Monday, January 19, 2009

Teror

Aksi terorisme terjadi.... kabooom.., kemudian kutukan terhadap tindakan itu pasti bermunculan dari siapapun. Namun tidak lama kemudian, aksi serupa berulang kembali. Setali tiga uang, perang terhadap kejahatan kemanusiaan diserukan dengan lantangnya oleh berbagai lembaga dan negara di dunia, namun kehidupan saat ini sudah selalu dibayang-bayangi oleh aksi-aksi teror yang sama sekali tidak ramah lingkungan dan user friendly (wakaka..).

Sebagai sebuah perbuatan biadab, kita tentu memiliki kewajiban moral untuk mengutuk perbuatan onar yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan universal dan substansi ajaran-ajaran keagamaan . Namun kutukan dan pelaknatan saja tentu tidak cukup. Juga aksi-aksi frontal melawan gerakan ini jelas tidak pernah cukup, sebab teror bukanlah sebuah virus atau binatang, - seperti dalam pelajaran biologi saja, banyak tikus maka harus melepas ular di sawah-, bukan seperti itu seharusnya namun harus dikaji lebih dalam lagi secara holistik, adil dan obyektif, sebab ini melibatan manusia dengan manusia, bukan manusia dengan binatang atau virus penyakit.

Entah sengaja atau tidak, ereksi emosi dan kecurigaan kita diarahkan kepada fundamentalisme-fundamentalisme keagamaan, kesejarahan atau kedaerahan, tanpa peduli dengan apa yang pernah kita ucapkan, lakukan dan sangkakan. Hal ini semakin menjadikan penyelesaian masalah teror ini berkepanjangan dan tidak akan pernah selesai sebagaimana harapan dari otak konspirasi terorisme dunia. Serta semakin terjebak dalam apriori penyederhanaan persoalan dan segala macam fundamentalisme sebagai biang keroknya.

Mengutip dari Abd. A'la bahwa sekarang ini, pengembangan agama sebagai ideologi muncul bersamaan dengan dampak-dampak negatif yang dibawa kultur modernitas. Armstrong melalui The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity, and Islam (2000) menjelaskan dengan telak bahwa selain memberikan kemudahan, memperluas cakrawala, dan "memberdayakan" umat manusia, kultur modern juga sering menekan harga diri umat manusia.

Pada saat yang sama, pandangan manusia yang serba rasional yang menjadikan diri mereka sebagai tolok ukur segalanya dan telah membebaskan mereka dari ketergantungan kepada Tuhan mengantarkan mereka ke dalam kerentanan moral, serta kelemahan martabat diri mereka. Dalam kondisi seperti itu, akal (modernitas) terkadang (bahkan sering) menjadi demonik dan melakukan kejahatan sebesar atau bahkan lebih besar dari kejahatan yang dilakukan kaum fundamentalis. Keangkuhan sebagian negara Barat dan sepak terjang mereka yang sering melanggar hak asasi manusia di Dunia Kedua dan Dunia Ketiga tanpa sedikit pun merasa bersalah merupakan salah satu bukti konkret dari kejahatan para pembela kultur modernitas itu.

Gerakan ekstremisme ini senyatanya nyaris terdapat pada semua agama yang saat ini hidup di dunia modern. Sebagai secuil contoh, dalam agama Yahudi terdapat kelompok Ortodoks yang dipimpin Gordon yang menekankan perlawanan terhadap modernitas. Untuk itu, kelompok ini harus "bekerja keras" dalam kehidupan dunia, di mana tempatnya hanyalah Palestina. Daerah itu dalam anggapan mereka hanya milik kaum Yahudi, dan kaum atau komunitas lain tidak boleh menduduki tempat itu. Dalam dunia Kristiani, hal seperti itu dapat dilihat dari khotbah Dwight Moody dari kelompok Konservatif yang menyatakan bahwa Kristus akan datang dengan pakaian berlumuran darah dan akan menumpahkan darah umat manusia. Sejarah Islam juga mengenal adanya kelompok-kelompok radikal semacam itu.

Tidak mengecilkan permasalahan itu bahwa negara sampai saat ini masih menteror kita dengan permasalahan-permasalah yang aneh, seperti pendataan agama dalam kartu tanda penduduk, jenis kelamin (harusnya digambar saja), status perkawinan, gurita perpajakan, dan regulasi-regulasinya yang terkesan tidak saling berpagut-pagutan yang menghasilkan efek kenikmatan bagi rakyatnya. Belum lagi goyangan dalam bidang pendidikan, telekomunikasi, transportasi dan lain sebagainya, bahkan yang saat ini sedang hangat adalah mengapa Negara kepulauan ini tidak pernah belajar berenang dan kapal-kapalnya terus menerus tenggelam.

gambar courtessy of Mexican Movement