Thursday, February 12, 2009

Sorry Day, setahun sudah arrgh ... andaikata...

Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry Day Kevin Rudd on Sorry DayPidato PM Australia Kevin Rudd, pada 13 Februari 2008, setahun yang lalu yang dikenal juga sebagai Sorry Day.. entah sebenarnya kan tanggal 26 Mei dan bukan hari libur nasionalnya mereka... mencoba refleksi dan menginternalisasi semangatnya... halah...
That today we honour the Indigenous peoples of this land, the oldest continuing cultures in human history.
We reflect on their past mistreatment.
We reflect in particular on the mistreatment of those who were Stolen Generations—this blemished chapter in our nation’s history.
The time has now come for the nation to turn a new page in Australia’s history by righting the wrongs of the past and so moving forward with confidence to the future.
We apologise for the laws and policies of successive Parliaments and governments that have inflicted profound grief, suffering and loss on these our fellow Australians.
We apologise especially for the removal of Aboriginal and Torres Strait Islander children from their families, their communities and their country.
For the pain, suffering and hurt of these Stolen Generations, their descendants and for their families left behind, we say sorry.
To the mothers and the fathers, the brothers and the sisters, for the breaking up of families and communities, we say sorry.
And for the indignity and degradation thus inflicted on a proud people and a proud culture, we say sorry.
We the Parliament of Australia respectfully request that this apology be received in the spirit in which it is offered as part of the healing of the nation.
lengkapnya ada di sini dan videonya disini.

Perjuangan kaum aborigin atas diskriminasi dan perlakuan buruk orang kulit putih disana mulai tahun 1770 dan baru sukses pada 13 Februari 2008, meskipun pada tahun 1998 sudah ada laporan dari Komisi hak asasi dan persamaan kesempatan yang bertitel "Bringing them home", yang mencatat kisah-kisah oral history dari para korban. Betapa kata "maaf' menjadi suatu penyembuh meskipun secara simbolik bagi para indigenous people bangsa Aborigin pemilik tanah Australia yang hak, beserta implikasi-implikasi tindak lanjut setelahnya. Dimana mereka menjadi the stolen generation karena dicerabut dari tanah dan keluarganya untuk dimasukkan ke lembaga-lembaga maupun rumah-rumah tangga untuk dididik menjadi seorang kulit putih, sempat difilmkan dalam Rabbit-proof fence sebuah kisah dari buku Follow the Rabbit-Proof Fence oleh Doris Pilkington Garimara.

Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie posteratas: poster film Rabbit-proof fence . bawah : pagar kelinci pada tahun 1927

Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster Rabbit-proof fence movie poster
Tentang seorang anak aborigin yang dicerabut dari keluarganya kemudian setelah besar ingin mengetahui asal-usulnya, namun yang dia ingat hanyalah pagar pembatas kelinci yang ternyata panjangnya ribuan kilometer, hingga dia... entah saya baru akan melihatnya bulan juni besok... wakakaka.... dan musiknya pun yang nggarap Peter Gabriel wah... nggak sabar nih nunggu kirimannya...
Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_poster Sorry_Day_posterSorry Day poster

Sebelum palentin ini saya berandai-andai jika dinegeri kita bisa melakukan "sorry day" untuk kesalahan-kesalahan yang dilakukannya pada rakyatnya sendiri, memang pernah dilakukan oleh Abdurrahman Wahid tapi malah menjadi alasan untuk melengserkannya... celaka deh, ketika dia meminta maaf untuk permasalahan 65, namun sukses juga meski juga dicaci maki ketika mengganti nama irian (ikut ri anti nederlan) menjadi papua, sang begawan dan bangsa ini memang harus terantuk tembok keras dan senapan untuk menjadi bangsa yang waras dan damai, tanpa anarki yang sudah tiap saat dilirik oleh Salma Hayek, Breastfeeding and One Very Public Service dewi kekerasan.... semognya semoga...

Illustrasi comot sini, sini, sini dan sini.

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009