Tuesday, January 27, 2009

Arisan

Rangsangan keempukan dan kehangatan syahwat kekuasaan semakin menjadi, mereka menawarkan bantuan untuk mendulang suara ke pelosok-pelosok desa, sehingga masyarakat pun ereksi terangsang akan ranumnya payudara bantuan tersebut yang bisa berupa seng, genting, aspal, paving, kaos oblong, hingga amplop putih yang isinya maksimal 50 ribuan, maklum untuk rakyat kecil uang segitu sudah terasa gede padahal mungkin hanya untuk membeli rokok untuk sekedar bersosialisasi dengan tetangga sekaligus kampanye caleg yang berjasa memberikan rokok kepadanya.

Masih ditambahkan lagi betapa penting dan halalnya ereksi kekuasaan ini dengan mengharamkan untuk tidak memilih - golput -, kemudian untuk menguatkan ereksi agar tidak impoten maka diharamkanlah rokok, yang sudah sopan sekali dengan menuliskan di setiap bungkusnya bahaya-bahaya merokok. Sangat disayangkan sekali kalau para pewaris tugas-tugas nabi terjebak dalam lingkaran pertengkaran yang tidak begitu penting ini, bukankah rokok juga menyumbang trilyunan rupiah pertahun ke negeri ini, berapa orang yang dihidupi olehnya, malang nasibmu seperti para TKI yang katanya pahlawan devisa namun ketika pulang ke rumah dari perantauannya masih dipalaki.

Kepada pak RT kukatakan bahwa boleh saja kita menerima bantuan dari para pemanah rembulan itu, asal bisa dipertanggungjawabkan sekaligus pendidikan politik bagi warga yaitu dengan rapat bersama dengar pendapat mana orang yang baik dan memiliki track record yang bagus, agar kita semua tidak salah pilih dan tertipu. Usulan-usulan yang cerdas memang muncul namun sepertinya gejolak golput itu sepertinya tidak terbendung lagi meskipun sudah diharamkan," yang mengharamkan itu ngawur mas", kata banyak orang maupun di internet. "Lah emangnya yoga itu makanan apa, dulu malah ada orang yang mengkaitkan gerakan solat dengan yoga, ada bau malingsia disini, weleh gimana to iki to...?".

Suasana arisan itu malah tambah ramai dengan wacana halal haram, malah banyak sekali yang harus diharamkan malah tidak digubris seperti kelakuan para anggota dewan yang tidak berpihak pada rakyat, menghambur-hamburkan uang negara, membuat berhala tentara, hingga yang lucu adalah pengeras suara di tempat ibadah itu haram karena membuat harga tanah jadi murah, membuat tidak nyaman dan meskipun suaranya keras tapi yang datang itu-itu juga... halah...kekekekeke.....

Meskipun lembaga itu hanya berdasarkan akta notaris dan kesepakatan tanpa embel-embel keputusan pemerintah atau apa, namun berani-beraninya mengeluarkan fatwa-fatwa yang aneh bin ajaib, untungnya masih mengharamkan coba kalo mengkafirkan tentunya akan membuat lebih heboh lagi seheboh goyangan inul dulu, dan membuat mereka akan ditinggalkan umatnya. Sepertinya dengan kondisi yang penuh ereksi, nafsu kekuasaan dan semakin menguatnnya kemiskinan akan memunculkan fatwa-fatwa aneh lagi di kemudian hari. Menentukan tanggal 1 ramadhan saja geger apalagi yang lebih abstrak lainnya, opo tumon...