumah, cuman 25 meter tapi kok sepertinya kaki dan otak ini tidak mau mengakui juga apa artinya suara atau centhang dari mahluk seperti ini, bagaikan debu yang gak pernah kelihatan bahkan hanya diakui saja ketika melakukan kesalahan semisal ketangkep operasi kendaraan bermotor di jalan, sidang masalah HO dan segalanya yang berbau negatif saja. Perlu digaris bawahi bahwa ini hanyalah perasaan seorang rakyat jelata, yang tidak pernah dipikirkan bahkan diperjuangkan oleh para politikus saat ini, karena mereka hanya memikirkan dan mendambakan rakyat JELITA setelah sukses masuk ke apa yang mereka tuju, bukan hoax tapi semua masyarakat juga melihat betapa rakyat jelita telah dipakai untuk menarik massa dan suara pada masa kampanye.

Meskipun dari gubuk saya menggandeng dua orang rakyat jelita versi pribadional saya, namun perasaan kekurangan bekal untuk mencentang selalu saja menggebuk kepala selangkah demi selangkah hingga akhirnya sampailah kami sampai ke TPS. Tidak perlu antri karena memang hasrat mencontreng eh mencentang memang sudah luntur sepertinya. TPS sepi tidak ada orang yang mencoba ikut berpesta layaknya pesta demokrasi pada masa lalu, sudah tidak ada yang pedulikah sama nasib negara, entahlah yang jelas saat ini kebijakan dari atas memang seperti sudah diset seperti ketika blooger mau posting terjadwal. Sebelum pemilu harga BBM turun, kemudian sekolah gratis bahkan nanti menjelang pilpres ada lagilah mestinya yang sudah dirancang dan dijadwalkan publish kebijakannya.

Jadi mengapa harus terdogma dengan arti kalimat lima menit untuk lima tahun, lah semua sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga kita pada saatnya nanti hanya akan menatapkan mata hati kita pada satu sosok figur, figur penyelamat harga, ekonomi, keamanan, walah... memang itu bukan sebuah kerja tim, dan memang jika pikiran tidak gila. Jika amanah tentunya semua yang terbaik untuk masyarakat banyak adalah hal yang tidak perlu dijadwalkan dan direkayasa untuk kemenangan yang hanya lima tahun juga. Entah mengapa juga alam sang ibu kehidupan selalu lebih waspada dan memberikan peringatan dengan caranya sendiri bagi bangsa ini untuk selalu eling akan kehidupan, bukan hanya tentang kekuasaan semata.

Bingung dan pusing membuka kartu suara yang menurut saya malahan sebuah poster suara, blaik besoar sekali, dan cilakanya makin bingung lagi tidak ada orang yang saya kenal dengan baik, kemudian mengapa ada sebersit idea di kepala saya. Loh lima menit untuk lima tahun itu bukan untuk saya, tapi untuk poster di depan mata saya ini..., wah celaka. Sedekat-dekatnya dengan orang itu pastilah dia memiliki atasan dan kelompok apalagi aturan main legislatif, kemudian ranjau eksekutif dan birokratisme. (doh) pusing kepala ini, benar lima tahun ini untuk mereka bukan untuk saya, karena dengan dua rakyat jelita kepunyaan saya itu hanya kamilah yang bisa menentukan, bahkan tanpa sentuhan tangan mereka, ya hanya kita sendiri, untuk kehidupan kita sendiri.

Paling maksimal hanyalah dapat proyek yang full dengan potongan sana sini situ, sebagai tambahan untuk mengurusi rakyat jelitanya, yang sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Memang hidup makin sulit, lebih-lebih ditambah ramalan mama lorent yang mengatakan bahwa penduduk dunia akan berkurang separohnya, walah... meskipun sudah sepantasnya karena separo lebih penduduk dunia saat ini kayaknya memang sudah tua-tua... wakaka... bagi yang sukses kepilih jadi pemimpin jangan melupakan rakyat jelata yang memberimu dukungan suara, bukan cuma rakyat jelita yang akan memberimu bom waktu.