Monday, March 23, 2009

Anarkhisme semprul

Anarkhisme semprul Anarkhisme semprul Anarkhisme semprul Anarkhisme semprul Anarkhisme semprulMenjalani hari demi hari, seakan menghilangkan detik demi detik kehidupan, betapapun detik adalah bagian dari semuanya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan seakan berjalan tanpa arti, secepat kilat tahu-tahu sudah perpindahan tahun.

Begitu cepatnya waktu terasa, hilang begitu saja meninggalkan warisan dan ternak lupa untuk berkembang biak setiap saat, ternak anarkhisme peristiwa demi peristiwa, akhirnya tidak berbuah sama sekali, buah yang memiliki makna nyata. Buah peristiwa yang bisa dipetik oleh anak cucu, seandainya masih diberi kesempatan untuk berketurunan.

Dengan bodohnya menerima kemajuan tehnologi, sikat semua, yang tidak punya berarti katrok, bodoh, ketinggalan zaman. Memang manusia sudah sakti semua saat ini, sarapan di Solo, makan siang di Manado. Berkomunikasi tanpa batas yang berarti, mungkin hanya banwidth yang membedakan kasta saat ini. Tapi kuatkah kita semua menerima dan mempergunakan dengan bijaksana.

Anarkhisme bukan hanya sebuah utopia pikiran semata, namun diadopsi oleh banyak pihak bahkan yang merasa paling anti sekalipun. Prosessor sebuah komputer yang menemani kita adalah korban anarkhisme, baik dari kita sendiri maupun secara massal dan digaungkan lewat media secara anarkhis pula. Buang mesin lama, sudah tak berguna, kurang cepat, kurang pintar, ketinggalan jaman... entah apalagi cacian untuk sesuatau yang ketinggalan jaman. Mengapa, entah mungkin kita korban dari anarkhisme yang tak terlihat di atas kita. Sebuah kekuasaan berbalut tehnologi yang super mahal dan super bengis.

Anarkhi dalam menebang dan mengeruk kekayaan alam, meskipun anak Sekolah Dasar pun tahu bahwa hutan harus dilestarikan. Pembuatan jutaan surat suara tanpa berpikir kenapa bukan dengan kertas bekas, karena hanya dalam jangka waktu beberapa saat saja kertas itu akan tidak bermakna sama sekali. Serta berapa pohon dan kain yang bisa untuk dipergunakan sebagai papan dan sandang jutaan orang dibiarkan begitu saja membusuk dan rusak ditepi jalan.

Bahkan pernah terjadi dengan anarkhisme hitam ketika jutaan manusia harus meregang nyawa dan keturunannya tidak diakui sebagai warganegara, sementara itu bukanlah dosa dan kesalahannya. Sehingga banyak prosesor yang cukup canggihpun dihilangkan untuk diganti dengan prosesor artifisial intelijen yang bisa mengadopsi kapitalisme dengan anarkhisme bentuk lain. Dengan pongah prosesor baru itu mengibarkan hutang sebagai mesin komputer besar tersebut, untuk dapat terhubung ke dalam jaringan internasional, meskipun harus dibayar dengan masuknya trojan-trojan yang juga merusak sendi-sendi kehidupan budi pekerti.

Rasa berbangsa ini sudah berubah, seiring dengan pertumbuhan anarkhisme tehnologi. Meskipun katrok berusaha juga meniru Berry Obama untuk ngeblog dan Fesbuk, tanpa latihan dan tanpa proses yang alami, seakan semuanya dipaksakan untuk harus bisa ini dan itu.

Proses menjadi memiliki makna ketika kita hendak memberikan pilihan. Entah apa pilihan anda sudahkah anda menyadari prosesnya, sudah anarkhiskah kalian dengan diri anda sendiri. Berbahagialah ketika masih bisa merasakan proses itu meskipun minggu demi minggu saat ini terasa bagaikan hari demi hari, seakan menistakan ingatan akan masa lalu. Atau memang sudah demikian berbedanya anarkhisme hari ini...