Tuesday, March 31, 2009

Air

Air mengalir tenang itu kini mendapati tikungan dan jeram dengan batu-batu besar yang menghambat lajunya. Bagaimanapun air harus bisa memenuhi raungan yang ada untuk kemudian bergerak lagi melanjutkan perjalannya hingga ke tujuan. Sungai yang tadinya luas dalam dan tenang akan menjadi ganas ketika menemui sebuah cerukan atau sempitnya ruang untuk mengalir, bergerak dan berekspresi.

Bagaimanapun air memiliki kekuasaan untuk meratakan dan membuat nyaman dirinya sendiri. Tanpa pandang bulu siapa yang didepannya akan dihempaskan dan dihancurkannya. Naluriah dan alamiah, tiada kata permisi dan peringatan awal akan kedatangannya, sudah begitula hukum alam. Untuk mencari kesimbangan serta keharmonisannya sendiri. Tanpa perlu campurtangan siapapun.

Seakan seluruh mahluk di alam ini memiliki otak dan imajinasinya masing-masing. Betapa indah liukan dan pemandangan yang dihasilkannya begitu artistik, mencengangkan hingga kita hanya bisa berdecak kagum, mencoba untuk menelaah untuk berpura-pura relijius atau malah mengagumi alam sebagai tuhan itu sendiri. Air bisa memilih sendiri mana barang empuk, keras atau yang tidak bisa dikalahkan sekaligus sebagai ruang bermainnya. Bumi dapat dengan lihai memfasilitasinya secara adil, bahkan memberitahukan kepada manusia melalui keindahan, eksotisme berjenjang sebagaimana referensi penikmatnya.

Ada istilah entah milik siapa, semoga tidak copyrightnya “jalani hidup mengalir sebagaimana air dari hilir menuju ke hulu”, “air beriak tanda tak dalam” dan banyak lainnya. Namun orang China lebih memilih untuk menguasai air dengan lambang teratai yang selalu hidup dan perkasa di atas air. Secara air menjadi simbol-simbol kehidupan bahkan 80 prosen dari manusia terdiri dari air, serta bumi sendiri yang memiliki air begitu banyaknya.

Bumi sebagai guru kehidupan bahkan mungkin kehidupan itu sendiri memiliki perlakuan khusus terhadap air untuk dapat selalu bercengkerama, bersinggungan, mengekspresikan dirinya dalam kehidupan bersama tanah, api, dan udara. Manusia sebagai pengguna atau penikmat kehidupan ini kadang terlalu congkak dan merusak elemen-elemen hidupnya sendiri untuk sesuatu yang berada diluar kehidupan itu sendiri, sebuah imajinasi dan angkara murka.

Tidak memerlukan waktu lama bagi bumi untuk mencapai keharmonisan dan keselarasannya, dan memiliki cara dan metodenya sendiri untuk mewujudkannya, tanpa peduli siapa penikmat maupun penggunannya yang acapkali melupakan bahkan menistakan upaya restorasi alamiahnya dengan menamakannya sebagai “BENCANA ALAM”