Friday, January 9, 2009

tidak100 persen mulus

Untuk yang kedua kalinya aku mendapat kesempatan menjemput Sang Begawan untuk memberikan pemikirannya dalam bentuk kata-kata baik kepada lawannya atau para sohibnya yang kebanyakan adalah anak muda yang haus akan pluralisme maupun tentang akar-akar kebangsaan di negeri antah berantah ini.

Sang Begawan yang memukau ketika berada di dalam forum ini, memiliki banyak sekali penggemar dan penganut sehingga meskipun sudah janjian bisa jadi akan keduluan orang lain yang juga mengincarnya. Pengalaman pertama, dulu ketika akan mempertemukan Sang Begawan ini dengan Begawan lainnya berjuluk Pramoedya Ananta Toer, sangat lucu dan menggemaskan sekali.

Bandara Adisucipto sebagai lokasi interseksi penjemputan sudah kami kepung agar Sang Begawan ini tidak lolos dari genggaman, namun apa lacur, ternyata gerombolan sipil ini tetep saja kalah dengan rombongan yang empunya bandara, sehingga selama beberapa jam kami termangu-mangu kenapa kok bisa ilang begitu cepat...ternyata salah satu petinggi di jawatan seragam biru itu memerlukan kepandaian beliau untuk menikahkan anaknya.

Tidak berapa lama kami sudah bersamanya di rumah putri Sang Begawan, ternyata beliau ini sangat kangen dengan cucu pertamanya. Keadaan sudah tenang dan beliau mau segera berangkat ke Bulaksumur untuk bergabung dengan Pram, walah ...di jalan Sang Begawan mengubah arah ke Kaliurang untuk beli pecel (padahal di Kaliurang lebih kondang jadah tempenya ...), sementara acara sudah dimulai... rasa putus asa dan adrenalin semakin campur aduk di kepala para bandit ini, namun kami berpikir positif bahwa Sang Begawan memiliki maksud baik dan positif.

Hingga akhirnya pecel kami dapatkan di sebelah utara kampus, untuk kemudian kami haturkan sebelum memasuki arena pertempurannya dengan Gus Pram (kata Gus Sang Begawan), dan benar ...ketika Sang Begawan masuk arena, semua tatanan dan formalitas yang sudah ditata dan disiapkan langsung acak-acakan dan semrawut seperti rambut dan sprei dua sejoli mabuk viagra.

Semua sorot mata tertuju kepadanya, memang betul juga kalo Sang Begawan ini sudah datang maka akan membuat jalannya acara menjadi lain. Nah... pada kali kedua ini, aku sudah pengalaman, sehingga begitu turun dari pesawat harus segera di pegang agar tidak kemana-mana, meskipun begitu masih juga keduluan seorang Gus lain, untung bisa diatasi, namun tetep aja minta untuk didampinginya ke acara, dan alhamdulillah berjalan lancar hingga selesai sesuai pesan yang diberikannya dengan tambahan yang lebih banyak lagi.

Humornya ketika ngobrol pas penjemputan, Sang Begawan menceritakan kenapa orang harus memanjatkan doa, sambil menahan tawa dia menjawabnya "karena doa tidak bisa memanjat!" kemudian ketawa lebar .... dan tertegun ketika saya seloroh "...memanjat selesai!", sambil deg-degan, namun kemudian untungnya dia ketawa juga.... huahahahaha....