Sunday, February 1, 2009

Differently abled People

Entah mengapa aku teringat perjuangan masa lampau, seperti mahluk purba aja lampau .. huh .. padahal sampe detik ini juga masih..., sebuah kata dahsyat sedahsyat penemunya, kata itu adalah DIFABEL, tidak ada dalam kamus apalagi di translate.google.com nggak mungkin ada, lah memang diciptakan sendiri oleh almarhum Dr. Mansour Fakih, yang dulu adalah pegiat sosial dan ham, pernah juga menjadi komisioner di komnasham, entah tahun kapan sudah lupa....

Kadang hati kita terhanyut dan kasihan melihat seseorang, teman, keluarga atau kenalan baru kita yang buta, tuli, berkursi roda atau pakai alat bantu lainnya. Dari hal sepele ini - rasa kasihan -, ternyata malah membuat perasaan mereka itu tidak enak dan menciptakan sebuah jurang atau anggapan bahwa kita harus menolong atau lebih parah lagi menempatkan mereka sebagai individu yang berbeda dengan kita yang normal dan sehat -menurut kacamata kita- sehingga menciptakan sebuah kondisi untuk pembedaan terhadapnya, dan acapkali memang menganggap mereka itu CACAT, hal itu sangat menyakitkan sekali, terlebih dengan kata-kata yang diperhalus seperti tuna netra, tuna rungu dan lain sebagainya yang memberikan address kepada kondisi tertentu secara sepihak.

Perlu digarisbawahi memang kalo tuhan pada awal penciptaannya tidak menginginkan hal seperti ini terjadi, namun dalam perjalanannya (pembuahan, kesempurnaan kromosom dan kondisi kesehatan, kecelakaan, maupun kondisi lingkungan lainnya setelah lahir) yang menjadikan pendengaran bisa hilang, kebutaan dan lain sebagainya mengenai saudara-saudara kita itu. Namun bagaimanapun juga mereka tetap seorang manusia yang memiliki kemampuan dan hak-hak sebagaimana layaknya manusia yang lain, dan mereka sempurna pada kesempurnaannya sendiri.

Berangkat dari itulah maka seorang Mansour Fakih dalam memberikan istilah maha dahsyat bagi perjuangan mereka dalam merengkuh persamaan kemanusiaan yaitu DIFABEL (bukan disabled) sebagai singkatan dari Differently Abled People (orang dengan kemampuan yang berbeda), meskipun diantara para pejuang itupun ada dialog yang terus menerus terjadi namun para intelektual muda dari kalangan itu lebih setuju dengan kata-kata ini, sebagai orang dengan kemampuan yang berbeda, dan sekali lagi bukan orang sakit atau cacat. Termasuk dalam difabel ini adalah orang-orang tua, ibu hamil hingga anak-anak yang memerlukan perlakuan khusus.

Perjuangan memang sangat panjang dan saat ini sudah menghasilkan banyak difabel yang mandiri bahkan sekolah hingga tinggi sekali, bagi yang buta pun mendapat kehormatan dari nokia dengan kemampuan HP yang aksesibel, komputer dengan JAWS, dan penerimaan dari institusi pendidikan dengan pendidikan inklusif (inclusive education), dimana sekolah-sekolah biasa harus bisa menerima difabel dengan memberikan tambahan pelayanan khusus, tidak seperti SLB yang merupakan penjara bagi mereka yang sebenarnya pintar namun dianggap sebagai pesakitan. Tidak terbayangkan kemarahan mereka terhadap SLB yang selalu kekurangan dalam layanannya dan hanya menghabiskan dana depsos saja.

Meskipun begitu banyak orang masih tidak memahami arti perjuangan mereka, berbagai penolakan untuk masuk sebagai mahasiswa di UGM misalnya harus didemo secara besar-besaran oleh teman-teman, penolakan Gus Dur menjadi calon presiden karena dianggap tidak sehat jasmani dan rohani, walah..., serta berbagai diskriminasi lainnya benar-benar membuat bias hak asasi di negara ini.

Apakah kita sudah melek terhadap hak-hak dan kemampuan mereka, karena mungkin dalam hati para difabel itu jika disakiti juga bisa berdoa untuk masa depan kita dan keturunan kita apakah akan sepertinya.... yang tidak punya tangan, pincang, buta, tuli dan lain sebagainya....